Santri pun Terlibat Narkoba

Muhammad Jalil-Mantan Pengguna Narkoba
Pemakai dan penyalahgunaan zat adiktif yang tergolong narkotika dan obat berbahaya atau narkoba sudah demikian meresahkan. Hampir semua kalangan banyak yang mengkonsumsi zat terlarang itu. Tua-Muda, warga kota-desa, pejabat-masyarakat biasa, aparat penegak hukum-begal, dan lain sebagainya menjadi pengguna sampai memproduksi dan mengedarkan Narkotika, psikotropika dan zat adiktif (Napza). Begitu lemahnya saat seseorang disuguhkan dengan masalah, menyelesaikannya dengan mengkonsumsi obat yang dianggap sebagai penenang. Akibatnya, apabila terlalu banyak dan sering menghirup, menghisap dan memasukkannya ke dalam tubuh menimbulkan ketergantungan yang pada akhirnya mengakibatkan masalah kejiwaan atau psikotik.
Bahkan santri yang memiliki akidah kuat tidak luput menjadi pecandu narkoba. Muhammad Jalil sekedar contohnya. Keterlibatannya sebagai addict telah membuka mata masyarakat yang selama ini selalu menganggap santri pondok pesantren aman dari peredaran narkoba. “Jangankan santri, ustad pun banyak yang terlibat penyalahgunaan narkoba,” sergahnya.
Jalil, panggilan akrabnya, adalah seorang santri di sebuah dayah terkemuka di Kota Sigli, Pidie. Perjalanan hitamnya sudah dimulai sejak duduk di kelas V sekolah dasar. “Kelas V SD, saya sudah mencoba ganja,” kenangnya. Menurutnya, pada awalnya ganja yang ditawarkan padanya bersifat cuma-cuma, selanjutnya mesti ia beli. Untuk membeli, ia menyisihkan uang belanja dari saudaranya. Sedangkan kedua orangtuanya sudah lama meninggal dunia.
Pemuda berusia 24 tahun yang bercita-cita menjadi ustad ini mulai ketergantungan pada tahun 2007 lalu selagi “menyantri” di kota tempatnya tinggal. Faktor lingkungan amat mempengaruhinya dipicu adanya permasalahan yang menggiringnya mencoba, menikmati dan akhirnya menjadi amat ketergantungan dengan zat adiktif jenis sabu depresan, yang biasa dipakainya. “Saya merasa senang dan tenang, seolah tanpa beban,” kisahnya. Mirisnya lagi, ia bersama santri nakal lainnya bahkan beberapa gurunya menikmati barang yang berdampak merusak fisik, psikis dan sosial itu dekat pondok pesantren tempatnya menimba ilmu keagamaan.
Jalil sadar, perbuatannya salah. Apalagi ia berada dalam lingkungan pendidikan moral dan agama. Namun ia tidak sanggup keluar dari lingkaran setan tersebut, emosinya labil dan mudah marah. “Emosi tidak terkendali, piring pun beterbangan,” kiasnya untuk mengatakan situasi tidak terkendali tersebut.
Pada tahun 2009 keluarganya sepakat membawa Jalil menjalani rehabilitasi di Rumoh Harapan Atjeh milik Instalasi Napza Rumah Sakit Jiwa Aceh di Banda Aceh. Setengah tahun rehabilitan menjalani terapi medis, detoksifikasi, keagamaan dan penguatan komitmen di bawah bimbingan dan pengawasan konselor yang merupakan pecandu namun telah tobat .
Untuk menebus rasa berdosa dan bersalahnya, Jalil kini menjadi salah seorang konselor di mana ia pernah menjalani rehabilitasi. Perannya begitu berarti untuk mematahkan pernyataan orangtua dan masyarakat yang menganggap santri dan ustad tidak akan mampu terkontaminasi oleh virus perusak moral bangsa. Saat kampanye penyuluhan dan penanggulangan bahaya narkoba sering muncul kesan lingkungan pesantren tidak terjamah obat-obatan berbahaya. Di saat itulah, peran Jalil berguna. Komitmennya kini mengantisipasi maraknya penyalahgunaan Napza serta membantu pecandu dapat bebas dari narkoba.
Sesuai testimoninya seharusnya pengasuh pondok pesantren agar berupaya santri dan masyarakat dapat dijauhkan dari bencana narkoba. “Mari bersatu kita perangi narkoba. Jangan takut menghadapi ancaman dari pihak manapun yang ingin merusak bangsa dengan berusaha menghentikan peredaran dan penyalahgunaan narkoba,” katanya, berapi. NA. RIYA ISON.