Media Online Profesional dan Bersyariat

Seiring dengan perkembangan zaman, media memiliki pengaruh penting dari segala sisi. Misalnya, penyiaran ajaran Islam melalui media baik elektronik maupun cetak. Wartawan media ini memiliki dan dituntut menaati kode etik jurnalistik yang sesuai dengan undang-undang.
“Ciri-ciri media online yang professional sama seperti ciri-ciri media cetak juga. Yaitu tidak membawa kepentingan politik satu pihak. Tidak membangun opini pribadi si pembuat berita dan sifat pemberitaannya selalu memiliki nilai edukasi,” kata Teuku Zulkhairi, Pimpinan Redaksi SuaraDarussalam. com, Kamis (4/9).
Untuk meningkatkan profesionalisme media, mereka harus diajak duduk bersama membahasa masalah ini. Ia menambahkan, dari sejumlah media online di Aceh, publik tahu hanya sebagian di antaran
ya yang betul-betul serius dan update. Bisa jadi ini dikarenakan kekurangan sumber daya dan dana. Tapi ia melihat bahwa media online di Aceh tumbuh subur seperti juga di belahan nusantara lainnya.
Menurutnya, ada hal yang kurang diperhatikan media online di Aceh. Katanya, banyak tokoh-tokoh yang berprestasi di Aceh yang kurang terpublis. Sisi positif dan kemaslahatan dari penegakan syari’at Islam tidak banyak terangkat. Kemungkinan sebabnya karena media dipengaruhi oleh irama isu berskala nasional.
Dijelaskan, dari segi syariat, banyak media di Aceh yang intens membicarakan syari’at Islam. Tapi mungkin sisi intensitasnya yang kurang. “Barangkali hanya Gema Baiturrahman yang lumayan aktual mengangkat tema syari’at Islam,”tuturnya.
Zulkhairi menilai, dewasa ini banyak media online di Aceh yang mendukung syari’at Islam. Sudah banyak berita yang memiliki muatan Syari’at Islam, mengandung nilai-nilai edukasi dan maqashid syar’iyah. “Saya kira, media-media di Aceh memang sudah saatnya pro aktif mendukung syari’at Islam dalam pemberitaannya. Karena syari’at Islam di Aceh sudah tidak bisa dipisahkan lagi dengan masyarakat Aceh,”pungkasnya.
Dalam konteks Aceh, semua media online di Aceh pasti memihak Syari’at Islam. Namun, menurutnya, yang harus lebih diintenskan adalah bagaimana memberitakan dengan senantiasa dipenuhi nilai-nilai edukasi. Karena nilai-nilai edukasi bagian dari syari’at Islam juga. Artinya, mesti ada upaya agar setiap berita yang ditulis dan disebarkan memiliki orientasi kebaikan dan perbaikan. Saat berbicara atau memberitakan tentang syari’at Islam, maka diharapkan agar sisi positif atau mashlahat dari syari’at Islam harus lebih diangkat ketimbang sisi kerasnya.
Sejarah kejayaan Aceh sangat identik dengan Islam sehingga sudah seharusnya semua pihak di Aceh pro aktif mendukung syari’at Islam, bukan hanya kalangan media online, jelasnya lagi.
Di tempat yang berbeda, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Abdul Rani Usman mengatakan,  para pembaca media ini harus menjadi pembaca yang cerdas. Artinya, mereka tidak gampang ter
pengaruhi jika ada pemberitaan yang provokatif. “Penulisan media online bek galak-galak kutak sigeu. Lumoe groep paya, kuda coet ikue,”tegasnya. “Karena satu kata (di media) berpengaruh. Karena ada orang usil di balik berita, kata, informasi,”katanya.
Ia mengharapkan para penulis di media online memuat berita yang dibutuhkan masyarakat, menghargai local widom, dan sesuai dengan ajaran Islam. Media online memiliki peran besar terhadap pengembangan dakwah dan budaya. Para pemilik media online harus jeli dan hati-hati dalam memuat berita. Jangan sampai pemberitaan di media ini merusak,  mengkhawatrikan masyarakat. “Kehadiran media ini harus menjadi rahmat bagi orang lain. Itulah yang dikatakan dengan berdakwah,”ujarnya.
Untuk mewujudkan media online yang professional, yaitu melalui pelatihan. Sebagai penulis di media tidak boleh memprovokasi orang lain. Bisa jadi media-media yang bersifat provokatif akan ditutup. Zulfurqan