Menanggulangi Kemiskinan dengan Penguatan SDM

Oleh dr. H. Zaini Abdullah
Saya yakin anda    sepakat: pendidikan   adalah cara terbaik untuk membentuk manusia berkualitas yang memiliki kemampuan dalam memanfaatkan dan  mengembangkan teknologi. Karena itu, penguatan pendidikan mutlak harus dilakukan sebagai langkah untuk menciptakan sumber daya manusia yang tangguh, kompetitif, berdaya juang tinggi dan kreatif.
Pendidikan juga merupakan cara terbaik untuk  menekan angka kemiskinan dalam jangka panjang. Dengan sumber daya yang tangguh, saya yakin, mampu memecahkan berbagai masalah, sekaligus menjadikan Aceh lebih makmur dan sejahtera.
Saya kira, kemiskinan adalah masalah besar yang sedang kita hadapi di Aceh. Secara perlahan memang angka kemiskinan terus menurun. Dua tahun lalu, kemiskinan Aceh meny
entuh angka 20,8 persen, maka angka itu turun menjadi 18,2 persen. Tapi dibanding angka nasional, rasio kemiskinan Aceh tergolong cukup tinggi. Bahkan, dari 34 provinsi di Indonesia, rasio kemiskinan di Aceh berada pada urutan ke delapan.
Dalam perspektif kemiskinan,  apa yang terjadi di Aceh  sebenarnya  merupakan masalah sosial  multi dimensional yang dipicu dua, pertama, kualitas SDM yang kurang memadai, karena relatif rendahnya pendidikan, khususnya masyarakat di gampong-gampong. Kondisi ini,  menyebabkan rendahnya etos kerja dan semangat berkompetisi.
Kedua, karena hambatan akses ekonomi, seperti kurangnya diversifikasi keahlian, ketiadaan modal, ketidaklancaran arus barang, dan spirit kewirausahaan yang tidak berkembang dan juga dipicu oleh keterbatasan infrastruktur, seperti fasilitas air bersih, jalan perdesaan dan irigasi, jaringan listrik, maupun pemukiman yang layak.
Kedua hal inilah yang sedang dihadapi Aceh, yang  semuanya bermuara pada kemiskinan.  Adapun kantong kemiskinan terbesar di Aceh  lebih banyak di wilayah pedesaan.  Data terbaru BPS menyebutkan, tingkat kemiskinan di pedesaan Aceh mencapai 20,52 persen, sedangkan di pekotaan sekitar 15,7 persen.  Di sisi lain, karakteristik kemiskinan  itu juga tidak merata antar wilayah. Itu sebabnya dibutuhkan langkah komprehensif untuk menanganinya.
Secara konseptual, pembangunan yang sedang berlangsung di Aceh bukanlah untuk mengejar target pertumbuhan yang menekankan pada angka-angka pembangunan semata. Sasaran pembangunan Aceh bersifat integratif dan komprehensif, yang mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara nyata. Dalam konteks ini, pembangunan berwawasan kesejahteraan fundamental diwujudkan.
Untuk penanggulangan kemiskinan,   beberapa  strategi  dapat dilakukan, seperti: pembangunan yang memadukan pendekatan research, knowledge dan culture; pembangunan berwawasan lingkungan; menjalankan program berdasarkan konsep pemerataan, growth with equit dan memperkuat ekonomi lokal melalui pengembangan basis-basis ekonomi berkelanjutan.
Selain itu, menjalankan konsep pembangunan yang berdimensi kewilayahan.  Untuk itu,  Pemerintah Aceh tak hanya memikirkan  pembangunan wilayah timur saja. Pemerataan pembangunan tetap dilakukan berdasarkan kebutuhan dan kondisi daerah; sumber-sumber investasi dan pendanaan dalam negeri diperkuat; kemandirian dan ketahanan pada bidangbidang dan sektor ekonomi tertentu harus dilakukan yaitu pangan, energi dan industri pertahanan.
Ini bukan sesuatu yang di awang-awang.  Sebagian telah berjalan, sebagian lain akan dimulai. Perlu waktu yang tidak singkat untuk mendapatkan hasilnya. Tapi secara gradual,  hasilnya sudah mulai tampak. Untuk mendukung pencapaian yang lebih maksimal, partisipasi masyarakat  mutlak dibutuhkan untuk memperkuat  strategi itu. Inilah yang menjadi alasan  betapa Aceh sangat membutukan masyarakat yang cerdas, berwawasan luas, mandiri dan memiliki semangat kebersamaan yang kuat.
Maka, untuk menghasilkan SDM yang tangguh, peran lembaga pendidikan  sangalah penting.   Karena itu, upaya penanggulangan kemiskinan harus diperkuat pula dengan peningkatan kualitas pendidikan. Lembaga pendidikan di seluruh Aceh, saya berharap, menjadi motor untuk menghasilkan SDM tangguh yang bisa memberantas kemiskinan dan kebodohan di Aceh melalui kerja nyata, sehingga ikhtiar membangun Aceh yang adil, bermartabat, sejahtera dan islami, dapat menjadi nyata.