Dakwah di Udara

Oleh Murizal Hamzah
Dakwah tidak pernah tidur dan istirahat. Dakwah dilakukan non stop selama 24 jam. Adzan adalah salah satu bukti yang bergaung selama 24 jam di seluruh dunia. Jika di Aceh sudah malam, di belahan dunia lain, bilal sedang melakukan adzan dhuhur atau magrib. Adzan adalah salah satu dakwah yang bergema di seluruh pelosok dunia.
Dakwah di era teknologi semakin berkembang. Jadikan teknologi sebagai wahana berdakwah. Umat Islam kendalikan teknologi untuk syiar. Bukan sebalikan teknologi yang mematikan syiar. Dengan semakin majunya teknologi, dakwah bisa dilancarkan secara lebih luas. Dakwah tidak sebatas diselenggarakan di mihrab atau dalam masjid. Dakwah menyelusup ke berbagai ranah kehidupan. Dakwah yang tepat dan cepat yakni melalui perilaku umat Islam. Bukan retorika dakwah yang berbusa-busa di podium.
Salah satu dakwah yang menembus batas jarak yakni melalui radio. Sambil bekerja, warga dapat mendengar berbagai informasi yang disampaikan. Dakwah melalui radio semakin diminati karena gampang dan murah. Dakwah yang disiarkan melalui radio mengingatkan kita pada firman Allah, “Dan hendaklah ada di antara kamu yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntun.” (QS. Ali Imran: 104)
Dakwah melalui radio semakin dilirik karena memiliki keunggulan yakni kecepatan yang diberikan dari studio radio atau lapangan. Pendengar mendengar langsung pernyataan narasumber tanpa ada penafsiran dari pihak lain. Melalui teknologi internet, pendengar di seluruh dunia dapat mendengar radio melalui internet. Kerinduan mendengar isi khutbah Jumat dari Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dapat diselesaikan dengan mendengar radia yang menyiarkan isi khutbah melalui internet. Selayaknya teknologi digunakan untuk syiar. Teknologi itu tergantung siapa yang pegang kendali.
Tidak terbantah lagi, salah satu radio dakwah yang diminati di Banda Aceh dan sekitarnya yakni Radio Baiturrahman. Pada mulanya, radio itu berada di salah satu ruang di Masjid Raya. Selama bertahun-tahun, radio ini setia mengudarakan langsung adzan dan dakwah setelah Shalat Magrib dan Shalat Subuh. Warga menyimak di rumah sambil memasak atau bekerja. Inilah salah satu kelebihan dakwah melalui radio yang dapat disimak dalam berbagai kondisi.
Dakwah semakin lengkap bila dilengkapi dengan teknologi mutakhir. Semakin meningkat teknologi, peralatan pun semakin berkembang. Untuk itu, agar dakwah melalui radio Baiturrahman semakin menjangkau pendengar lebih luas dan suaranya lebih jernis, maka modernisasi peralatan radio adalah salah satu solusinya. Kita bisa belajar pada dakwah yang dilakukan oleh agama lain dalam melakukan misinya dengan peralatan mutakhir yang memudahkan pendengar radio menyimaknya. Karena itu, Radio Baiturrahman butuh modernisasi peralatan agar lebih memanjakan pendengar dan misi syiar menusuk ke jantung pendengar.
Selain peralatan yang tercanggih, program radia yang mengusung misi dakwah harus dikemas yang diminati oleh segmen pendengar. Pada era tekonologi, serangan dakwah harus dilakukan dalam berbagai ruang termasuk menembus sekat dinding. Kita berharap melalui radio dakwah, pendengar mendapat pencerahan untuk memecahkan kebekuan dalam memahami syariat Islam. Dakwah di udara melengkapi dakwah di darat yang menyentuh langsung umat Islam atau bukan. Serangan dakwah dari berbagai sisi untuk melengkapi bahwa Islam itu rahmatan lil alamin.