PENCIPTAAN DAN PENGINGKARAN

oleh : Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA, Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan tuhan mereka. Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang kebangkitan itu). (QS. Al-An’am 1-2).
Dalam kebanyakan permulaan surat di dalam al-Qur’an, Allah memulai dengan memuji diri-Nya, juga menyanjung diri-Nya atas penciptaan makhluk, termasuk bumi dan segala isinya. Antara lain nikmat Allah adalah diciptakannya terang dan gelap sebagai penyeimbang kehidupan bagi khalifah-Nya (manusia) dan demikian pula bagi makhluk lainnya.
Pada waktu terang, manusia dapat berusaha, beribadah dan me lakukan aktifitas-aktifitas yang bermanfaat, sedangkan pada waktu malam, Allah menyiapkannya sebagai waktu istirahat  untuk manusia. Pembukaan ayat ini adalah untuk mengingatkan kembali orang-orang yang beriman tentang kebesaran Allah. Namun, Allah juga mengatakan, meskipun demikian Allah menyebutkan kebenaran tentang kebesaran dan ketuhanan-Nya, banyak manusia yang mengingkari hal itu dengan menyembah tuhan-tuhan lain.
Dalam hal ini, jika kita melihat sejarah, maka orang-orang zaman dahulu mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain, seperti kayu, batu, gunung, matahari atau segala sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan dan berpengaruh terhadap manusia, sedangkan dalam konteks modern, mempersekutukan Allah itu dilakukan dengan menyembah materi, ilmu pengetahuan dan meragukan eksistensi Allah itu sendiri. Meski bentuknya berbeda, namun pengingkaran atas kebesaran Allah tetaplah merupakan suatu kebatilan, kekufuran dan pengingkaran.
Untuk lebih menyentuh manusia dalam kebesaran-Nya, ayat selanjutnya menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia dari unsur tanah dan demikian juga Allah telah menetapkan kematian manusia itu sendiri. Dengan pernyataan tersebut Allah mengingatkan manusia, bahwa tidak ada gunanya pengingkaran kekuasaan Allah, karena hidup hanya sebentar saja di dunia ini, kemudian ada lagi kehidupan di akhirat, yang mana hanya Allahlah yang mengetahui hakikatnya. Meskipun demikian, Allah juga menyatakan bahwa ada watak se
bagian manusia mengingkari tentang kebangkitan di akhirat itu.
Demikianlah manusia, meski diberikan kelebihan dari pada makhluk lain berupa akal, namun mereka melakukan pengingkaran terhadap kebesaran Allah, bahkan mereka ingkar terhadap kebangkitan kelak. Hal tersebut banyak disebutkan dalam ayat-ayat alQur’an tentang orang-orang yang tidak mempercayai kehidupan alam kubur dan akhirat. Na’udzu billahi min dzalik.