Karya Sastra Jangan Merusak Karakter Bangsa

Sastra menjadi senjata ampuh membangun karakter suatu bangsa atau malah menghancurkannya. Karya yang lahir dari tangan emas sastrawan diharapkan mampu mencerdaskan dan bermanfaat kepada umat. Lalu sejauh mana pengaruh sastra terhadap karakter bangsa Indonesia? Berikut wawancara wartawan Gema Baiturrahman, Zulfurqan dengan pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) helvy Tiana Rosa atau akrab disapa Bunda Helvy.
Menurut bunda Helvy, bagaimana karakter bangsa Indonesia pada umumnya?
Kita kehilangan karakter bangsa itu di dalam semua media. Misalnya kita nonton sinetron, kita tidak melihat karakter bangsa Indonesia di situ. Dalam musik kita gak lihat. Karakter kita sekarang karakter Hollywood. Artinya karakter kita yang menghargai nilai-nilai lokal, ketimuran, keislaman, gotong royong, empati, peduli yang merupakan nilai-nilai budaya kita terkikis.
Apakah sastra bisa merusak karakter bangsa?
Sastra bisa merusak karakter. Film bisa menjadi alat perusak. Sama aja. Di tangan siapa gitu, sama seperti pisau, pisau itu bisa bermanfaat, bisa juga membunuh. Sastra pun demikian, kalau kita menulis karya sastra yang bisa membuat bobrok masyarakat, misalkan sangat porno dan sebagainya, itu bisa merusak masyarakat. Tapi kita juga bisa membuat kemaslahatan melalui sastra. Bagi kami di FLP, kalau menulis itu untuk mencerahkan, membangun karakter.
Bagaimana cara melawan karya sastra yang merusak karakter?
Lawan buku dengan buku. Lawan karya sastra dengan karya sastra lainnya. Lawan film dengan film. Itu cara yang cerdas. Misalnya dengan cara membakar buku atau melarang buku, menurut saya itu cara yang tidak cerdas.
Apakah ada sastra sekuler yang bertebaran di Indonesia?
90 persen ada. Bahkan ada yang mengatakan bahwa sastra
itu tidak perlu moral, sastra itu tidak perlu mendidik. Biarkan sastra menjadi sastra, ada yang mengatakan seperti itu. Sehingga orang-orang seperti ini tidak suka kepada FLP. Karena FLP mengedepankan nilai-nilai Islam. Kalau ditanya sastra sekuler apakah banyak, ya semuanya sastra sekuler. Kebanyakan gitu, FLP itu cuma secuil (tidak
sekuler). Ditambah ada beberapa orang atau komunitas lain juga yang kemudian sama dengan FLP visi misinya, bagaimana menulis untuk mencerahkan umat dan kemaslahatan. Atau paling tidak, tulisan kita tidak menambah bobrok masyarakat.
Menurut Bunda, apa salah satu ciri sastra yang baik itu?
Sastra yang baik adalah dia bisa dekat dengan masyarakat. Dia tidak menjadi menara abadi. Banyak sastrawan Indonesia yang tidak dikenal masyarakat. Padahal, dia terkenal di kalangan sastrawan. Sebab, seperti yang dikatakan Rendra, banyak penyair bersajak tentang anggur dan rembulan, tapi dia tidak tahu persoalan masyarakatnya. Dia sibuk menghayal, berimajinasi tinggi-tinggi, dia tidak turun ke masyarakat.
Bagaimana cara menumbuhkan bakat dan minat menulis karya sastra?
Setiap orang menemukannya beda-beda. Kalau saya, menumbuhkan minat dan bakat anak saya semenjak dia di dalam kandungan. Sebenarnya ketika kita menikah, cari pasangan yang juga menyukai sastra. Ketika hamil bisa disimulasi anak di dalam kandungan itu. Dari mulai kita baca Al-Quran, sampai kita ngobrol dengan dia, kalau anak saya Faiz suka saya bacain puisinya Rendra. Padahal dia di dalam kandungan. Kemudian ketika dia sudah lahir dikepung dengan buku. Budaya baca dan menulis ditumbuhkan di rumah. Sehingga ketika anak-anak lihat orang tuanya begitu, dia juga akan begitu.
Apa tips agar mudah menulis?
Pertama, kalau mau bisa menulis harus suka membaca. Kemudian tidak ada cara lain untuk menjadi penulis kecuali dengan menulis. Jadi menulis itu sama dengan berenang. Orang gak akan bisa berenang kalau dia tidak nyemplung ke air.