Pengaruh Maksiat Pada Kadar Keimanan

khutbah Jum’at, Tgk. H. Muhammad Hatta, Lc., M.Ed, Pimpinan Dayah Madani Al- Aziziyyah Lampeuneurut, Aceh Besar
Marilah kita jadikan pertemuan kita di tempat yang mulia ini, di hari yang mulia ini, dan di waktu yang mulia ini, sebagai penumbuh dan penambah iman dan takwa kita kepada Allah Ta’ala. Karena iman dan takwa adalah sebaikbaik bekal kita untuk mengharungi kehidupan dunia ini sebelum kehidupan akhirat kelak. Firman Allah,
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”(AlBaqarah: 197)
Sudah menjadi ketentuan di dalam kehidupan, bahwa kita sebagai makhluk dihadapkan kepada dua perkara didalam menjalani kehidupan dunia ini. Tergantung kepada kita apakah kita akan menjadikan dunia ini sebagai ladang kebaikan untuk negeri akhirat atau sebaliknya, maka dunia ini malah menjadi awal dari kebinasaan dan kehancuran kita di negeri akhirat kelak. Manusia yang berhasil adalah manusia yang mampu menjadikan kehidupan yang hanya sekali ini untuk meraih dua kebahagian yaitu kebahagian dunia dan akhirat, maka alangkah gagalnya dan ruginya manusia yang hanya menjadikan kehidupan dunia ini untuk meraih kebahagian sementara dan melupakan kebahagian abadi. Manusia yang sukses adalah manusia yang mampu menjamin dirinya akan meraih kebahagiaan setelah ia meninggalkan dunia ini, namun sebaliknya alangkah sayangnya jika dunia ini semata menjadi misi utama kehidupan kita sekarang ini.
Sebagai manusia yang diberikan akal dan nafsu oleh Allah swt, maka kita sangat berpotensi untuk melakukan dua hal, yaitu potensi fujur (kecenderungan berbuat maksiat dan dosa) karena mengikuti dorongan nafsu dan potensi takwa karena mengikuti kepada cahaya Iman, Ilmu dan Akal.
Potensi yang terdapat pada diri seorang hamba itulah yang kemudian berkembang dari hari ke hari, mulai dari perkembangan pada individu maupun perkembangan secara sosial. Bersyukurlah kita, apabila yang berkembang di dalam diri setiap individu adalah ketakwaan yang akan berpengaruh positif bagi kehidupan.
Sebaliknya, hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla kita mampu berlindung ketika yang berkembang pada diri setiap individu adalah sifat fujur yang akan tampak melalui kemaksiatankemaksiatan yang menodai kehidupan kita. Karena sesungguhnya kemaksiatan itu hanya akan memurukkan kita ke dalam lembah kahinaan dan kenistaan. Ia akan menjadikan kita menjadi sesosok hamba yang tidak berharga di hadapan Allah swt maupun makhluk. Kemaksiatan juga yang akan memporak-porandakan kehidupan yang semestinya kita hiasi dengan ketakwaan.
Implikasi dari kemaksiatan yang dilakukan dalam kehidupan sesungguhnya akan sangat berpengaruh dalam keseharian kita, baik pengaruh yang dirasakan oleh individu secara langsung maupun pengaruh di tengah kehidupan.
Akibat dari maksiat sesungguhnya menjadi sebuah momok yang menakutkan bagi seorang hamba, namun kenikmatan sesaat dalam melakukan kemaksiatan tersebut, terkadang menjadikan pelaku maksiat terbuai dan lalai dalam kehidupannya.
Hal yang paling utama digerogoti oleh kemaksiatan adalah keimanan. Keimanan akan menurun bahkan hilang sama sekali disebabkan oleh kemaksiatan, seorang yang beriman kepada Allah swt, tentunya tidak akan berani melakukan pelanggaran dengan melakukan maksiat terhadap Allah swt, sebagaimana sabda Nabi saw didalam sebuah hadits riwayat Bukhari-Muslim:
Abu Hurairah r.a. berkata : Nabi Saw. Bersabda : Tidak akan berzina seorang pelacur di waktu berzina jika ia sedang beriman, dan tidak akan minum khamr, di waktu minum jika ia sedang beriman, dan tidak akan mencuri, di waktu mencuri jika ia sedang beriman, dan tidak akan merampas rampasan yang berharga sehingga orangorang membelalakkan mata kepadanya, ketika merampas jika ia sedang beriman. (Bukhari-Muslim).
Namun ketika nafsu lebih berperan, maka ketakutan terhadap ancamanancaman Allah hilang seketika dan berganti dengan pesona-pesona kenikmatan dunia yang menjadikan mereka menjadi makhluk hina. Tidak hanya cukup sampai di situ, tetapi Allah melaknat mereka dengan kematian hati mereka. Apalah artinya hidup ini, jika kita hanya menjadi seonggok daging yang berjalan di permukaan bumi ini dengan ketiadaan iman dan matinya hati menjadi keras membatu. Allah berfirman.
“Tetapi mereka melanggar janjinya, maka kami melaknat mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman Allah dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sungguh menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Maa’idah: 13).
Hukuman yang Allah berikan kepada mereka adalah: Pertama, Allah melupakan mereka. Kedua, Allah menjadikan mereka lupa diri.
Allah melupakan mereka berarti Allah membiarkannya, meninggalkannya sendirian, dan menyia-nyiakannya bahkan meninggalkannya tanpa keimanan. Jika kondisinya demikian, maka kehancuran dan kebinasaan lebih dekat kepada dirinya daripada tangan dan mulutnya sendiri.
Sedangkan kelupaannya kepada dirinya sendiri berarti ia melupakan hak dan tanggung jawab dirinya terhadap dirinya dan Allah, ia tidak lagi peduli dan ingat dengan faktor-faktor tersebut atau mengalihkan perhatian darinya. Akibatnya ia tak lagi senang dengan semua bagian kebaikan tersebut.
Salah satu contoh makna lupa diri adalah ia melupakan aib, kekurangan dan penyakit pada dirinya. Akibatnya tak terlintas olehnya untuk memperbaiki atau menghilangkan hal-hal tersebut. Ia juga lupa dengan penyakitpenyakit hatinya. Karena itu tak terbersit dalam dirinya untuk mengobati atau berusaha menghilangkannya. Padahal ia sakit dan terpenjara yang akan mengantarkannya kepada kebinasaan dan kehancuran.
Setelah Allah mencabut keimanan dari para pelaku maksiat Allah juga dengan mudah akan menutup hati-hati mereka. Padahal kekuatan seorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya kuat maka kuatlah badannya. Tapi bagi pelaku maksiat, meskipun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah jika kekuatan itu sedang dia butuhkan, hingga kekuatan pada dirinya sering menipu dirinya sendiri. Lihatlah bagaimana kekuatan fisik dan hati kaum Muslimin yang telah mengalahkan kekuatan fisik bangsa Persia dan Romawi, dua kekuatan yang saling berkorelasi sehingga memunculkan akumulasi kekuatan yang didasari oleh ketaatan dan ketakwaan.
Selain dari melemahkan hati dari kebaikan, tertutupnya hati seorang hamba juga sebaliknya akan menguatkan kehendak untuk berbuat maksiat yang lain. Merasa enak melakukan sebuah perbuatan maksiat, sehingga terpancing untuk melakukan kemaksiatan yang lain hingga terakumulasi dalam sebuah kebiasaan yang tak tertinggalkan, dan pada akhirnya menjadi pemutus keinginan untuk bertobat. Inilah yang akan menjadi penyakit hati yang paling besar. Allah SWT berfirman,
“Bahkan apa (dosa) yang selalu mereka usahakan itu telah menutupi hatihati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14)
Ada kerugian yang tidak kalah pentingnya diperhatikan oleh seorang pelaku maksiat, yakni tercabutnya ilmu dan hilangnya hafalan atau ingatan kepada pengetahuan. Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Namun, kemaksiatan dalam hati dapat menghalangi dan memadamkan cahaya tersebut. Ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’I yang luar biasa, beliau (Imam Malik) berkata, “Aku melihat Allah telah menyiratkan dan memberikan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.”
Begitulah pesan agung sang imam kepada muridnya, pesan yang menyiratkan makna kekhawatiran yang mendalam terhadap pengaruh maksiat kepada ilmu pengetahuan. Pesan yang mengingatkan kita kepada ayat Allah,
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?” Allah berfirman, “Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu pula pada hari ini kamu diabaikan.” dan demikianlah Kami membalas orangorang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh, azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (Thaha: 124-127)`
Demikianlah Allah Maha Teliti dengan kemaksiatan yang kita lakukan dan dengan apa yang telah dikaruniakan-Nya kepada makhluk-Nya. Tiada keraguan di sisi Allah untuk mencabut kembali apa yang telah diberikan kepada hamba-Nya, ketika sang hamba tidak lagi taat kepada-Nya, namun justru bermaksiat kepada-Nya.