Mibara, Gerakan Membuka Cakrawala

Di tengah kemajuan teknologi informasi, masyarakat dari berbagai bilangan usia tidak lagi bergantung pada media cetak seperti buku referensi, buku pelajaran, majalah dan lain-lain. Untuk mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan cepat saji, masyarakat lebih memilih mengakses internet atau media online. Ada sisi negatif dari informasi dunia maya yang nyata bagi pengguna khususnya anak-anak yang mudah tergiring guna berselancar dan membuka konten porno. Namun, bukan berarti media cetak kehilangan peminat baca.
Hal inilah yang dibidik oleh Rumah Baca Aneuk Nanggroe (Ruman) Aceh untuk dapat berkhidmat dengan menyediakan pustaka dan tempat baca khususnya bagi anak-anak, mahasiswa dan masyarakat umum lainnya. Selain itu anak-anak dapat mengisi waktu dengan belajar dan membaca buku layak karena telah melalui tahapan seleksi.
Ruman Aceh didirikan oleh Rizky Sopya bersama suaminya, Ahmad Arif Ginting (34 tahun) pada  8 April 2013. Kedua pasangan serasi yang dikarunia 2 anak yaitu Faiz Fatih Arifqi Ginting ( 9 th) dan Nazia Mutazza Arifqi Ginting (5 th) ini tergerak hatinya agar khususnya masyarakat sekitar dapat mengisi dengan kegiatan bermanfaat. “Kami khawatir karena banyak anak-anak yang bermain game di warnet atau menonton televisi yang kurang mendidik,” kata
Kiki, panggilan akrab perempuan kelahiran Banda Aceh, 14 Januari 1985 ini.
Sarjana FKIP Jurusan Biologi Unsyiah ini juga melihat demikian banyak anak-anak usia sekolah dari keluarga kurang mampu hanya mendapatkan pelajaran saat sekolah. Karenanya kegiatan yang dikembangkan Ruman Aceh adalah menyediakan perpustakaan dan bimbingan belajar gratis. Belakangan pelayanan serba gratis ini bertambah dengan membuka Taman Pendidikan al Qur’an dan kursus menjahit bagi mahasiswi dan ibu-ibu muda sekitarnya.
Uniknya selain menyediakan perpustakaan di sekretariat, melalui Minggu Baca Rame-rame (Mibara) menjemput bola bagi masyarakat yang tengah berolahraga pagi di lintas marathon Lapangan Blang Padang Banda Aceh. “Mibara di gedung DPR, membaca di bawah pohon rindang apabila gerimis bubar” guraunya. Sementara untuk anak balita juga disediakan berbagai permainan edukasi. “Dengan syarat ringan buku yang diinginkan boleh dibawa pulang” tambahnya. Buku-buku khusus paket Mibara dan atribut lain itu diangkut dengan becak sewaan. Sungguh menggugah hati.
Program tebar buku itu kini lebih 7000 judul dan jumlah buku. Semua pengadaan aset dan biaya kegiatan merupakan penyisihan zakat dari penghasilan Arif, suaminya yang bekerja pada sebuah NGO asal Timur Tengah serta sumbangan tidak mengikat dari sahabat dan beberapa donasi.
Dana yang ada juga dipergunakan sebagai biaya kompensasi pengganti BBM sebenarnya untuk 15 relawan yang terlibat. “10 ribu Rupiah hanya bersifat membantu mengisi bensin bagi setiap relawan saat bertugas,” sebutnya. Ia merasa bangga terhadap relawan yang tetap mengabdi walau pendapatan jauh dari layak.
Walaupun butuh dana, putri ke-6 dari Sofyan Adami (alm)-Nurhanisah ini tetap selektif menerima bantuan. “Kami hanya menerima sumbangan donasi sesuai jumlah diterima tanpa mark up,” jelasnya.
Saat ini Ruman Aceh baru saja pindah ke tempat yang lebih representatif. “Seorang dermawan meminjamkan tempat tinggalnya untuk sekretariat, ruang pustaka, ruang belajar, ruang keterampilan, dapur dan kamar,” ungkap Rizky. Rumah milik keluarga H. Mukhtar Sa’ad dan Dr. Hj. Srinita, SE, yang terletak di Jl.  Utama I  No. 1 Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru-Banda Aceh. Keinginannya yang masih terkendala, dapatlah Ruman Aceh atau program Mibara tersebar di setiap kabupaten/kota di Aceh. Semoga. NA RIYA ISON