Catatan Perjalanan dari Istanbul–Turki (Bagian Terakhir) Dari Batu AkikSampai Batu Nisan

KALAUdi Aceh sedang euphoria dengan batu giok, ternyata di Turki tepatnya Istanbul juga tak kalah dengan batu  akik, konon terbagus dan dicari pendatang dari Indonesia. Tempat penjualan batu akik ada di Pasar Mesir yang berdekatan dengan dermaga penyeberangan ke daratan Eropa. Saya mendapat informasi dari mahasiswa Indonesiayang sudah lima tahun menetap di Istanbul tentang batu akik Turki. Pasar itu ramai dikunjungi berbagai ras sehingga kelihatan berdesakan sepanjang lorong yang ingin memborong oleh-oleh berupa souvenir khas Istanbul.
Di sebuah toko penjualan khusus aneka batu, saya melihat ada bongkahan batu dan hasil yang sudah diproses dalam lemari kaca. Pemilik toko tidak pintar menjelaskan jenis-jenis batu yang dipajang itu secara detil, kecuali menyebutkan akik saja. Berbeda dengan kondisi hari ini di Aceh, setiap pecinta batu apalagi kolektor pasti hafal dengan nama-nama batu untuk meyakinkan pembeli.
Saya melihat aneka batu berwarna warni dengan berbagai corak dan motif selain ada juga seperti warna giok dengan warna hijau lumut, kuning belimbing, biru fairuz, merah delima dan lain-lain. Ada yang sudah berbentuk cincin, ada pula dalam bentuk bulat seperti telur ayam. Tidak sedikit yang masih dalam bentuk bongkahan kecil seberat 100 – 200 gram. Mungkin karena saya kurang suka batu sejak di Aceh, maka pemandangan tersebut terlewatkan begitu saja dan hanya memotret sebagai dokumentasi. Saya tidak tahu bahwa batu-batu tersebut kualitasnya tergolong bagus meskipun mungkin batu giok Aceh jauh lebih berkualitas. Ketika saya tunjukkan hasil pemotretan batu akik tersebut kepada teman-teman pencinta batu setiba saya di Aceh, merekapun menyesali kenapa saya tidak  memborongn- ya untuk dijual dengan harga mahal di Aceh. Untuk menghiburnya, saya berjanji suatu saat akan balik lagi khusus untuk membeli batu akik Turki.
Selama di Istanbul saya juga sempat ziarah ke berbagai makam para sultan Usmaniyah yang berjasa dalam pengembangan Islam terutama di Bursa sekitar 2,5 jam perjalanan dengan bus dari Istanbul. Makam-makan itu terletak tidak jauh dari Masjid Ulu Cami yang banyak dikunjungi pelancong berbagai negara. Makam-makan para  sultan seperti Osman Gazi dan keluaganya tidak terlihat batu nisan, tetapi dalam bentuk keranda yang dilapisi kain berwarna hijau dengan sorban di bagian atas. Khusus makam Osman Gazi dibedakan dengan kain pentup berwarna coklat.
Dalam sejarah disebutkan, saat kekuasaan Bani Seljuq melemah, para panglima yang dulunya diberi daerah kekuasaan oleh Sultan Seljuq mendirikan kesultanan sendiri, yang disebut Kesultanan Ghazi. Sebenarnya Osman telah diberikan kekuasaan otonom oleh Sultan Seljuq di wilayahnya. Ia diberikan kuda, panji, dan drum sebagai lambang kekuasaan. Sehingga saat Seljuq meredup maka kekuasaan Ottoman muncul ke permukaan. Inilah awal bedirinya kekuasaan Ottoman, sehingga yang tercatat sebagai sultan pertama Ottoman adalah Sultan Osman Ghazi (1299– 1324 M). Demikian pula kesultanan tersebut menabalkan namanya berdasar nama Osman, Osmani/ Utsmani.
Berbeda dengan komplek makam yang saya ziarahi di sekitar Istanbul yang hampir mirip makam atau kuburan di negeri kita yang di atasnya ditandai dengan batu nisan bertuliskan nama dan tanggal lahir/ meninggal. Di makam ulama besar Sulaeman Hilmi Tunahan misalnya, makamnya terdapat dalam komplek seluas 2 hektar lebih, tetap bertuliskan nama dan tanggal wafat di batu nisan. Beliau adalah seorang ulama besar yang terkemuka di Turki, yang berusaha keras secara diam-diam mengajarkan dan menyebarkan Islam pada masa Mustafa Kemal Ataturk menjadi presiden pertama Republik Turki. Saat itu sangat dilarang pengajaran atau pendidikan agama di Turki karena Turkidi bawah pemerintahan sekuler. (Basri A. Bakar)