NIKMAT KAUM NABI ISA AS.

Oleh : Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA, Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman

 Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku”. Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)”.(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: “Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”. Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman”. Mereka berkata, “Kami ingin memakan hidangan itu dan agar hati kami tenteram serta kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan (hidangan itu).”
Isa putra Maryam berdoa, “Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami dan yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beriilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezki.”Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barang siapa kafir di antaramu setelah (turun hidangan) itu, maka sungguh Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.”( QS. al-Maidah 111 – 115)
Ayat di atas merupakan sambungan ayat sebelumnya yang menceritakan tentang nikmat yang diberikan kepada Nabi Isa as., kemudian pada ayat ini, Allah menjelaskan bagaimana nikmat yang diberikan kepada para pengikut nabi Isa yang setia. Pengikut setia Nabi Isa disebut pula dengan golongan hawariyyun. Sebagaimana diketahui bahwa kisah tentang nabi Isa dalam al-Qur’an memiliki porsi yang banyak dipaparkan. Kaum Nabi Isa juga merupakan kaum yang telah dimuliakan oleh Allah dengan berbagai macam mu’jizat Nabi serta hidangan surga.
Dalam ayat disebutkan dialog antara Allah, Nabi Isa dan kaum hawariyyun dan permintaan hidangan surga. Permintaan mereka disanggupi oleh Allah, dan tetapi Allah memberikan peringatan keras bagi mereka, karena mereka telah diberikan nikmatnya hidangan syurga, yaitu dengan mewanti-wanti dengan azab yang tidak akan pernah dihukum seorang pun dengan azab yang seperti itu .
Begitulah ketentuan Allah, sesuatu yang didapatkan dengan istimewa, maka harus benar-benar menjaga amanah demi keistimewaan tersebut. Allah menyebutkan pada ayat lain dengan menyatakan “apabila kalian mensyukuri nikmat-Ku, niscaya akan kutambahkan nikmat-Ku, dan apabila kalian mengingkarinya, sesungguhnya azabku sangat pedih”. Begitulah kaum nabi Isa diberikan kenikmatan dan Allah menyebutkan juga ancaman bagi kekafiran mereka, lalu bagaimana dengan kita? Allah memberikan nikmat yang tak terkira, yaitu nikmat Iman dan Islam. Maka, juga sangat pedihlah azab yang akan kita terima bila kita murtad dari fitrah iman dan Islam yang kita dapatkan. Apakah perilaku kita telah mencerminkan adanya nikmat Iman dan Islam tersebut? Wallahu a’lam.