NIKMAT ALLAH PADA NABI ISA AS

oleh : Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA, Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Wahai Isa Putra Maryam!, Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?”. (Isa) menjawab: “ Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hak-ku. Jika aku pernah mengatakannya, tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkau-lah Yang Maha Mengetahui yang ghaib.
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu),
“Sembahlah Allah, rabb-ku dan rabbkalian dan Engkau menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi
mereka. Dan Engkau-lah yang maha menyaksikan atas segala sesuatu”.(QS. al-Maidah 116-117).
Dalam ayat di atas disebutkan bahwa permasalahan yang pelik terjadi di kalangan umat kristiani tentang kebenaran teori trinitas yang dianut oleh penganutnya. Perkara mempertuhankan Nabi
Isa atau yang dikenal dengan Yesus dalam kepercayaan kristiani, merupakan kekeliruan besar. Bahkan dalam al-Qur’an dijelaskan kepercayaan yang batil tersebut. Allah swt. sendiri menanyakan perihal penuhanan tersebut kepada Nabi Isa, kemudian beliau akan mengelak dari hal tersebut, sebagaimana diungkapkan dalam dialog tersebt di atas. Nabi Isa malah menyatakan sendiri bahwa dirinya tidak pernah menyuruh manusia untuk menyembahnya atau melabelkan predikat ketuhanan kepada
diri beliau. Itulah kesesatan yang dibuat oleh para tokoh-tokoh pendeta zaman tersebut, sehingga
sampai sekarang keimanan terhadap ketuhanan Yesus (Nabi Isa) masih dipercayai oleh sebagian
sekte-sekte kristen.
Terkait dengan isu-isu kristenisasi yang sedang marak diberitakan dalam media sosial, dan sebagainya, maka kenapa kita tidak kembali kepada al-Qur’an tentang kesesatan kristen sebagai sebuah agama? Umat muslimin seharusnya mengkaji hal tersebut dari al-Qur’an, karena didalamnya telah dijelaskan
secara gamblang terhadap kesesatan akidah penuhanan Nabi Isa. Sayangnya umat Islam sekarang
lebih mementingkan perkara yang masih berlandaskan pada perbedaan pendapat dalam fiqh
(khilafiyah fiqhiyyah) , namun mereka tidak mempersiapkan generasi mereka dengan pengetahuan
keagamaan dari sumber aslinya yaitu al-Qur’an dan hadits. Bahkan sebagian golongan kita lebih mahir dalam perkembangan teologi daripada menghafal ayat-ayat yang menyatakan kebenaran Islam itu sendiri dan kebenaran tentang hal-hal yang merupakan landasan keimanan. Di samping itu, ada lagi yang rela menjual akidah dan keimanan hanya karena masalah ekonomi, yaitu dengan dibayar dengan materi dan mereka meninggalkan agama Islam, sebagai hidayah yang paling mahal di dunia ini. Sadarlah kaum muslimin dan kaum mu’minin, bahwa keimanan tidak pernah dijual dengan harga
apapun, karena imanlah yang mengantarkan kita pada keridhaan Allah dan surga-Nya. Allahumma
unshurnaa ala al-haqq.