NAHDLATUL ULAMA ACEH DARI MASA KEMASA

SejaraH Nahdatul Ulama lahir di aceh dan berkembang di Aceh, Wakil ketua tanfidziyah PWNU Aceh A. Adli Abdullah menyebutkan masuk di Aceh sejak tahun 1940 dan di pengang oleh Tgk. Hasan Samalanga.
Menurut Adli NU pertama kali masuk ke Aceh pada tahun 1940 yang di pegang oleh mandat Tgk. H. Hasan Samalanga, yang menjabat pada waktu itu menjabat sebagai kepala Jawa
tan agama aceh yang sekarang di kenal dengan kemenag aceh. Gusdur biasa memanggil Tgk. H. Hasan Samalanga dengan sebutan ayah Samalanga. NU di tangan beliau sampai pada tahun 1973″, tutur dosen Fakultas hukum Unsyiah.
adli melanjutkan, setelah NU menjadi partai politik pada tahun 1955, NU di aceh tidak terlalu berkembang dan mengah karena masyarakat aceh lebih meminati ormas masyumi, dan ketika NU bergabung dengan PPP pada tahun1977. NU mulai hidup lagi dan berkembang menjadi ormas islam.
Adli memnyebutkan NU di aceh kalah saing dengan ormas islam lainnya, setelah masalah reformasi.
“Setelah reformasi NU di Aceh kalah saing dengan ormas islam lainnya. Saya meminta kepada NU bisa membawa diri, sehingga mempengaruhi kebijakan pemerintah yang bisa mengayomi kaum Nahdliyin untuk kemajuan Aceh” papar Adli.
Adli mengharapkan kepada Pengurus Wilayah NU aceh yang baru agar bisa membawa NU aceh bisa berakar di Aceh dan harus masuk-masuk ke Pesatren/dayah karena kaum nahdiyin dikenal dengan sarungan.
Sekretaris tanfidziyah PWNU Aceh tgk. Asnawi M. Amin, S.Ag mengatakan, NU ini adalah sebuah organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, jadi NU ini bergerak dibidang agama, sosial, adat dan budaya. Jadi NU di Aceh dari masa kemasa kita melihat ini semakin berkembang dan semakin dirasakan ada mamfaatnya oleeh masyarakat aceh, kalau dulu NU ini dianggap kaum sarungan yang hanya berbasis di pondok-pondok pesatren salafi, tapi sekarang kita melihat sudah merambah ke berbagai penjuru wilayah.
ketika NU menjadi pertain politik NU di Aceh tidak terlalu mengah dan terjadi tarik menarik antara kepengurusan.
Hubungan NU dengan partai politik, pertama NU dulu memang adalah sebuah partai pada tahun 1955 sebagai partai politik, dengan memperolehan suara pasang surut, kadang-kadang pemilu ini naik dan pemilu depan turun, serta terakhir di ambil kebijakan NU ini tidak dibawa kemana-mana, maka NU ini kembali ke khithah 1926, dan warga NU berkiprah politiknya ke PPP. Jadi NU dengan partai politik tidak bisa di pisahkan, baik dengan PPP, PKB dan partai politik lainnya, artinya orang NU adalah orang-orang politik, tapi secara organisasi NU ini tidak boleh dibawa kesebuah Partai Politik, setelahnya khithahnya kembali ke khithah 1926. karena di partai politik ada istilah adalah sikut sana sikut sini, ada yang senang ada yang tidak, seperti sekarang ini, tetapi kita melihat NU walaupun sudah khithah NU ini masih diperebutkan, seperti PKB dan juga partai lain. Tetapi secara organisasi NU tidak boleh berdiri pada sebuah partai politik, tapi warganya silahkan berpolitik,” tutur Asnawi yang juga anggota MPU kota Banda Aceh.
Asnawi menceritakan sejarah NU di Aceh, NU ada di Aceh sudah lama tetapi NU di Aceh ini tidak pernah berkembang, pada tahun 1960 an, yang pada waktu itu di pengang oleh Pak Yazin, kemudian di pengang oleh Pak azis, kemudian Waled Nurruzzahri Yahya, selanjutnya di pengang oleh Pak Nur Ismail dan kembali di pengang oleh Waled Nurruzzahri Yahya, dan periode ini di pimpin oleh Tgk. H. Faisal Ali. Saya melihat NU di Aceh ini bangkit kembali setelah 10 tahun belakangan ini baru kebanyakan orang baru tahu bahwasanya ada NU di aceh. Jadi sebelumsebelumnya NU ini ada oleh orang NU aja.
Harapan Asnawi untuk ketua terpilih pada koferensi Wilayah Xiii NU aceh tahun 2015 ini, supaya betulbetul menjalankan amanah organisasi anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, kemudian bisa mengayomi kelompokkelompok yang ada di NU ini, baik itu badan otonom, lembaga dan lajnah maupun orang-orang yang sudah lama meninggalkan NU dan bisa merangkul.
“Kita berharap supaya penyusun program NU kedepan adalah betul-betul mencerminkan sebuah organisasi kemasyarakatan, keagamaan, jadi ikut nimbrung dalam kemaslahatan masyarakat, baik itu dalam segi pendidikan, ekonomi, dan segi lain demi kemaslahatan umat lainnya dan menyusun kepengurusan betul-betul orang yang menjalankan roda organisasi” tutupnya. indra Kariadi.