Ikhlas karena Allah

Oleh : H. Basri A. Bakar
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al-Qur’an) dengan membawa kebenaran. Maka beribadahlah kepada Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 2)
SaLaH seorang tabi’in yang bernama Al-Junaid mendefinisikan Ikhlas sebagai “Rahasia antara Allah dan hamba-Nya, tidak diketahui malaikat sehingga menulisnya, atau setan sehingga merusaknya, dan juga hawa nafsu sehingga mengganggunya.” Demikian pula Ibnul Qayyim menyatakan bahwa ikhlas yaitu memurnikan amalan dari perhatian makhluk, dan menjauhkannya dari perhatian makhluk bahkan dari dirinya sendiri. Barangsiapa menganggap amalannya telah ikhlas, maka keikhlasannya perlu keikhlasan lagi.
Dikisahkan, Mansur bin Al-Mu’tamir, apabila shalat subuh ia menampakkan kebugaran kepada sahabat-sahabatnya (seakan-akan baru bangun tidur). Ia berbicara dengan mereka dan bolak-balik kepada mereka, padahal semalaman ia bangun untuk mendirikan shalat. Ia lakukan semua itu untuk menyembunyikan apa yang telah ia kerjakan.
Menurut ulama sufi Rabi’ah Al-Adawiyah, keikhlasan itu terbagi menjadi 3 derajat: Pertama, beribadah kepada Allah karena mengharap pahala surga dan takut pada siksa neraka. Kedua, beribadah kepada Allah untuk menghormati-Nya dan mendekatkan diri padaNya, dan Ketiga, beribadah kepada Allah demi Dia bukan karena mengharap surga-Nya dan bukan karena takut neraka-Nya. Menurutnya, yang ketiga inilah derajat ikhlas yang tertinggi, karena merupakan derajat ikhlasnya para siddiqin yaitu orang yang mencacapi keimanan tingkat tinggi. Dalam ungkapan lain ulama sufi menyebutkan bahwa orang yang beribadah kerena takut neraka maka itu keikhlasan seorang budak. Sedang yang beribadah karena mengharap surga, maka disebut keikhlasan seorang pedagang.
Meskipun pembagian ikhlas ke dalam tiga kategori ini ditentang oleh sebagian ulama karena tidak ada dasar dalam Al Quran atau Hadits sahih dan dianggap mengada-ada, namun yang paling penting hendaknya kita beramal dengan niat karena Allah dan lakukan untuk kemasalahan diri sendiri dan umat manusia.