Puasa Mulut

Dalam sebuah arisan, seorang ibu bertanya, “Rumahmu ini apa tidak terlalu sempit? Bukankah anak-anakmu banyak?” Rumah yang tadinya lapang, sejak itu mulai dirasa sempit oleh penghuninya. Ketenangan hilang ketika keluarga itu terbelit hutang karena mau membeli rumah besar dengan cara kredit ke bank.
Di waktu lain, seorang teman bertanya, ”Berapa gajimu sebulan di sini?” “Rp 1 juta rupiah.” “Cuma 1 juta rupiah? Dia tidak menghargai keringatmu, apa cukup sebulan?” Setelah mendengar perkataan tersebut, pekerja itu meminta kenaikan gaji kepada pemilik toko. Namun pemilik toko menolak serta melakukan PHK. Pekerja itu jadi pengangguran tanpa penghasilan.
Di lain kesempatan, seseorang bertanya kepada kakek, “Berapa kali anakmu mengunjungimu dalam sebulan?” Si kakek menjawab, “Sebulan sekali.” “Wah keterlaluan sekali anak-anakmu itu di usia senjamu ini seharusnya mereka mengunjungimu lebih sering.” Hati si kakek menjadi sempit padahal tadinya ia amat rela terhadap anak-anaknya. Ia jadi sering menangis dan ini memperburuk kesehatan dan kondisi badannya.
Disadari atau tidak, kita sering bertanya atau mendengar pertanyaan tentang hal itu. Jika ditelusuri, apa untung bagi kita untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Yang bertanya tidak dapat laba uang sedangkan yang ditanya akan berpikir dengan pertanyaan tersebut. Padahal sebelumnya, yang ditanya sudah bersyukur dengan yang dimiliki atau memahami hal-hal yang dihadapi anaknya atau pihak lain.
Jelas dalam Islam, umat diwajibkan menjaga pembicaraan. Setiap ucapan yang keluar adalah kata-kata yang berfaedah. Bukan caci maki atau malahan fitnah. Dalam hal ini, kita simak kisah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah “Ya Rasulullah ada seorang yang ahli ibadah (semua ibadah dikerjakan termasuk sunnah) namun ucapannya sering menyakiti hati orang lain. apakah dia masuk surga?”
Rasulullah menjawab “dialah calon penghuni neraka”. Kemudian sahabat bertanya lagi
“Ya Rasulallah, ada orang yang kehidupannya tidak disibukkan dengan ibadah akan tetapi kehadirannya bisa menyenangkan hati orang lain. apakah dia calon penghuni neraka?”. Rasulullah menjawab “dialah calon penghuni surga karena kehadirannya bisa memberi manfaat bagi orang lain.”
Sejalan menjaga pembicaraan atau perasaan lawan bicara, maka umat Islam yang cerdas juga mewaspadai setiap informasi yang berkembang deras. Misalnya di dunia maya atau media sosial, merajalela info bohong atau tidak jelas asal usulnya perihal ribuan lebih warga Aceh menjadi murtad. Tanpa sumber yang jelas, dengan semangat kesal, kita ikut-ikutan menyebar berita bohong. Ajaib memang, berita di koran, internet dan sebagainya diyakini benar. sedangka isi al-Quran, kadangkala kita lupa.
Quran selalu mengingatkan umat yakni setiap menerima berita, kabar, informasi dan sebagainya yakni untk melakukan tabayyun. “ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi di jalan Allah, maka lakukanlah tabayyun.” ( QS. An Nisa: 94)
Pengertian tabayyun yakni mencari kejelasan hakekat suatu atau kebenaran suatu fakta dengan teliti, seksama dan hati-hati. Cek dan ricek ini adalah perintah yang sangat penting, di mana kehidupan antar sesama umat sering dihinggapi prasangka. Allah memerintahkan umat Islam untuk hati-hati dan mengharuskan mencari bukti terkait isu perihal tuduhan atau yang menyangkut identifikasi seseorang.
Menghadapi hal ini, kita perlu puasa bicara yakni katakan yang diketahui saja. Selebihnya katakan saya tidak tahu hal tersebut. “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.“ (QS. Al Hujurat: 6).