Orang Aceh harus Membaca

Membaca buku dapat memperluas wawasan pembacanya. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. Begitulah sepenggal arti ayat pertama surat Al-Alaq. Wahyu pertama yang diterima Muhammad dari Jibril di Gua Hira.
Ketua Institut Peradaban Aceh (IPA) Haekal Afifa mengatakan, untuk membangun Aceh, maka masyarakatnya harus banyak membaca. “Saya kira efeknya, kalau kita tidak membaca, akses informasi terhadap pengetahuan sejarah, kebudayaan, dan peradaban Aceh sangat terbatas,”katanya kepada Gema Baiturrahman, Sabtu (25/4/2015) di sela-sela acara Diskusi Memperingati Hari Buku Se-Dunia (World Bookd Day) “Antara Buku dan Secangkir Kopi” di Museum Aceh yang digelar oleh PDIA.
Pada diskusi tersebut IPA mewakafkan 3 ribu buku, 25 ribu klipping Koran New York Times, 17 repro manuskrip perang Aceh, dan satu eksamplar kalender Aceh 2015 kepada PDIA. Seluruhnya dalam bentuk digital dan berhubungan dengan Aceh.
Direktur Bandar Publishing Mukhlisuddin Ilyas turut mewakafkan 10 buku dengan judul berbeda. Buku-buku itu sudah masuk ke Gramedia dan telah beredar di nusantara. Muhklisuddin juga akan mewakafkan buku lainnya ke sejumlah perpustakaan dan universitas di Aceh.
Haekal menjelaskan, minat membaca setiap orang bisa ditumbuhkan. Caranya dengan mengadakan diskusi
mengenai buku atau gebyar buku. Daerah tertentu, untuk memacu minat membaca masyarakat dilakukan dengan cara-cara yang unik. “Aceh harus juga memikirkan itu dengan bentuk format Hari Manuskrip atau Hari Buku Aceh,”tegasnya.
Dijelaskan, Hari Buku se-Dunia merupakan momen yang tepat mencetus Hari Manuskrip atau Hari Buku Aceh itu. Ini merupakan bentuk penghargaan kepada ulama dan intelektual Aceh. Mereka telah melahirkan karya-karya yang luar biasa untuk dibaca.
Mukhlisuddin mengungkapkan, semenjak 2004 hingga 2015, sebanyak 600 buku yang ditulis oleh orang Aceh sudah terbit. Jangan sampai semangat menulis buku padam. Sambung Mukhlisuddin, sudah saatnya buku karya orang Aceh dibaca oleh orang di daerah lain.
Dijelaskan, karya-karya orang Aceh sudah muncul di tingkat nasional. Bahkan ada yang dijadikan referensi tokoh nasional. Penulis asal Aceh tidak hanya dihargai karena karyanya. Tetapi juga disebabkan intelektualitas yang mereka miliki. “Kita harus menginisiasi ada peringatan Hari Buku se-Aceh pada tanggal tertentu,”ucapnya.
Pernyataan yang sama dilontarkan oleh Direktur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh Zunaimar. Katanya, di Aceh semestinya memiliki Hari Manuskrip Aceh. Aceh memiliki ulama kharismatik seperti Abdurrauf As-Singkili, Nuruddin Ar-Raniry, Hamzah Fanshuri, dan sebagainya. Mereka telah menghasilkan tulisan-tulisan yang bernilai tinggi.
Ia menambahkan, karya-karya ulama Aceh sudah dikenal luas. Karya ini akan menjadi bukti sejarah masa lalu yang authentic. Maka, pemuda Aceh harus menghargai hasil penelitian ulama ini. Namun, ia menyayangkan sikap sebagian besar pemuda masa kini. Mereka cenderung menghabsikan di warung kopi. “Kebiasaan yang baik setiap orang tua adalah memberikan pesan dan moral kepada anak-anaknya,”ucap Zunaimar dalam kata sambutannya.
Selain itu, Zunaimar berpesan, orang tua harus berperan aktif menumbuhkan cinta baca kepada buah hatinya. Salah satu caranya, membelikan buku bacaan yang berkualitas kepada anak. Sehingga pengaruh buku tersebut bisa mengarahkan si anak ke arah positif. Ketika tumbuh dewasa, mereka akan memiliki jati diri yang baik. Akhirnya, mereka tidak gampang terpengaruhi hal-hal negatif. Misalnya, penyalahgunaan narkoba.
Dalam kata sambutannya saat membuka acara, Kepala Biro Organisasi Setda Aceh Azhari, mengatakan, bangsa yang maju adalah bangsa yang membaca. Negara maju seperti Singapura, Jepang, Amerika Serikat, minat baca warganya tinggi. Sedangkan Indonesia secara umum, minat baca warganya cukup rendah. “Tanpa membaca, kita tidak akan memiliki kehormatan dan kemuliaan,”tegasnya. nZulfurqan