Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Tiada seorang  pun yang berharap dilahirkan dengan cacat. Seorang ibu yang melahirkan menginginkan anaknya terlahir dengan selamat, berparas good look dengan fisik sempurna. Seorang muslim mengiba bonus dari Khalik, kelak buah hati menjadi anak shalih-shalihah.
Demikian pula dengan ibu Irawaty Banta Tjoet bersama suaminya Yahya R, begitu bayi pertamanya lahir pada 9 Desember 1976, kedua orangtuanya menyambut dengan rasa syukur dan bahagia. Anaknya yang kemudian diberi nama Ifwan Sahara, tumbuh normal. Bahkan usia setahun Ipan, panggilan akrabnya dapat berjalan.
Musibah itu datang saat usianya menginjak 1,5 tahun. Ipan yang saat itu tinggal bersama neneknya Baiyah di Takengon, tiba-tiba terserang kejang-kejang sehingga persendian lututnya melemah. “Saat sekolah TK, kaki saya sudah sulit untuk berjalan,” kisah Ipan. Akhirnya, ia benar-benar tidak dapat berjalan, kakinya terus saja Ifwan Sahara, Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Aceh mengecil. Untuk berjalan ia dibantu tongkat kepit sementara bagian tubuh lainnya berkembang normal.
Ipan muda memiliki semangat luar biasa. Cacat kakinya tidak menghalanginya dalam mengejar cita-cita menjadi insinyur atau sarjana teknik. Bahkan ia memiliki prestasi sekolah pemuncak. “Saat SMA, saya menjadi juara I atau runner up,” kata alumni SMAN 4 Banda Aceh ini.
Namun tak urung, cibiran dan cemoohan sempat membuatnya berlinang air mata. Peristiwa ini justru ia kuliah. “Untuk apa kuliah, orang normal saja susah menyelesaikan kuliah,” kalimat yang beberapa kali dilontarkan sesama penumpang labi-labi (angkot) terhadap mahasiswa FT Unaya Angkatan 1996 ini. Sayangnya perjalanan ayah dari Luthfia Latifah (3 th) dan Fathan Alkhairy (7 bulan) ini masih terkendala diselesaikan karena ayahnya, yang biasa mmengantarnya kuliah meninggal dunia pada 2006 lalu.
Dalam keterbatasannya, masih saja ada nilai positif yang dipegangteguhnya. “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah” yang menjadi mottonya mampu membuatnya menyerah dengan keadaan. Karenanya, walau hasil tidak seberapa mencari dan mengantar penumpang sebagai pengemudi becak tetap dilakoninya.
Semangat dan pantang menyerah dengan keadaan sungguh diakui sesama penyandang disabilitas. Karenanya, suami dari Seri Murni, SE MSi Ak, dosen UIN Ar-Raniry ini diamanahkan menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Daerah Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (DPD-PPDI) Aceh periode 2011-2016.
Di tangannya, sekitar 50 ribuan tuna netra, tuna rungu, tuna daksa dan tuna grahita di Aceh berharap dapat mengangkat harkat, martabat dan dapat hidup mandiri para penyandang disabilitas.
Namun pekerjaan menghimpun dan memberdayakan orang-orang tak berdaya ini bukan persoalan mudah. Untuk mendata nama, alamat dan membentuk DPC PPDI di seluruh Aceh masih terkendala. “Saat ini yang baru terdata, baru sekitar 3 ribu penyandang disabilitas,” tambahnya. Ia berharap semua pihak khususnya yang berkompeten untuk terus berupaya membimbing, bersumbangsih dan membantu memfasilitasi anggota PPDI agar mandiri. ”Apabila mandiri, dengan sendirinya pengemis dan tuna wisma akan berkurang,” tambahnya, mengakhiri pertemuan dengan Gema di sebuah warkop di kawasan Lampineueng Banda Aceh, Kamis (26/3).
Ternyata bentuk “ramah” fasilitas umum bagi penyandang cacat belum berarti apaapa. Karena sesungguhnya keramahan mesti merambah ke dunia usaha dan perkantoran, agar senyum merekah layaknya insan sempurna. NaRIYaISON