Catatan Perjalanan dari Istanbul – Turki (Bahagian Pertama) Aya Sophia, Masjid dan Museum Bekas Gereja

SaYa tak pernah bermimpi sebelumnya, bahwa suatu ketika bisa menginjakkan kaki di bumi Konstantinopel yang kemudian dikenal dengan Turki Usmaniyah. Terus terang selama seminggu di Istanbul dan beberapa kota lain, membuat saya semakin sadar bahwa kejayaan Turki masa silam masih saja bisa dilihat sampai sekarang. Kita bisa menyaksikan bagaimana masjid-masjid dibangun dengan arsitektur yang bernilai tinggi dan membuat setiap orang kagum.
Kini banyak orang telah berkunjung ke Istanbul, bahkan paket umrahpun banyak yang mengagendakan Istanbul sebagai tujuan ziarah. Banyak jamaah dari Malaysia dan Indonesia yang berjumpa dengan penulis di beberapa tempat bersejarah di Turki seperti Masjid Biru (Blue Mosque) dan Aya Sophia di dekat Teluk Bosphorus, Museum benda bersejarah tempat penyimpanan pedang Rasulullah dan para sahabat, Masjid Raya Ulucami Bursa, makam para Sultan Dinasti Usmaniyah dan lain-lain.
Salah satu masjid bersejarah yang ingin penulis sampaikan adalah Aya Sophia dan Masjid Biru yang terletak berhadapan di daratan Eropa. Untuk mencapai tujuan wisata ini dari pusat kota Istanbul tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu sekitar 40 menit. Menyeberang teluk Bosphorus dari daratan Asia ke Eropa bisa menggunakan kapal feri yang setiap saat tersedia atau train (kereta) melalui terowongan bawah laut “Marmaray” berteknologi tinggi dan cukup bergengsi kerjasama Turki Jepang dengan masa tempuh sekitar 7 menit saja.
Banyak sekali pengunjung yang menyempatkan diri melihat Aya Sophia. Bukan saja muslim, juga tidak sedikit pengunjung non muslim dari berbagai negara sekedar mengambil foto. Menurut info, ada di antara mereka yang masuk Islam setelah berkunjung ke tempat ini.
Aya Sophia sebelum ditaklukkan oleh Sultan Muhammad II pada tahun 1453, kota ini bernama Konstantinopel dan merupakan ibu kota kekaisaran Byzantium serta pusat agama Katolik Ortodoks. Aya
Sophia menjadi sebuah masjid selama 482 tahun.
Pada tahun 1935 ketika Turki menjadi Republik, presiden pertamanya Mustafa Kemal Ataturk, memerintahkan untuk mengubah Aya Sophia menjadi sebuah museum. Mulailah pembongkaran Aya Sophia, dengan menampakkan kembali simbol lukisan-lukisan sakral kekristenan, seperti yang dapat kita lihat saat ini, yakni ada dua simbol agama Islam dan Kristen dalam bangunan ini.
Pada tahun 1609 – 1612 Sultan Ahmed I membangun Masjid Biru dengan 20 kubah dan 6 menara untuk menandingi bangunan Aya Sophia buatan Kaisar Bizantium yaitu Constantin I. Kini meskipun Aya Sophia bukan lagi sebagai masjid, namun azan tetap berkumandang dari menara-menara yang menjulang tinggi secara bersahut-sahutan dengan menara Masjid Biru, terdengar menggemuruh ke seantero wilayah tersebut. (Basri A. Bakar)