Wakaf untuk kesejahteraan umat

Buku Wakaf untuk kesejahteraan umat
Pengarang : Dr. H. Imam Suhadi, S.H.
Penerbit : Dana Bhakti Prima Yasa
Tahun terbit : 2002
Kolasi : 235 hlm. 160 x 240 cm.
Pernahkah anda mewakafkan harta? Mewakafkan harta anda sama halnya dengan membelanjakan harta di jalan Allah yang diperuntukkan untuk kepentingan umat. Dan Allah akan membalasnya dengan berlipatganda sesuai dengan janjinya dalam al-Quran, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui” (Q.S. al-Baqarah: 261).
Masyarakat yang mewakafkan tanah/gedung/toko atau harta benda lain lazimnya menfokuskan pada keperluan ibadah mahdhoh (ibadah khusus), seperti untuk pembangunan masjid atau mushalla. Padahal harta wakaf pada dasarnya bersifat multifungsi dalam membantu perkembangan masyarakat. Penulis memaparkan contoh pengelolaan tanah wakaf oleh Badan Wakaf pondok Modern Gontor Ponorogo, tanah wakaf yang dikelola dengan baik dan professional dalam arti dikelola dengan administrasi yang baik, program perencanaan yang anggaran keuangan dan dengan sistem kontrol yang kuat yang berupa laporan pertanggungjawaban tiap akhir tahun, ternyata telah membantu perkembangan dan kemajuan masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan. (p; 12).
Buku ini merupakan hasil penelitian disertasi dari Dr. Imam Suhadi, SH mengenai pengembangan wakaf dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang Pokok Agraria di Kabupaten Bantul. Dalam penelitian ini penulis mengambil pendekatan ilmu hukum dan sosiologi.
Wakaf tanah berasal dari hukum islam yang diberlakukan sebagai hukum nasional yang termaktub dalam Peraturan pemerintah No. 28 Tahun 1977 dengan urgensi untuk melindungi tanah wakaf. Menurut penulis, PP No. 28/1977 sudah berjalan dengan baik akan tetapi masih ada hambatan dalam pelaksanaannya, misalnya dalam hal pensertifikatan tanah; belum berfungsinya saksi istifadhoh, biaya membuat sertifikat yang memberatkan nadhir atau wakif, belum jalannya hak-hak dan kewajiban nadzir sehingga wakaf belum bisa didayaguna secara optimal. Pengikraran wakaf juga berpengaruh terhadap pengelolaan tanah wakaf. Masyarakat Bantul lebih banyak mengikrarkan tanah wakaf untuk tujuan ibadah mahdhah daripada ibadah ‘ammah (umum), sehingga pendayagunaan terhadap tanah wakaf belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Penulis juga mengutarakan bahwa perlu terbentuknya sebuah lembaga bersifat nasional seperti Dewan Perwakafan Nasional agar tanah wakaf dapat dikelola secara professional dan berdayaguna untuk kemaslahatan umat.
Buku ini disajikan dengan bahasa yang ringan serta mudah dipahami dan merupakan hasil penelitian yang mendalam. Dosen, peneliti dan mahasiswa harus memiliki buku ini sebagai referensi dalam pembelajaran pengembangan wakaf. Semoga kelak ada masyarakat yang mengkaji lebih dalam tentang perwakafan dan berharap dapat meningkatkan pendagunaan wakaf untuk ibadah ‘ammah dan ibadah mahdhah.
Note: untuk memahami lebih lanjut hasil penelitian Dr. H. Imam Suhadi, S.H anda dapat membacanya di Perpustakaan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.