Wagub Ajak Perkuat Pondasi Agama

Wagub dan Kakanwil Kemenag Aceh Hadiri Haul Wafatnya Abu H ‘Aidarus Bin H Sulaiman
Agenda haul (acara tahunan) meninggalnya Abu ‘Aidarus bin H Sulaiman atau lebih dikenal dengan Abu Masjid di Sabang, yang ke 63, dipusatkan di Komplek Dayah Bustanul Aidarusiah Lamno.
Dayah di Aceh, kata Wagub merupakan pendidikan tertua yang keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari erkembangan Islam. Dengan keberadaan itu, maka bisa dipastikan bahwa dayah telah banyak berperan dalam mengiringi proses pembangunan Aceh.
“Bahkan bisa dikatakan Aceh tidak akan seperti sekarang tanpa peran dayah. Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk terus melestarikan keberadaan dayah, sekaligus meningkatkan kualitasnya sesuai  perkembangan zaman,” Wagub Ajak Perkuat Pondasi Agama kata Muzakir Manaf.
Dijelaskan, saat ini terdapat sekitar 855 Dayah dan 1572 balai di seluruh Aceh. Khusus untuk dayah, jumlah santrinya diperkirakan mencapai 180 ribu orang. Peran ulama dayah juga sangat berpengaruh di lingkungan masyarakat. Ulama dayah adalah pengawal, pengayom dalam pelaksanaan syari’at Islam di negeri Serambi Mekkah.
Pemerintah Aceh, kata Wagub, akan terus bersinergi dengan ulama dayah sehingga lembaga dayah punya daya dorong kuat dalam memberi saran, nasehat serta pertimbangan bagi kebijakan pemerintah daerah.
Dayah ini, dicatat sebagai pesantren yang pertama berdiri di Pantai Barat Selatan, tahun 1911 M.
Abu di Sabang merupakan pelopor (pahlawan) perjuangan dan tokoh pendidikan Nanggroe Daya yang lahir pada tahun 1871 M dan muwafakah pada tahun 1390 H (144 tahun yang lalu).
Selain Wagub Aceh, acara yang dihadiri 2.000-an undangan dari unsur alumni, para tokoh ulama dan masyarakat, juga turut hadir Bupati dan Wakil Bupati Aceh Jaya, Kakanwil Kemenag Aceh, para kepala dinas dan badan pada Pemda Provinsi Aceh, serta para pejabat di lingkungan Pemda Kab. Aceh Jaya.
Pada kesempatan tersebut Wagub berharap, para alumni dan seluruh santri pesantren tersebut untuk dapat menggantikan posisi pimpinan dayah dan melanjutkan perjuangan dakwah ulama terdahulu.”Kita juga berdoa dan berikhtiar agar kita semua diberi petunjuk dan kekuatan untuk dapat melanjutkan apa yang telah dirintih oleh Abu Di Sabang,” ujar Wagub Muzakir Manaf.
“Kita juga harus siap menepis atau menyikapi siapa pun yang masuk ke Aceh pada saat ini dengan dalih bantuan sosial padahal dibalik itu semua mereka mengemban misi pendangkalan akidah,” tandasnya.
Mualem juga mengingatkan generasi muda Aceh agar menjauhi narkoba dan pergaulan bebas, karena semua itu  adalah perusak masa depan, kebersamaan semua elemen sangat penting, apalagi saat ini sedang menghadapi tantangan globalisasi yang berpotensi merusak dan mengganggu aqidah umat.
Menurutnya, peran dayah tradisional sangat dibutuhkan sebagai filter dan penguat spirit masyarakat dalam  melaksanakan syariat Islam di Aceh. Tidak hanya itu, Wagub juga bertekad akan memperjuangkan pembangunan pesantren yang ada diseluruh Aceh dan khususnya pesantren Bustanul ‘aidarus yang berlokasi di Gampong Leupe tersebut.
Wo u gampong
Beberapa kegiatan seperti doa bersama, pembentukan organisasi alumni dayah dilaksanakan pada malam harinya dan acara puncak dilaksanakan pada pagi hari sampai sore, Selasa (24/3).
Kakanwil Kemenag Aceh Drs HM Daud Pakeh (mantan KakankeFoto – hUmas kaNWiL kemeNag aCeh Muzakir Manaf menag Aceh Jaya) yang tiba lebih awal sebelum dimulainya acara, disambut hangat dengan dekapan sejumlah tokoh ulama dan masyarakat.
Dengan rasa haru Daud Pakeh disambut bagaikan anggota keluarga yang baru pulang kampung setelah sekian lama diperantauan.
Dalam kesempatan tersebut Pak Kanwil dengan polos mengungkapkan,“Beu sibok that ho laen, yang u gampong pasti lon wo”(sesibuk apapun saya ke daerah lain, ke kampung pasti saya kembali),” ungkapnya yang disertai tawa para tokoh masyarakat dan para tamu undangan yang sedang memberikan selamat.
Peusijuek
Peusijuek (penepungtawaran) yang dilakukan oleh tokoh ulama dayah. Wagub, Bupati dan Kakanwil Kemenag Aceh duduk bersanding di tilam hias untuk di-peusijuek secara bersamaan.
“Peusijuek bagi wakil gubernur dan bupati merupakan sambutan dan ucapan selamat datang di Lamno, namun makna peusijuek bagi Daud Pakeh, simbol kekeluargaan, dukungan dan do’a kepadanya dalam menjalankan amanah,” jelas ketua panitia yang didampingi  ketua MPU Kab. Aceh Jaya.[rel humas aceh, yakub]