Supersemar, Permainan Politik Dua Pemimpin Bangsa

PERISTIWA bersejarah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada 11 Maret 1966, dinilai sebagai permainan politik antara Soekarno dan Soeharto. Dalam Supersemar, ada langkah-langkah politik yang kemudian menggiring Soeharto sampai pada bangku kekuasaan.
“Jadi adalah keliru kalau orang menganggap bahwa Supersemar yang diambil oleh Soekarno dan diberikan kepada Soeharto, tidak memiliki maksud politik,” ujar Sejarawan Universitas Indonesia (UI), Anhar Gonggong.
Menurut Anhar, dalam Supersemar, Presiden Soekarno memberikan tugas kepada Soeharto selaku Panglima Angkatan Darat pada masa itu, untuk mengambil tindakan-tindakan yang dianggap perlu untuk menertibkan situasi keamanan yang sedang kacau kala itu. Namun, ada beberapa hal yang dilupakan Soeharto dalam Supersemar sebagai langkah politik untuk mencapai kekuasaan.
“Di dalam Supersemar ada ketentuannya yang menyatakan, Soeharto harus menjaga wibawa Presiden Soekarno, tapi itu terlupakan,” jelas Anhar.
Setelah mendapatkan Supersemar, pada 12 Maret 1966 Soeharto menggunakan posisinya sebagai pemegang Supersemar untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dengan demikian satu masalah tuntutan rakyat telah diselesaikan Soeharto meski saat itu Bung Karno tidak menyetujui.“
Rakyat menuntut pemerintah dengan tiga tuntutan, salah satunya untuk segera membubarkan PKI,” kata dia.
Setelah Soeharto membubarkan PKI, tambah Anhar, ada isu yang mengatakan jika Presiden Soekarno akan menarik Supersemar dari tangan Soeharto. Namun, para pendukung Soeharto di orde baru menjadikan Supersemar sebagai Ketetapan MPR, sehingga Bung Karno tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
“Tidak mungkin Ketetapan MPRS sebagai lembaga tinggi negara kala itu, dihapuskan oleh presiden, jadi secara politik, permainan dimenangkan lagi selangkah oleh Soeharto,” ujar dia.
Telah selesai
Anhar Gonggong, mengatakan saat ini secara politik, tugas Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) telah selesai. Sebab, kedua pemimpin negara yang terlibat di dalam peristiwa itu, Soekarno dan Soeharto, kini telah wafat.
“Orang-orang yang percaya Soekarno dikudeta Soeharto melalui Supersemar saat ini mau apa? Buat apa diributkan lagi karena tugasnya sudah selesai,” jelas Anhar.
Menurutnya, saat itu Supersemar merupakan permainan politik antara Soekarno dan Soeharto. Dalam permainan, kata dia, sudah pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Dan, saat ini permainan itu sudah usai.
‘’Bagi Soeharto, Supersemar merupakan alat politik untuk menang dalam permainan politik,’’ ujar dia.
Ia menuturkan Supersemar pada masa kini cukup diperingati oleh masyarakat yang mau memperingatinya dengan tujuan tertentu. Bagi yang senang menulis, tambah dia, bisa mencari fakta dan menganalisa peristiwa tersebut berdasarkan teori dan konsep yang mereka tahu, bisa digunakan.
“Silakan saja diperingati, tidak perlu dipaksakan dan tidak perlu diributkan,” kata Anhar.
Perlu dipahami
Sementara sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam mentakan, peristiwa sejarah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) sering kali luput dari perhatian kalangan muda Indonesia sebagai sebuah bagian pembentuk sejarah bangsa.
“Supersemar penting diperingati dan diketahui duduk perkaranya,” ujarnya.
Menurutnya, perlu dipahami oleh generasi muda saat ini bahwa Supersemar awalnya berfungsi sebagai surat penugasan. Namun, yang terjadi adalah surat itu disalahgunakan untuk mengambil alih kekuasaan.
“Supersemar sebenarnya pelimpahan kekuasaan, itu yang seharusnya diketahui generasi muda,” jelas dia.
Selain itu, Supersemar yang diterbitkan oleh Presiden RI Sukarno pada 11 Maret 1966 itu juga memerintahkan untuk membubarkan PKI dan menyatakan partai tersebut sebagai partai terlarang di Indonesia.
Lalu, Supersemar juga telah melarang segala macam bentuk paham atau ideologi marxisme dan komunisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Republika