Keingkaran Manusia

Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA, Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman
Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan. Dan tidak ada suatu ayatpun dari ayat-ayat Tuhan sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling dari padanya (mendustakannya). (QS. al-An’am 3-4).
Demi keagungan-Nya, Allah memperkenalkan kebesaran DzatNya yang Maha Agung dan Maha Tinggi dengan ketundukan alam semesta kepada-Nya. Allah adalah Tuhan yang yang berhak disembah oleh semua yang ada di langit, dan Dia pula Tuhan yang berhak disembah oleh seluruh yang ada di bumi. Allah Swt mengetahui semua yang lahir dan batin, mengetahui gerakan, bersitan hati, ucapan jiwa lebih-lebih lagi Allah Maha Mengetahui semua amalan kita, yang baik maupun yang buruk. Allah mengetahui semua segala hal yang tersurat dan tersirat, mengetahui baik buruknya pekerjaan kita yang mana semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.
Allah selalu mengajarkan kita kemurnian tauhid, dengan tidak menjadikan sesuatupun sebagai bandingan bagi Dzat-Nya yang Maha Agung. Untuk memperkenalkan diri-Nya sebagai pemilik alam raya, Allah mengulangulang ke-Maha Besar-an dalam banyak ayat al-Qur’an. Hal ini merupakan kemurahan-Nya kepada umat manusia agar selalu mengingat Keesaan dan Kekuasaan-Nya.
Namun, peringatan Allah berbanding terbalik dengan peningkaran yang dilakukan oleh umat nabi terdahulu, bahkan sampai pada Nabi Muhammad. Pengingkaran tersebut diutarakan dalam bentuk ketidakpercayaan yang beragam. Sebagian pengingkaran itu ada dengan menanyakan ‘apakah tulang-belulang akan dihidupkan kembali?”, ada juga pertanyaan ‘jika benar Allah itu ada, kenapa tidak mengirim malaikat saja sebagai rasul-Nya?”. Itulah pengingkaran dan kedustaan atas kebenaran. Syaitan selalu membisikkan pertanyaan-pertanyaan untuk mengaburkan cahaya keimanan dalam hati sanubari kita.
Pertanyaan kembali kepada kita, apa yang telah kita lakukan untuk mengakui kebesaran Allah? Apakah telah kita lakukan apa yang diperintahkannya? Dan apakah kita telah menauladani Rasulullah sebagai nabi-Nya? Semua pertanyaan ini kembali kepada kita untuk menjawabnya. Seyogyanya, sebagai kaum muslimin, kita tetap taat dan patuh terhadap perintah dan laranganNya. Hati-hatilah bersitan hati kita yang dibisiki syaitan untuk mempertanyakan eksistensi-Nya, kekuasaan-Nya, kemurahan-Nya dan segala sifat yang dinisbahkan kepada-Nya. Terlebih lagi di zaman  ini,  fitnah  dalam  agama begitu banyak dan beragam serta terus menerus mendera kaum muslimin dari segala penjuru. Allahumma ihdinaa ash-shirath almustaqim.