Penyiar Senior Radio Baiturrahman FM

Syaifulsah SE
Antara penyair dan penyiar terdapat kesamaan. Penyair harus mampu merangkai indahnya kata penuh  makna. Demikian juga dengan penyiar, perlu perbendaharaan kata yang kemudian diucapkan dengan penuh gairah, bersahabat tentu saja pendengarnya merasa terhibur.
Ibarat “ada suara tak tau rupa,” adalah ungkapan bagi penyiar radio. Mungkin hal ini juga yang menjadi pembeda amat mencolok bagi broadcasting radio dibandingkan dengan penyiar televisi.
Karenanya wajar, suaranya yang mendayu-dayu, aksenisasi khas dan bersemangat kerap menyapa, “Saya berharap Anda semua sehat wal’afiat.” Dalam candanya, Saiful, panggilan akrabnya, berkata, bagi penggemar atas penyiar tertentu jangan tertipu pada manisnya pemilik suara. “Ada penggemarku tidak percaya ini adalah Cek Saiful, karena orangnya udah tua padahal suaranya masih muda,” kelakarnya.
Pria Kelahiran Medan, 10 Juli 1967 ini begitu menyuka dunia broadcasting. Bahkan sejak duduk di bangku SMP Negeri 3 Banda Aceh, ia sudah menjajal kemampuannya. Karenanya, saat tahun 2005 saat pertama bergabung dengan radio dakwah Baiturrahman FM, Saiful sudah menguasai artikulasi, intonasi, pronansiasi, aksentuasi dan seni bertutur yang mutlak diperlukan seorang penyiar.
Dunia radio yang bermotto, “Sekali di udara –insya allah- tetap di udara,” ini mesti dilakoni suami dari Suryani sebagai sarana mencari teman, berdakwah dan guna memenuhi kecintaannya sebagai penyiar.
Radio sampai pada era tahun 90 begitu berjaya. Seiring berkembangnya dunia pertelevnisian, media  online dan digital live membuat radio mulai kekurangan pendengar dan penggemar. Tentu saja dunia usaha yang biasanya menayangkan iklan via radio juga berkurang. Minimnya penghasilan sebagai  penyiar sudah dipikirkannya. Sarjana Ekonomi ini menyadari konsekuensi atas pilihannya. “Gaji tidakcukup, harus ada pemasukan dari sumber lain,” katanya. Untuk itu ayah dari Syuhada dan Muniraini juga bekerja sebagai Spesialis Local Government PNPM Perkotaan.
Menurutnya, radio harus menarik diudara dan eksis didarat. Ada asa padanya, bahwa Radio Baiturrahman FM, yang mengudara yang dipancarkan dari Jalan Profesor A. Majid Ibrahim 1 Banda Aceh selalu saja memiliki pendengar setia. Karena sebagai alat siar dan corong dari Masjid Raya Baiturrahman, masyarakat Banda Aceh, Aceh Besar dan sekitarnya dengan setia menjadikan channel 98,5 MHZ ini sebagai pertanda tibanya shalat 5 waktu.
Kegiatan dakwah seperti tabligh akbar  peringatan hari-hari besar Islam maupun halaqah ba’da maghrib dan ba’da shubuh dengan setia tidak saja didengar jamaah dalam masjid kebanggan rakyat Aceh, tetapi juga menyapa sampai ke rumah-rumah penduduk. Terlebih pada bulan Ramadhan. Kita merindu, saat anggota keluarga di pusat ibukota menanti buka puasa, putra dari pasangan Abubakar – Fatimah atau rekan yang bertugas di studio akan menekan tune sirine berbuka puasa.
Bila demikian, sebagai suar dan siar sejalan dengan program dakwah, pemerintah patut memberikan dukungan sepenuhnya. nNA RIYA ISON