Perang di Yaman

Oleh H. Ameer Hamzah
NEGERI Yaman terletak di sudut barat daya Semenanjung Arabia. Negeri ini sangat masyhur dalam sejarah dunia, sebab di Yamanlah peradaban manusia mulai berkembang. Nabi Sulaiman kawin dengan Putri Balkis dari Saba’ (Yaman). Bendungan Ma’arib yang diceritakan Alquran juga terdapat di Yaman. Sumur Birhut tempat dihukum dua malaikat (Harut dan Marut) juga terdapat di Yaman.
Bahkan ada sebagian mufassirin yang berpendapat surga tempat diciptakan Adam dan Hawa juga di Yaman. Sejak zaman Rasulullah SAW penduduk Yaman telah menerima Islam secara baik. Rasulullah mengirim Ali Bin Abi Thalib dan Mu’az Bin Jabal sebagai hakim di sana. Yaman negeri yang baik, penduduknya juga baik dan santun. Rasulullah menuji orang Yaman sebagai berikut: Dari Abu Hurairah ra; Penduduk Yaman telah datang, mereka adalah orang-orang yang berperangai halus dan berhati lunak. Iman ada pada orang-orang Yaman dan hikmah ada pada mereka (HR: Muslim). Abu Hurairah sendiri adalah orang Yaman.
Tahun 9 H. Islam masuk ke Yaman. Setelah penduduknya memeluk Islam, Yaman tumbuh kuat menopang agama yang baru ini. Yaman sangat berjasa dalam dakwah Islamiyah. Setiap perang melawan kafir, tentara-tentara Yaman tetap turut berjihad di garis depan. Yaman memang sejazirah dengan Arab Saudi, sama-sama mus
lim tetapi penguasa berbeda mazhab. Rakyat Arab Saudi bermazhab Hambali (Sunni) dan sebagian rakyat Yaman bermazhab Syiah Zaidiyah.
Pengaruh mazhab Syiah di Yaman telah mengkhawatirkan Arab Saudi yang Sunni. Tapi bukan sematamata masalah mazhab, Saudi juga takut menguatnya pengaruh Iran dengan revolusinya yang dahsyat (1989) menggulingkan system kerajaan diktator. Saudi tidak ingin kerajaannya yang kaya raya itu tumbang di tangan kaum Syiah.
Sebagai muslim, kita sangat menyayangkan terjadi prahara di Yaman. Mengapa senjata-senjata mereka membunuh saudaranya muslim dan muslimat? Mengapa senjatasenjata itu tidak diarahkan
ke Israel? Tapi begitulah kondisi umat Islam dewasa ini yang menjadikan Amerika Serikat sebagai “bapak”nya. Orang-orang Israel seluruh dunia meloncat kegirangan dan bertepuk tangan.
Syiah yang kini memborontak di Yaman adalah mazhab di luar Ahlusunnah wal Jamaah. Mereka mengklaim dirinya yang paling benar karena mengikuti Ahlul Bait Nabi. Lalu Ali Bin Abi Thalib, Hasan, Husin, Ali Zainal Abidin, Jakfar Sadiq dan anak keturunannya sampai 12 orang dianggap oleh Syiah Imamiyah sebagai imam (pemimpin) suci (Maksum) yang sah berdasarkan wasiat Nabi. Dengan demikian, khalifah Abubakar Siddiq, Umar Bin Khattab, Usman bin Affan, Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah yang berkuasa setelah Alkhulafaurrasyidin dianggap tidak sah.
Menurut Prof DR. Syeikh Ihsan Ilahi Zahir dalam kitabnya “Syiah Menikam Dari Dalam” Syiah memang golongan sesat dan menyesatkan; mereka mengkafirkan para sahabat Nabi yang tidak mendukung Ali sebagai khalifah. Mereka juga tidak mau menerima hadits dari Abu Hurairah dan Aisyah Ummul Mu’minin. Dalam sejarah, Syiah selalu bermusuhan dengan kaum Muslimin Ahlussunnah wal Jamaah.
Menurut Prof. Dr. Syeikh Ahmad Amin; Sejak awal kelahirannya, Syiah telah ditunggangi oleh kaum Yahudi dan Persia munafik yang sakit hati kepada Islam. Abdullah Bin Saba’ tokoh Yahudi adalah propagandis Syiah pada awal Islam. Ajaran Syiah lebih dekat kepada agama Majusi ketimbang ke Islam. Demikian pendapat Prof Dr. Aboebakar Atjeh. Wallahu a’lam.
Sejak revolusi Iran, 1989, Syiah semakin terkenal di dunia. Banyak umat Islam yang tertarik dengan pemikiran-pemikiran Ayatullah Ruhullah Khumaeni yang anti Yahudi dan Amerika. Iran yang sekuler diubah Khumeini menjadi Negara Republik Islam Iran dengan lambang negaranya “Allah”. Kebanyakan umat Islam sunni (Ahlussunnah waljamaah) lebih simpati kepada Iran daripada Arab Saudi yang begitu akrab bersahabat dengan Amerika.
Syiah semakin kuat, Irak yang dulu dipimpin oleh rezim Saddam Husein yang sunni, kemudian digulingkan oleh para sekutu Amerika dan sekutu Arab Saudi karena Saddam berniat untuk memerangi Mekkah. Begitu juga Muammar Qadafi dari Libiya. Saddam Husein dieksikusi di tiang gantungan. Qadafi dibunuh rakyatnya. Ternyata setelah pemilu, kaum Syiah di Irak menang mutlak mengalahkan kaum Sunni. Negara Syiah bertambah satu lagi. Arab Saudi menjadi gelisah, apalagi Ayatullah Khumeini pernah menuduh rezim Arab Saudi sebagai boneka Amerika yang harus digulingkan.
Makanya, Arab Saudi menutuskan untuk menyerang Yaman yang kini dikuasai oleh Kaum Syiah. Arab Saudi sangat berharap supaya Yaman tetap menjadi Negara Sunni dan sebagai penyangga Arab Saudi dari Selatan. Jika Yaman jatuh ke tangan Syiah, tidak mustahil Bahrein yang mayoritas Syiah, namun penguasanya Sunni, juga bisa menggulingkan raja mereka. Bagi Arab Saudi yang Sunni-Wahhabiyah tetap melihat Syiah sangat berbahaya bagi rezim mereka.n