Profesionalisme Media, Kokohkan Dakwah Islam

Media online tidak dapat dipungkiri merupakan salah satu kebutuhan hidup di era globalisasi digital. Kehadiran media online, selain mendekatkan jarak dan mempersingkat waktu, juga memberi khazanah pengetahuan yang luas untuk pembacanya. Khususnya media online Islam. Kehadirannya selain mengabarkan berita terkait aktivitas keummatan, juga menjadi sarana mempertebal iman dan meningkatkan keilmuan.
Melihat peran vital media Islam online ini, tindakan pemblokiran 22 situs Islam oleh Kemenkominfo akhir Maret 2015, atas rekomendasi BNPT merupakan pukulan tersendiri bagi keberlangsungan dakwah Islam. Namun demikian, terlepas dari aksi gegabah Pemerintah melalui tangan BNPT dan Kemenkominfo, peristiwa pemblokiran media Islam ini seharusnya juga menjadi pembelajaran tersendiri bagi media Islam untuk melakukan berbagai pembenahan.
Pembenahan ini harus dilakukan mengingat adanya pernyataan dari Dewan Pers yang menganggap bahwa situs-situs terblokir bukanlah tergolong produk jurnalistik. Padahal, banyak pakar komunikasi yang menyatakan bahwa kerja peliputan, pengolahan data, dan pelaporan yang dilakukan oleh situssitus Islam tersebut, sudah
merupakan bagian dari aktivitas produk jurnalistik.
Propesionalitas
Bertolak dari banyaknya stigma negatif yang dilekatkan pada media Islam inilah, media Islam, khususnya media online sebagai ujung tombak pemberitaan yang paling cepat dan paling mudah diakses umat, harus melakukan perbaikan baik pada sisi kualitas sumberdaya wartawan, kualitas berita yang disuguhkan, maupun badan hukum yang menaungi media tersebut.
Dimulai dari kualitas sumberdaya wartawan. Wartawan media Islam seringkali mendapat stigma sebagai wartawan yang tidak profesional dalam menyajikan berita. Ketidak profesional tersebut bisa berupa kesalahan redaksional, pemilihan narasumber yang tidak beragam,  minim  konfirmasi, hingga liputan yang dangkal.
Stigma yang dilekatkan ini, harus dibuang jauhjauh dengan meningkatkan profesionalitas wartawan media Islam. Wartawan media Islam harus meningkatkan dan memperbaharui kemampuannya dalam masalah tata-bahasa, penguasaan diksi, dan penggunaan kalimat yang tepat dalam penulisan berita. Jadi tidak terkesan asal tulis dan berakibat pada redaksional yang berantakan. Dalam upaya meningkatkan keahlian ini, wartawan media Islam online harus rajin meng-upgrade kemampuan dengan mengikuti pelatihan pusat tata bahasa, gemar membaca buku-buku referensi, bahkan membaca karya sastra sehingga dapat menyuguhkan gaya tulisan yang menarik.
Dalam masalah konten, wartawan media Islam juga harus memperhatikan kaidah cover both side. Sehingga, berita yang disuguhkan obyektif, proporsional, dan dapat dipertanggung-jawabkan. Untuk memenuhi kaidah ini, wartawan media Islam diwajibkan untuk gigih mencari berbagai sumber dan narasumber yang terkait dengan pemberitaan yang akan diturunkan. Sehingga berita yang tersaji adalah data, bukan opini.
Pendalaman berita juga harus diperhatikan. Berita yang dangkal tanpa sumber data yang otentik hanya akan membuat bobot berita tumpul, mudah disanggah, dan mengarah pada subyektifitas  belaka.  Pendalaman berita dapat diperoleh dengan pembatasan isu yang akan diangkat. Sehingga sorot berita tajam mengupas dan menuntaskan keingintahuan pembaca.
Satu hal lagi yang tak boleh dilupakan oleh pekerja media Islam online dan pendirinya adalah masalah badan hukum. Ibarat orang yang sedang berjuang, tentu tak boleh mengabaikan senjata untuk melindungi dari marabahaya. Itulah fungsi badan hukum, sebagai payung bila terjadi sesuatu yang terindikasi mengancam secara hukum.
Inilah aspek-aspek yang harus diperhatikan oleh pendiri dan awak media Islam online agar situs yang dikelola benar-benar menjadi wadah dakwah yang kokoh mengusung syariat sekaligus profesional. Bagai manapun, situs Islam dan awaknya memiliki posisi strategis dalam dakwah.
Tulisan seorang wartawan dan berita yang disuguhkan oleh situs Islam menjangkau audiens yang luas, terakses dalam hitungan detik, dan tak terbatas jarak. Meningkatkan kualitas dan memanfaatkannya secaraoptimal akan menjadi kekuatan penegakkan syiar Islam.Ibnu Syafaat.