Tetap Beramal Walau Status tidak Tetap

Sayuthi, SPd, Guru Tidak Tetap MIN Lambhuk, Banda Aceh
Sosok sederhana ini bukanlah seorang guru berprestasi akademik. Keteladanannya tidakkan diakui atau pun terdaftar pada instansi yang berkompeten. Namun bagi rekan seprofesinya di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Lambhuk, Ulee Kareng – Banda Aceh pria low profil ini cukup disegani dan patut mendapatkan acungan jempol. Seperti halnya pengakuan Cut Shafiyah sesama guru di tempat yang sama, “Pak Sayuthi adalah orang yang ikhlas dalam menjalankan tugasnya dan mencurahkan segenap pengabdiannya dalam mendidik siswa. Bahkan ia hadir lebih cepat sebelum guru lainnya datang ke madrasah,” pengakuan Cut.
Tokoh tersembunyi kita kali ini adalah Sayuthi SPd. Panggilannya dalam turut mendidik dan mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan citacitanya. Namun untuk meraih harapannya tidaklah mudah. Karena ayahnya Zainun dan ibunya Zainab meninggal dunia tahun 1980, saat usianya belum beranjak remaja. Zainun-Zainab orang tua tercinta meninggalkan 7 orang anak yatim-piatu. Sedangkan Sayuthi merupakan anak kedua, namun lelaki tertua diantara saudaranya.
Lelaki kelahiran Lambhuk Banda Aceh, 12 April 1968 ini merasa bertanggungjawab untuk membantu keberlang sungan hidup dan pendidikan adik-adiknya yang masih kecil. Kesulitan ekonomi membuat ia mesti menyambi bekerja selagi sekolah kelas 3 SMA. Saat di perguruan tinggi ia harus berjibaku dengan pekerjaan sembari kuliah.
Ketekunannya dalam membiayai pendidikannya beserta saudara lainnya membuatnya rela telat dalam menikah. “Saya menikah pada usia 35 tahun,” sebut alumni STKIP Serambi Mekkah, 1999 ini. Isterinya, Nina Herlina juga seorang guru yang mengajar di SMP Negeri 17 Banda Aceh. Namun sayang kedua pasangan cek gu yang menikah sejak tahun 2003 ini sampai kini belum dikarunia anak. Kita berdoa, semoga kebahagiaan keduanya disegerakan dengan kehadiran sang buah hati.
Sayuthi bergabung sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) di MIN Lambhuk sejak tahun 2005. Kala itu perjamnya ia mendapatkan honorarium sebesar Rp. 8 ribu. Sedangkan dalam setiap minggu ia mendapatkan kewajiban mengajar hanya 12 jam. Minim memang. Tahun 2011 guru kelas ini berhasil mendapatkan sertifikasi, dengan sendirinya membawa berkah baginya. Namun tetap saja ia harus menambah penghasilan, di sore hari ia membantu usaha meubel milik temannya, “Pak Wan Perabot” tak jauh dari tempatnya tinggal dan mengajar.
Mata pelajaran yang diasuhnya adalah matematika. Menurut anggapannya dalam mengajar ia masih merasa kekurangan disebabkan sebagian dari sejumlah muridnya belum merasa nyaman dan antusias menerima bimbingannya. Kini ia tengah mencari metode bagaimana pelajarannya akan  disuka murid-muridnya. Namun pembaca tentu sepakat, sesabar dan sepandainya guru mengajar matematika yang termasuk pelajaran sulit tetap saja tidak semua murid mampu mencerna dan menyukainya.
Sayuthi terus saja mengajar dan membimbing, termasuk melaksanakan pelajaran tambahan bagi siswanya yang dulunya merupakan tempatnya bersekolah masih bernama Madrasah Ibtidaiyah Swasta Lambhuk. Sampai-sampai seolah melupakan bahwa ia sampai kini belum juga diangkat sebagai calon pegawai negeris sipil (CPNS) di Kementerian Agama. Padahal namanya sudah termasuk dalam data base Kategori 2.
Walau tak diminta, seharusnya pihak berkompeten berperan dalam percepatan haknya untuk diangkat  sebagai guru negara setelah ia dan juga masih banyak pendidik lainnya telah menjalankan kewajibannya selaku pemegang status K-2. NA RIYA ISON