Ramah Melayani Menu Sukses dalam Berdagang

Sudirman Jambak, Nasabah Sukses Baitul Qiradh Baiturrahman
Sebagaimana kebanyakan suku Padang lainnya, Sudirman Jambak juga berprofesi sebagai pengusaha rumah makan. Pria kelahiran Padang, 10 April 1954 ini sebelumnya merupakan pengusaha konveksi di kota Medan, Namun usaha penyedia pakaian perempuan yang digelutinya harus banting stir, berpindah-pindah tempat dan jenis usaha. Pilihannya pada dunia usaha sudah dimulai setamat pendidikan SMA.
Selanjutnya, keluarga SudirMawarti memilih hijrah ke Aceh pada medio 2006 lalu. Dari sebelas jumlah anaknya, Sudir begitu panggilan akrabnya, hanya memboyong anak ke 10, Muharif Suganda (20 th) dan si bungsu, M. Alfandi (17 th). Sedangkan sembilan anaknya yang lain telah berkeluarga menyebar di Medan, Batam dan Riau. Ia bersama isterinya Mawarti, berharap Banda Aceh adalah tempat tinggal sekaligus ladang usaha barunya untuk membuka rumah makan.
Rumah Makan Putra Minang adalah nama usaha barunya. Tempat usahanya teretaknya Jl. T. Nyak Arief, Jeulingke bersebelahan dengan Losmen Mentari, tidak jauh dari Mapolda Aceh. Dari sebagian pelanggan setianya adalah karyawan Baitul Qiradh Baiturrahman (BQB) Cabang Jeulingke yang dulunya pernah bertetanggaan dengan tempat usaha sekaligus rumah tinggalnya. Kini BQB tersebut sudah pindah ke Gampong Sukadamai, Banda Aceh.
Dari karyawan BQB, Sudir mengenal kelebihan lembaga ekonomi berbasis syariah ini. Namun ia baru menjadi mitra dan nasabah BQB saat usahanya berkembang dan dirasa sudah saatnya mengembangkan usaha dengan membuka cabang pada tahun 2009. “Saya mengajukan pinjaman Rp. 10 juta untuk menyewa tempat,” kata Sudir. Tentu saja alasan lain, karena BQB menerapkan pola simpan-pinjam sesuai syariah.
Sepertinya antara BQB Jeulingke dan Sudir tidak dapat berjauhan. Pindahnya BQB Jeulingke ke tempat yang lebih representatif seolah diikuti Sudir. Ternyata usaha RM Putra Minang 2 terletak di jalan yang sama, Jl. Mr. Muhammad Hasan. Tempat usaha yang disewanya itu tidak seberapa jauh dari SPBU Batoh.
Ada yang disuka dari Sudir akan kelebihan BQB. “Saya tidak harus menyetor cicilan ke kantor BQB, karena petugas BQB akan menjemput kutipan ke tempat saya,” sebutnya. Memang terlihat begitu sibuknya ia mempersiapkan bahan dan melayani pelanggan. Sore itu, Kamis (23/4) Gema beberapa kali mesti memutus wawancara karena Sudir “merajakan” pembeli. Selain itu, amat sulit baginya apabila kewajiban menyetor dibayar per bulan karena seolah terlihat angkanya cukup besar.
Sudir tidak khawatir suatu saat bila akan memerlukan dana untuk pengembangan usahanya. Setidaknya sudah beberapa kali ia memperoleh pinjaman bagi hasil dengan mudah dari BQB. “Selanjutnya, saya mendapatkan pinjaman lainnya, Rp. 25 juta dan Rp. 50 juta,” tambahnya. Pelayanan prima yang dipraktikkannya adalah selalu menjaga kelezatan rasa masakan, menjamin kesegaran dan tentunya, ramah terhadap setiap pembeli. Menurutnya, pembeli adalah raja.
Dalam usaha menyediakan rendang, sambal hijau dan kawan-kawan, istilah menu khas Padang, Sudir memiliki 4 orang pekerja, selain melibatkan anggota keluarga yaitu Mawarti, Muharif dan Alfandi. Semoga usahanya tetap sukses dan berjaya. Amin. nADV – NA. RIYA ISON