Cara Rasulullah SAW Menghadapi Pengemis

Pengemis. Satu kata yang tidak asing ditelinga. Bahkan sering kali dalam kehidupan sehari hari berhadapan dengan pengemis. Pengemis tidak mengenal tempat. Dari pintu ke pintu, masjid, lembaga perkantoran, lembaga pendidikan, rumah sakit, terminal, dalam bus, ataupun lampu stop menjadi tempat yang selalu dikunjungi oleh pengemis.
Pengemis bukan hanya ada pada zaman modern sekarang ini, namun sudah ada pada masa Rasulullah saw. Sebagai teladan bagi ummat manusia, Rasulullah saw memberi contoh cara memperlakukan pengemis dengan baik. Alkisah, pada zaman Rasulullah saw, seorang pernah datang kepada beliau meminta sedekah karena dia tidak punya uang untuk memberi makan keluarganya. Kepadanya Rasulullah saw bertanya: “barang-barang apa yang kamu miliki dirumah?, “orang tersebut menjawab, “ada tempat air untuk minum keluarga dan beberapa lembar selimut tebal untuk menahan dingin.”
Rasulullah saw menyuruhnya mengambil barang barang tersebut dan barang barang tersebut kemudian dilelang kepada khalayak umum. Hasil penjualan sebesar dua dirham. Satu dirham dibelanjakan makanan untuk keluarganya dan satu dirham lainnya untuk membeli kapak. Kemudian kapak dan makanan tersebut diserahkan kepada pengemis tadi sambil berkata, “pergilah mencari kayu dan jangan menampakkan wajahmu kepadaku kecuali sesudah lima belas hari”.
Sesudah lima belas hari, lelaki tersebut menghadap Rasulullah saw dengan wajah cerah penuh percaya diri membawa serta uang uang sebesar lima belas dirham, sisa uang yang telah dibelanjakan untuk kebutuhan keluarganya. Rasulullah saw berkata kepadanya; “ini lebih baik bagimu daripada kelak kamu datang pada hari kiamat dan bayangan mintaminta tergambar dalam wajahmu”. (http.www.forumnusantaraislami.co.id)
Keteladanan Rasulullah saw menjadi pembelajaran bagi kita untuk memperlakukan pengemis dengan cara baik. Orang yang tidak mendapat pekerjaan harus dibantu dan ditolong sehingga mareka tidak larut dalam keadaan yang mencekam hidupnya, hingga memilih jalan termudah tanpa usaha yakni meminta minta.
Harus disyukuri bahwa banyak lembaga pemerintahan dan non pemerintah di Aceh yang telah memberdayakan masyarakat yang kurang beruntung dalam mendapatkan pekerjaan dilatih skill tertentu kemudian diberikan modal untuk mengembangkan usahanya. Ketika ada perhatian khusus, tentunya kita berharap tidak ada lagi penggangguran yang memilih jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menjadi pengemis.
Aceh dengan berbagai hasil bumi yang melimpah, tiap masa ada harta karun yang ditemukan seperti sekarang sedang musim giok dan menjadi pemasukan baru bagi masyarakat. Dengan kekayaan alam seperti ini, tentunya tidak berlebihan kalau tertanam suatu harapan agar Aceh bisa menjadi seperti masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz di seluruh wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah. Dimana pada masa tersebut walau hanya masa kepemimpinannya 2,5 tahun namun tidak dijumpai lagi makhluk dinegeri tersebut yang menderita kelaparan, tidak ada pengemis disudut sudut kota, tidak ada lagi penerima zakat karena setiap penduduk sudah mampu membayar zakat. Amin ya Rabb. Murizal Hamzah.