Aceh Darurat Narkoba

Oleh Murizal Hamzah
Kami berada dalam kondisi dilema. Jika dilapor, putranya ditangkap oleh polisi. Jika tidak dilapor, ibunya yang dilapor oleh anggota kelompok. Demikian komentar seorang pekerja sosial dari Jepang kepada saya. Perempuan jepang itu memberikan bantuan kambing kepada keluarga miskin di Aceh Utara. Ini bantuan bergulir, yakni anak kambing tersebut diberikan kepada anggota lain. Yang jadi masalah, anak tersebut menjual kambing bantuan untuk membeli sabu-sabu. Dia ketagihan dan ketika itu, pada umumnya pemakai sabu-sabu cenderung melakukan tindakan kriminal.
Kita patut mengurut dada menyaksikan kedahsyatan peredaran narkoban dari jenis ganja, sabu, ekstasi dan sebagainya di Aceh. Bagaimana tidak, nyaris setiap hari ditemukkan generasi muda memakai berbagai jenis narkoba. Dampak lain jika sudah memakai narkoba, bisa ke mana-mana dampaknya. Akibat terburuk yakni dijebloskan ke rumah sakit jiwa, penjara dan terakhir ke kuburan. Jika kita perhatikan, mayoritas isi lembaga pemasyarakatan di Serambi Mekkah yakni karena memakai narkoba. Semestinya, penjara itu untuk pengedar narkoba sedangkan untuk pemakai narkoba itu melakukan rehabilitasi di rumah sakit atau tempat yang telah ditentukan oleh pemerintah.
Tidak berlebihan Aceh berada dalam darurat narkoba. Sekali mendekati teman-teman yang memakai narkoba, maka berpeluang terjerumus. Pada mulanya diberikan gratis. Ketika sudah ketagihan, mesti membelinya. Dan ketika tidak uang sebab harganya relatif mahal, melakukan kejahatan. Sungguh pengedar narkoba itu sangat merusak mental warga. Hukuman yang tepat untuk pengedar narkoba yakni hukuman mati sebab sudah menyebabkan warga rusak mental sehingga ada yang menyadera orangtua agar diberikan uang untuk membeli narkoba. Menjual narkoba adalah cara cepat menjadi kaya. Di Aceh, ada orangtua yang menolak uang dari anaknya karena tahu anaknya menjual narkoba.
Bagaimana cara darurat narkoba bisa berkurang? Tidak ada kata lain, mesti diawali dari rumah. Sejak dini mencegah generasi muda untuk tidak merokok. Awal dari memakai selentingan ganja, sabu dan sebagainya dari merokok sebatang rokok dan seterusnya. Setiap orangtua harus mengetahui jika buah hatinya sudah mulai memakai narkoba. Karena itu, orangtua mesti tahu siapa teman anaknya.
Untuk hal ini, kita mesti sepakat dengan ucapan Imam Syafi’i, “Jika engkau punya teman – yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah- maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karena mencari teman -‘baik’ itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali. Carilah sahabat yang setia dalam duka. Bukan dalam suka, karena hidupmu sentiasa berputar-putar antara suka dan duka. Dan semoga kamu tidak menemukan sahabat di kala suka karena di kala kamu senang sudah biasa banyak orang yang akan mendekat padamu, namun bila giliran kamu susah mereka pun bertepuk tangan. Bila tak kautemukan sahabat-sahabat yang taqwa, jauh lebih baik kamu hidup menyendiri daripada kamu harus bergaul dengan orang-orang jahat. Percayalah, duduk sendirian untuk beribadah dengan tenang akan lebih menyenangkanmu daripada bersahabat dengan kawan yang mesti kamu waspadai. Selamatkanlah dirimu, jaga lidahmu baik- baik, tentu kamu akan bahagia walaupun kamu terpaksa hidup sendiri.
Untuk mengakhiri atau mengurangi Aceh dalam status darurat narkoba, maka mulailah dari keluarga. Terlalu berharap pada pemerintah, maka siap-siap menuai kekecewa. Mulailah dari diri sendiri dengan mengurangi telunjuk kesalahan pada pihak lain.