MEMPERBAIKI PIKIRAN UMMAT

Khutbah Jum’at, Dr Tgk. H. Salman Abdul Muthalib, M.Ag, Dosen Pasca Sarjana UIN Ar Raniry Aceh
Rasulullah saw. seorang Nabi yang diutus Allah untuk membimbing umat dalam menjalani kehidupan mereka, menjelaskan ajaran-ajaran Islam yang wajib mereka kerjakan, dan menguraikan perbuatan-perbuatan yang harus mereka tinggalkan. Dan Rasul diutus untuk menegaskan bahwa tujuan diciptakan mereka adalah menjadi hamba Allah yang harus tunduk dan patuh kepada-Nya.
Dalam membimbing ummat, banyak kendala dan halangan yang dihadapi Rasul, terutama pada masa awal-awal Islam, ketika masyarakat Arab baru mendengar agama baru yang dibawanya, sebagian mereka menentangnya, bahkan ada yang menuduh bahwa Muhammad adalah pemuda yang sudah gila, apa yang dibawanya hanya propaganda dan khayalan belaka. Akan tetapi, Rasul dengan sikapnya yang lembut, pemaaf, dan berbagai sifat positif lain yang melengket pada pribadi beliau, dalam menghadapi berbagai tantangan dan cobaan ketika menyebarkan Islam, ia selalu mengelak untuk bersitegang dengan para penantangnya, sebaliknya Rasul selalu menggunakan cara-cara yang santun dalam menyampaikan dakwahnya, seandainya pun harus berdebat dan saling berbantah, ia selalu berdebat dengan cara-cara yang baik, karena dakwah Nabi merujuk kepada surat alNahl ayat 125:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah juga lebih mengetahui orangorang yang mendapat petunjuk.”
Gambaran ini adalah ketika Rasul menghadapi orang-orang musyrik yang non muslim, dia selalu menggunakan logika yang dapat diterima dan dengan pendekatan-pendekatan persuasif lainnya. Selanjutnya, ketika Islam sudah mulai diterima oleh sebagian penduduk Arab, bahkan sebagian besar dari mereka telah mengakui dan menerima ajaran beliau, dalam perkembangan berikutnya tetap saja ada di kalangan umat Islam yang memiliki pandangan-pandangan aneh. Tanpa segan-segan pandangan itu kadangkadang dipaparkan kepada Rasul saw. Salah satu kasus adalah seorang pemuda yang sudah dewasa, belum kawin, tetapi hasrat dan nafsu syahwatnya hampir tak terkendalikan lagi, sehingga suatu hari dia datang kepada Rasul dan berkata padanya:
“Wahai Rasul, izinkan aku untuk berzina.”
Permintaan pemuda ini membuat para sahabat yang langsung mendengar peristiwa ini menjadi marah, bahkan ada yang tidak sabar untuk memukulinya, semua mereka marah. Akan tetapi Rasul dengan sikap kedewasaan yang dimilikinya meminta para sahabat untuk tenang, jangan emosi, dengan kalimat bijaknya Rasul kembali menanyakan kepada pemuda tadi:
“Apakah engkau setuju/rela jika perbuatan zina itu ditujukan untuk ibumu, saudara perempuan kamu, atau bibimu.”?
Mendengar tanggapan tersebut pemuda itu duduk terdiam, dia baru sadar bahwa dia sendiri tidak setuju jika perbuatan jahat itu menimpa keluarganya, akhirnya dia insaf dan tidak lagi berniat untuk melakukan zina seraya meminta Rasul untuk mendoakan kepadanya. Rasul pun akhirnya berdoa kepada pemuda tersebut:
“Ya Allah, jagalah kehormatannya, sucikan hatinya dan ampunilah dosanya.”
Setelah kejadian tersebut, dengan tegas pemuda itu mengikrarkan:
Tidak ada orang di muka bumi ini yang lebih aku cintai daripada Rasulullah saw.
Inilah sosok Nabi yang dijelaskan dalam Alquran:
“Kami tidak mengutusmu wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Contoh lain ketika Umar bin al-Khattab sudah memeluk ajaran Islam, dia langsung meminta Nabi Muhammad untuk mendakwahkan Islam secara terang-terangan dan bersikap keras terhadap kaum musyrikin, tapi Nabi menjawab:
“Allah tidak menyuruhku untuk berbuat demikian.”
Rasul tidak emosi ketika menanggapi sesuatu, Dia tetap menunggu waktu yang tepat untuk menyebarkan Islam secara terangterangan, hingga akhirnya turunlah wahyu dari Allah yang menyuruh Rasul menyebarkan Islam secara terbuka:
“Sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”
Dua kasus di atas dengan jelas menunjukkan bahwa sikap bijaksana dalam melakukan sesuatu merupakan sifat yang harus di kedepankan, tidak dengan cara-cara yang emosional, Rasul telah memperlihatkan kepada kita contoh-contoh tersebut, karena sifat emosi, marah, bengis, sama sekali tidak akan menyelesaikan persoalan, apalagi jika suatu persoalan terjadi di kalangan umat Islam sendiri.
Dalam sebuah hadis Nabi bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah yang mampu berkelahi, tetapi yang dikatakan orang kuat adalah yang sanggup menahan emosi ketika ia marah.”
Karena itu, apapun yang kita hadapi, seandainya menggugah kita untuk harus marah, Islam tetap menuntut kita agar dapat mengendalikan diri dari emosi. Termasuk dalam menyikapi berbagai persoalan umat kita sekarang di Aceh, baik persoalan munculnya ajaran sempalan yang dinilai sesat, pergaulan muda mudi yang sudah jauh dari budaya Islam, tingkat kejahatan yang semakin meningkat, pengguna narkoba telah merasupi masyarakat, semuanya membuat kita murka, marah, menyulut emosi. Tapi, perlu diingat bahwa menyikapi itu semua secara emosional tidak akan menyelesaikan persoalan.
Pada masa Nabi juga muncul pikiran-pikiran yang aneh dari para sahabat, misalnya dalam kasus seorang sahabat yang mengikrarkan bahwa dia tidak mau mengikuti ajaran Islam kecuali hanya apa yang termaktub dalam Alquran, sementara hadis Nabi dia abaikan karena menganggapnya tidak penting. Pikiran ini yang kemudian dikenal dengan golongan ingkar Sunnah.
Tetapi dengan kebijaksanaan yang dimiliki Rasul, dia tidak menanggapinya secara emosi, sebaliknya ia beri pemahaman yang benar sehingga sahabat tadi akhirnya menuruti dan mengiyakan apa yang dijelaskan Rasul.
Inilah cara Rasul dalam memperbaiki pikiran yang aneh, atau sekarang mungkin kita akan mengklaimnya sebagai pikiran atau aliran yang sesat. Tidak dengan emosi, tapi dengan cara-cara yang bijak, sehingga orang-orang yang telah terpengaruh oleh pikiran-pikiran ganjil tersebut akan kembali bersamasama dengan kita, tidak menjauhi dari komunitas kita yang muslim.
Jika terjadi gunjang ganjing diantara kita, khususnya dalam kehidupan beragama, dimana sebagian menilai apa yang dilakuakan oleh orang lain adalah bidah dan mengada-ngada dalam agama. Jika sudah menjurus pada pertikaian, jadikanlah Alquran dan Sunnah Rasul sebagai pedomannya, dalam surat an-Nisa’ ayat 59:
”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alquran dan sunnah Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Hanya Alquran dan Sunnah Nabi yang menjadi patokan kebenaran, keduanyalah sandaran yang harus kita ikuti, sehingga akhirnya kita akan selalu berada pada jalan yang benar. Seandainya ada hal-hal yang tidak dapat dipahami langsung dari Alquran dan Sunnah, mari kita tanyakan kepada para ulama yang paham tentang suatu persoalan, dan di sini ulama adalah pemandu umat, penenang umat, bukan sebaliknya karena sifat emosi yang dimiliki oleh seseorang termasuk juga ulama, menyeret dia untuk mengeluarkan pendapat-pendapat yang memperkeruh suasana.
Karenanya, mari kita hidup secara damai, jika ada hal-hal yang menyesakkan dada kita ketika memperhatikan perubahan-perubahan sosial keagamaan dalam masyarakat, kita harus tenang dalam menyikapinya, tidak mengedepankan emosi.
Kita juga dituntut untuk memiliki sifat kasih sayang bagi semua makhluk, karena apapun perbuatan terpuji yang kita lakukan terhadap makhluk ini tetap akan diperhatikan Allah dan menjadi catatan-Nya untuk pertimbangan hari akhir nanti. Nabi menyatakan dengan jelas:
“Kasihanilah orangorang di bumi, maka penduduk langit (para Malaikat) akan menyayangimu.”
Dalam hadis lain yang agak seirama adalah sabda Nabi:
“Allah akan menolong hambanya, jika hamba tersebut menolong saudaranya.”
Akhirnya, kita berdoa semoga kita termasuk orang-orang yang digambarkan Rasulullah sebagai orang yang selalu berada dalam kebenaran:
“Senantiasa tetap ada suatu kelompok dari umatku yang selalu berada dalam kebenaran, mereka tidak pernah terpengaruh oleh orang lain yang berbeda pandangan dengan mereka.”