Ulama Tentukan Standar Islami Media Online

Teuku Farhan, S.Kom, Direktur Eksekutif MIT Aceh
Berbagai media online sudah berkembang di bumi Serambi Mekkah, apakah semua media online yang lahir di Aceh sudah Islami, sesuai dengan syariat? Berikut kutipan wawancara wartawan Gema Baiturrahmna Indra Kariadi dengan Direktur Eksekutif MIT Aceh, Teuku Farhan, S.Kom.
Apa arti media online yang islami menurut Anda?
Media online islami adalah media yang berisi konten multimedia berupa berita/artikel,berita foto,berita video yang dikemas sesuai dengan nilai-nilai islam bersandarkan pada quran dan hadits.
Bagaimana media online yang islami?
Media online yang islami berisi konten positif dan bermanfaat, tidak berisi konten yang sia-sia,karena ada sebagian media yang namanya islam dan membuat kesan dirinya toleran padahal isinya konten liberal,sekuler,pluralisme yang justru jauh dari nilai-nilai islami dan menjerumuskan umat islam ke dalam kesesatan bukan pada kebenaran, media islami tidak berisi berita fitnah, berita bohong, gosip, vulgar, tidak beradab, media online islami kon
tennya juga mesti bermanfaat bagi seluruh umat manusia lintas agama dan sekalian alam, bukan cuma untuk manusia.
Apakah media online yang berkembang di Aceh tidak islami?
Sejauh pantauan saya yang sangat terbatas, media online di Aceh sudah berkembang menjadi islami, apalagi di Aceh ada kalangan komunitas wartawan peduli syariat islam yang menambah cahaya islam tersebar di berbagai media online, walau tidak kita pungkiri ada sebagian kecil media yang mengolokolok syariat Islam.
Kalau data lengkap tentang media islami di Aceh, saya kira perlu di survei dulu oleh MPU Aceh dan pihak terkait, karena standar islami atau tidak, ulama yang berwenang menentukan, dan bagus sekali kalau dibuat rilis media yang islami di Aceh, saya kira umat sangat menanti agar kita memiliki panduan yang jelas, karena umat saat ini haus akan media islami di tengah menjamurnya media yang merusak moral dan menjauhkan generasi muda pada kecintaan pada Islam.
Bagaimana media online itu diislamisasikan?
Saya kira tidak perlu di paksa untuk di islamisasikan, biarkan saja berjalan alamiah dan berserah diri kepada Allah, yang paling penting kita setiap muslim punya tanggung jawab bersama untuk bangun ruh cinta dan bahagia hidup bersama islam, yakni dengan cara berperilaku islami di rumah, di jalan raya, di kantor, dimana pun kita berada, termasuk di dunia online, misalnya kita mulai dari diri sendiri, hindari klik media yang tidak islami, karena dengan klik media tidak islami, kita turut menyumbang peran sebagai orang yang terlibat dengan tumbuhnya media tidak islami, kita harus beralih dan klik media islami seperti media Gema Baiturrahman ini, baiturrahmanonline.com, jika ada 1 juta muslim Aceh aktif di internet setiap hari menyedekahkan jarinya untuk klik media islami, insya Allah semua media di Aceh akan islami.
Jadi tidak perlu lah memaksa orang untuk menjadi islami, kita berusaha dengan usaha terbaik, bek cilet-cilet, serahkan kepada Allah agar Allah curahkan cahaya hidayah kepada siapa yang dikehendaki. Kalau mau islami, buat saja media online lain yang menurut kita islami dan dikelola secara professional dan wajib didampingi oleh ulama akhirat, insyaallah, Allah selalu bersama orang-orang yang berjuang di jalan kebaikan.
Apa harapan Anda kepada pemerintah dalam mengawal media agar menjadi media syariah?
Aceh telah dikaruniai “investasi” tak ternilai, yakni syariat islam, jadi tak perlu cari investor lain, investasi syariat islam ini mesti dimanfaatkan secara luas dalam berbagai bidang baik itu islamisasi dalam bidang ekonomi, pendidikan termasuk media, kita berharap pemerintah memberi perhatian khusus kepada media Islam dan elemen masyarakat yang peduli terhadap media islam, ini juga bermanfaat bagi pemerintah sebagai bagian dari sosialisasi syariat Islam, karena syariat Islam sering dibelokkan oleh orangorang yang belum paham, ini dikarenakan pemerintah kurang berpartisipasi aktif dan perhatiannya sangat rendah terhadap media online. Indra Kariad