Eksistensi Media Online

oleh : Hayatullah Pasee
Jika musim politik seperti Pemilu atau pemilihan legislatif atau Pilkada tiba, media online lahir bak jamur setelah hujan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di tingkat nasional, juga terjadi di daerah-daerah, khususnya Aceh. Begitu musim itu berakhir, maka satu persatu media tersebut ikut ditelan masa.
Ada tiga faktor yang menyebabkan wafatnya mediamedia baru di Aceh. Pertama, tidak adanya reward and punishment terhadap wartawan oleh pimpinan redaksi dan pemilik perusahaan. Ketika seorang jurnalis di lapangan membuat sebuah berita yang berkualitas, pimpinan mereka jarang sekali memberikan mereka pujian dan penghargaan. Setidaknya mengucapkan rasa terimakasih kepada mereka yang bercucuran keringat di lapangan.
Begitu juga ketika mereka membuat kesalahan, mereka tidak diberi hukuman dalam bentuk apapun, malahan membela atas kesalahan yang dibuat demi egoisme media itu sendiri seolah tidak pernah bersalah.
Kedua, manajemen medianya menganut sistem persahabatan. Misalnya sebuah media online dibangun atas dasar gotong royong, tentu saling kerjasama, namun ketika sedikit memiliki ruh dengan beberapa iklan dari relasi, di sinilah kekompakan itu pecah. Mereka tidak lagi saling terbuka. Masing-masing merasa paling hebat dan punya andil dalam menbangun media tersebut.
Kemudian yang ketiga itu visi. Kadang mereka setelah membuat media, tidak tahu arah medianya kemana, ke ekonomi kah, kriminal kah, atau ke politik. Maka sangat jarang media yang mampu mempertahankan visi tersebut.
Misalnya media berbasis ekonomi, karena tidak cukup berita ekonomi, dimasukkanlah berita kriminal, sementara pembaca ketika membuka media tersebut mencari berita ekonomi, tiba-tiba ada berita politik, tentu pembaca merasa kecewa.
Nah, pada hakikatnya membangun media sebenarnya itu bisnis kepercayaan (trust). Apalagi media baru sangat sulit membangun kepercayaan pembaca. Percuma menulis sampai keriting, tapi media kita tidak pernah menjadi rujukan pembaca. Malahan mereka maragukan kebenaran tulisan yang dimuat.
Maka untuk mempertahankan kepercayaan tersebut, sejatinya pemilik media dan wartawannya menerapkan sistem pers islami yang terkandung dalam fiqh jurnalistik. Seorang jurnalis harus benar-benar jujur dalam menyampaikan berita. Apalagi berita yang dapat mengungkapkan aib orang lain. oleh karena itu, tulislah hal-hal yang baik.