Remaja islam dibawah bayang-bayang Pornografi

Pergaulan pada zaman informasi seperti yang kita alami saat ini menjadikan jarak dan tempat lingkungan pergaulan semakin luas, sangat berbeda dengan sepuluh tahun lalu, lingkungan pergaulan masyarakat Aceh khususnya para pemuda hanya sebatas lingkungan formal seperti sekolah,kampus,kantor dan informal seperti masjid, café, titiktitik tempat nonkrong anak muda, lapangan olahraga.
Namun, kini sejak era informasi berevolusi dengan cepat, lingkungan pergaulan beralih dari tatap muka kepada tatap layar kaca di ponsel-ponsel pintar dan laptop. Sejak menjamurnya warung kopi yang memilii akses internet gratis, masyarakat memiliki akses pergaulan ke tingkat yang lebih luas lagi, bukan hanya tingkat nasional tapi tingkat global dengan modal secangkir kopi.
Chief of Digital Strategy, Forum Silaturrahim Kemakmuran Masjid Serantau (FORSIMAS) Teuku Farhan S. Kom, mengatakan tidak ada perbedaan antara dulu dengan sekarang, yang berubah adalah pergaulan bebas, kalau dulu masih minim pergaulan bebas, kini malah dengan berkembangnya teknologi menjadikan pergaulan bebas semakin meluas. Ia mempertanyakan, kenapa ini bisa terjadi? bukankah seharusnya teknologi menjadi solusi memudahkan pekerjaan dan sarana mendapatkan akses informasi yang lebih cepat dan murah, dan seharusnya menjadikan masyarakat semakin cerdas dan taat kepada Allah subhanahu wa taala. Pergaulan bebas terjadi karena faktor lingkungan yang bebas tanpa batas, selain itu juga karena memudarnya identitas diri sebagai muslim.
Menurutnya, seorang muslim tidak akan sembarangan memilih lingkungan, apalagi memilih lingkungan yang semakin menjauhkan dirinya pada ketaatan kepada Allah subhanahu wa taala. Dengan berkembangnya teknologi memungkinkan masyarakat memilih lingkungan di dunia maya, tidak tampak namun terhimpun jutaan orang di dalamnya, seperti social media facebook yang mengklaim memiliki satu milyar pengguna, dan twitter yang memiliki 200 juta pengguna, belum lagi dengan Whatsapp dengan 500 juta pengguna yang bisa menciptakan lingkungan pergaulan dengan membuat grup-grup whatsapp, seperti grup WhatsApp ODOJ – One Day One Juz- komunitas mengaji satu hari satu juz.
Tentu, banyak hal positif yang bisa kita ambil dari manfaat teknologi dalam pergaulan, seperti kita bisa mencari teman yang sudah lama putus kontak, namun hindari mencari teman baru yang belum pernah dikenal langsung, usahakan berteman dengan orang yang sudah pernah bertatap muka langsung dan kita tahu latar belakangnya atau telah dikenal oleh masyarakat luas.
Selain itu, kata dia banyak juga hal negatif akibat lingkungan pergaulan di media cyber ini, diantaranya kita cepat terprovokasi oleh berita-berita yang belum tentu valid dan boleh jadi mengandung unsur fitnah, ini dikarenakan media tersebut memiliki kepentingan profit yang tidak disadari oleh pengguna teknologi. Pilihkan media cyber islam yang berada di jalur yang benar dan di dalamnya berisi orang-orang yang berintegritas, sehingga kita tetap berada dalam lingkungan informasi di dunia maya yang tepat dan membimbing kita semakin taat kepada Allah SWT bukan justru membuat kita semakin menjauh dari agama. Lingkungan pergaulan bebas solusinya adalah lingkungan pergaulan yang islami, maka demi masa depan dunia dan akhirat yang lebih baik pilihlah lingkungan pergaulan yang islami, dan inilah sesungguhnya identitas diri masyarakat Aceh yang senantiasa bergaul dalam lingkungan pergaulan Islami baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Pergaulan Bebas
Pengamat Pendidikan Islam UIN Ar Raniry Aceh, Dr Tgk Muhammad AR, MA mengatakan Ada banyak sebab remaja melakukan pergaulan bebas. Penyebab tiap remaja mungkin berbeda tetapi semuanya berakar dari penyebab utama yaitu kurangnya pegangan hidup remaja dalam hal keyakinan/agama dan ketidakstabilan emosi remaja. Hal tersebut menyebabkanperilaku yang tidak terkendali, seperti pergaulan bebas.
Masa remaja kata dia adalah masa dimana suatu anak masih mencari jati diri mereka yang sebenarnya, masa ini masa yang sangat rentan dan harus terus di control oleh para orang tua kepada anak mereka. Remaja yang tidak dapat memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua yang tidak memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
Karena remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Baik Teuku Farhan atau Muhammad Ar sepakat bahwa menyebutkan bahwa Rasulullah telah mengingatkan sejak 4000 tahun lalu, kalau kita harus jeli memilih lingkungan, berteman dengan penjual minyak wangi maka kita juga akan ikut terbawa wangi walaupun tidak mesti menjadi penjual minyak wangi, tapi kalau bergaul dengan tukang besi maka aroma arang minimal akan membekas pada badan kita dan dipastikan akan banyak noda pada pakaian dan tubuh kita.
Namun kini, banyak yang salah pilih lingkungan, demi mempertahankan gengsi, banyak yang bertahan pada lingkungan yang salah sehingga pergaulan bebas dianggap sudah menjadi kebiasaan dan tidak merasa risih. Inilah akibat noda hitam akibat bergaul dengan tukang besi, sehingga sulit dibersihkan kecuali kembali kepada identitas dirinya sebagai muslim, bahwa seorang muslim terikat dengan aturan syariat islam yang sangat detil, jangan kan aturan pergaulan, aturan masuk wc sampai potong kuku saja diatur dalam Islam apalagi soal pergaulan. nMarmu