Kota Wisata Islami Dunia

“Kami ingin menjadikan kota madani sebagai daerah tujuan wisata. Kota Banda Aceh telah memenuhi kebutuhan dasar wisatawan Muslim.” Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal dalam acara Peluncuran Pariwisata Banda Aceh sebagai World Islamic Tourism di Kementerian Pariwisata, Jakarta, Selasa (31/3). Acara ini diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, membaca Quran disusul membaca doa. Selanjutnya inti acara.
Wali Kota Banda Aceh secara berani dan menyakinkan bahwa Banda Aceh adalah kota yang memiliki keistimewaan dalam mengelola daerah secara islami. Dengan keistimewaan ini, , kota ini diharapkan dapat menjadi Kota Wisata Islami Dunia. Mendengar nama Syariat Islam atau wisata Islam, ada sebagian warga merasa tidak nyaman. Maklum, Syariat Islam dimaknai sebagai hukum cambuk. Dalam bahasa lain, aturan di Aceh menjadi hal yang menakutkan bagi wisatawan dari luar daerah. Bahkan ada yang berpikir, yang non Islam pun mesti menutup aurat. Padahal kita paham, yang non Islam tidak perlu memakai berhijab, hanya memakai baju yang menutup aurat jika masuk ke serambi masjid dan lain-lain. Bahkan ada warga yang belum tahu bahwa di Banda Aceh ada empat gereja, vihara (tapekong) serta sebuah kuil.
Kita sepakat, deklarasi Banda aceh sebagai kota tujuanwisata islam itu layak kita dukung. Sejatinya, pada era gubernur Prof Ibrahim Hasan sudah digaungkan dengan sebutan wisata spiritual yang memperkenalkan Aceh sebagai tempat wilayah wisata untuk menyaksikan Masjid Raya Baiturrahman, makam ulama dan sebagainya. Menjadikan Banda Aceh sebagai pusat Wisata Islami Dunia dengan objek wisata religi, kapal ikan di atas rumah, Kapal Apung PLTD di yang terhempas ke pemukiman warga, heritage dan adat istiadat yang kaya menempatkan Aceh menjadi salah satu kota tujuan wisata nusantara dan mancanegara. Daya tarik Banda Aceh secara islami yaitu sebagai kota syariah satu-satunya di Indonesia. Kota spritual yang memiliki nilai heritage dan sejarah yang kuat. Sebagai kota tamadun, Banda Aceh memenuhi syarat landmark Islam dengan Masjid Raya Baiturrahman sebagai pusat wisata spritual.
Apa yang diharapkan setelah dideklarasikan Banda Aceh sebagai Kota Wisata Muslim? Ya antara lain turis yang Islam dan non Islam yang menginjak kaki di Banda Aceh menemukan hal-hal yang benarbenar Islam. Misalnya, tidak ditipu atau barang dimahalkan karena dibeli oleh turis. Ketika barang tercecer, barang itu dikembalikan kepada pemiliknya sebab menyakini Allah SWT mengetahui tindakan hamba-hamba-Nya. Satu lagi dengan klaim tersebut atau tanpa klaim, kewajiban bagi setiap umat Islam untuk menjaga kebersihan toilet/kamar mandi sebagaimana bunyi hadits yang lemah berikut ini yakni Kebersihan adalah sebagian dari iman.
Kita paham, bisnis yang tidak pernah kering dari uang masuk dan tidak pernah habis digali yakni bisnis pariwisata. Bahkan yang berumrah juga ditawarkan berpiknik/menziarahi ke berbagai daerah.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Pariwisata Arief Yahya memuji wali kota Banda Aceh atas keberaniannya membawa Banda Aceh ke level dunia. Arief mengatakan bahwa wisata spiritual tidak diragukan lagi menjadi salah satu destinasi wisata yang laris seperti Mekkah dan Vatikan yang ramai dikunjungi jutaan manusia untuk melakukan perjalanan spiritual. Haji, umrah ke Mekkah , Vatikan laku, Sungai gangga dikunjungi oleh jutaan turis setiap tahun. tidak diragukan lagi, wisata berbasis religi itu laku sepanjang masa.
Bagi umat Islam, anjuran untuk melalang buana sudah digariskan dalam kitab suci. Berjalan di muka bumi akan semakin menambah pengalaman serta ketaqwaan. Hal  ini  sejalan  dengan  firman Allah SWT yakni, “Katakanlah : Berjalanlah di muka bumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. al-’Ankabut: 20).Murizal Hamzah.