Membantu di Jalan Allah

Oleh: H. basri a. bakar
“Tolong-menolonglah kamu dalam hal kebaikan dan ketakwaan, dan jangan sekali-kali kamu memberi pertolongan dialam hal kejahatan dan dosa yang membawa kepada perseteruan, dan hendaklah takut olehmu akan Allah. Sesungguhnya Allah akan memberi siksaan yang amat dahsyat”. (QS. Al-Maidah: 2)
ibnu kaTSir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar bertolong-tolongan dan bekerjasama dalam melakukan perbuatan baik, yaitu perkara kebajikan (al-birr), dan melarang mereka daripada tolong-menolong dalam hal kebatilan, bantu-membantu dan bekerjasama dalam perbuatan haram dan dosa.
Banyak sekali hadits Rasulullah SAW yang menegaskan pentingnya membantu dan mempedulikan orang lain dengan mengulurkan bantuan untuk mereka. Bahkan Rasulullah pernah bersabda bahwa keimanan seseorang tidak akan sempurna sebelum dia mencintai saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.
Dalam sebuah hadis lain, Nabi Muhammad SAW menganggap seseorang kurang imannya apabila ia tidur (dalam keadaan kenyang) sementara tetangganya dalam keadaan kelaparan. Dan barang siapa yang kedatangan tamu namun dia tidak menghormatinya, maka dia juga imannya kurang.
Imam al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya menerangkan bentuk prinsip ta’awun melalui contoh seorang alim membantu manusia dengan ilmunya, seorang kaya membantu orang lain dengan hartanya, seorang yang berani membantu dengan keberaniannya berjuang di jalan Allah SWT.
Dalam sejarah Islam sikap tolong menolong dapat kita ambil teladan daripada para sahabat. Ketika kaum Muhajirin berhijrah ke Madinah, kaum Anshar memperlihatkan sikap bantu-membantu yang luar biasa terhadap saudara mereka daripada kalangan kaum Muhajirin. Semoga kita menjadi hambaNya yang gemar membantu dan selalu berempathi kepada sesama terutama untuk membantu di jalan Allah.