Jangan Apriori pada Politik

Tgk. Imran Abu Bakar, Ketua Umum Rabithah Thaliban Aceh
Pada penghujung Muktamar ke-IV di markasnya kawasan Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar, 8 April dini hari lalu organisasi massa berbasis santri, Rabithah Thaliban Aceh (RTA) berhasil memilih pimpinan baru.
Tgk Imran terpilih untuk menggantikan Tgk Hasbi Albayuni Ketua RTA sebelumnya. Pada penjaringan calon ketua selain Tgk Imran muncul nama calon kuat lainnya yaitu Tgk. Marbawi Yusuf, Tgk Akmal Abzal, Tgk Khaidir Rijal dan Tgk Zulfahmi. Ketiga nama terakhir, mengundurkan diri sehingga persaingan ketat terjadi antara Tgk Imran dan Tgk Marbawi.
Tgk Imran yang biasa dipanggil Tgk Batee akhirnya terpilih menjadi Ketua RTA periode 20152019 dengan perolehan 51 suara sedangkan Tgk Marbawi memperoleh 42 suara dari total 93 suara pemilih. Kandidat doktoral Program Studi Fiqh Modern UIN Ar-Raniry ini diharapkan mampu mempersatukan seluruh santri Aceh baik berasal dari dayah salafi (tradisional) maupun pesantren modern.
Menurut pria kelahiran Batee Pidie, 21 Januari 1979 ini, RTA bukan organisasi yang berafiliasi atau pun underbow partai politik tertentu. Namun ia tidak menampik untuk memuluskan kadernya apabila berhajat menjadi pelaku politik praktis. “Rabithah Thaliban Aceh akan membantu kadernya atau pihak mana pun yang memiliki program bermanfaat dalam peningkatan kehidupan beragama dan Kemasyarakatan,” kata suami dari Nuzulia ini. Namun kesemua prilaku, tindakan dan dukungan diberikan lembaga kader dakwah ini selama tetap berpedoman pada ahlul sunnah wal jama’ah.
“Kader RTA diharapkan tidak apriori terhadap politik,” tambah putra dari pasangan Tgk. Abubakar Bahar dan Umi Handarmiati ini. Lebih lanjut dosen Institut Agama Islam Al Aziziyah Samalanga ini menyebutkan bahwa urusan politik turut mempengaruhi hampir pada semua sendi kehidupan.
Ia tidak memungkiri sebagian masyarakat alergi terhadap urusan satu ini disebabkan Jangan Apriori pada Politik Tgk. Imran Abu Bakar, Ketua Umum Rabithah Thaliban Acehbanyak politisi berbuat dengan tidak mengenal halal-haram demi terpenuhi ambisi pribadi atau golongan. “Berpolitiklah dengan santun dan sesuai dengan hukum yang berlaku. Mari berpolitik dengan berpikir sehat dan tidak berbuat serampangan yang berakibatkan kerugian umat,” pesannya.
Pada perhelatan muktamar selain memilih kepemimpinan baru beberapa pekan sebelumnya juga digelar diskusi publik dengan tema, “Meneguhkan kepemimpinan dan peran RTA dalam mempersatukan jaringan santri dayah di Aceh dalam mewujudkan kebangkitan tamaddun Islam di Aceh,”.
Muktamarin juga menghasilkan sejumlah rekomendasi yang bersifat eksternal dan internal,  poin penting tesebut antara lain; RTA berkomitmen penuh bersama pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam menjaga perdamaian Aceh, menolak radikalisme dan upaya pemurtadan di Aceh. Rekomendasi lainnya, kader santri diharapkan
lebih membuka diri dan memperluas jaringan, sehingga keberadaannya lebih diperhitungkan oleh komponen lainnya.
Pemilik motto dengan mengabdi, meraih ridha Ilahi ini berkomitmen untuk membawa RTA menjadi organisasi solid. Salah satu upaya lain yang akan dilakukan melalui organisasi kader dakwah ini adalah memerangi ghozwul fikri sekaligus berupaya membentengi umat khususnya setiap kadernya dengan penguatan  akidah. NA RIYA ISONP