IPA Gelar Wakaf Buku

Banda Aceh (Gema) – Menyambut Hari Buku Se-Dunia yang diperingati pada setiap 23 April, Institut Peradaban Aceh (IPA) mewakafkan buku-buku bertema sejarah, budaya dan pendidikan Aceh kepada Perpustakaan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua IPA, Haekal Afifa dalam rilisnya kepada Gema Baiturrahman, Kamis (22/04). “Hari buku dunia jarang diketahui publik di Aceh, ini menjadi momentum kita untuk terus membaca, menulis dan berkarya,” ujar Haekal.
Haekal menyebutkan, dalam momen ini pihaknya juga mewakafkan 3000 e-book dan karya rekam lainnya bertema peradaban Aceh kepada perpustakaan yang membutuhkan. “Insya Allah kita akan mewakafkan 3000-an buku digital yang terkait dengan Aceh kepada perpustakaan Baiturrahman dan perpustakaan lainnya. Yang membutuhkan bisa diinfokan kepada kami,” ungkap Haekal.
Institut Peradaban Aceh berharap momentum ini menjadi awal untuk menggagas ‘Hari Buku Aceh’ sebagai penghargaan kepada semua karya ulama dan intelektual Aceh masa lalu. “Semoga kita bisa terus berkarya dan melanjutkan apa yang telah diwariskan oleh sejarah untuk kita,” ujar Haekal.
Perpustakaan
Sementara Ketua Remaja Masjid Assyuhada Lampanah Indrapuri, Abrar SPd mengatakan, perlu inisiasi melahirkan banyak perpustakaan dalam masyarakat. Dengan perpustakaan ini, diyakini dapat membantu peninkatan minat baca masyarakat. “Sebab, kalau diajak masyarakat beli buku, sering tak terjangkau, karena buku mahal di negeri ini,”katanya.
Selamam ini, kata Abrar, memang telah dibentuk perpustakaan masjid dan perpustakaan gampong, namun pihak berwenang tak mengurusnya dengan baik. Kepada perpustakaan ini tak cukup diberikan buku saja, namun perlu didampingi secara berkelanjutan hingga perpustakaan itu dapat benar-benar mandiri.
Abrar juga menganggap penting program pengadaan, terjemahan dan pencetakan buku-buku tema keacehan, sehingga dapat membantu generasi muda Aceh dalam menemukan kembali identitasnya. “Sayang sekali jika kaum muda hanya mendapatkan informasi modern dari bacaan di internet dan buku-buku sekolah yang jauh dari karakter Aceh yang islami,” katanya. Marmus/Sayed/Rel