Peningkatkan Kualitas SDM Tenaga Kerja Aceh

Hari Buruh Dunia
Pemerintah Aceh didorong untuk proaktif mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga kerja Aceh dalam rangka menghadapai Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan diberlakukan mulai akhir tahun 2015 ini.
Hal demikian disampaikan Anggota komisi  VI Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Zaenal Abidin menyikapi peringatan hari buruh Internasional (Mayday) 1 Mei 2015.
Zaenal menyebutkan pemberlakukan MEA akan berdampak pada kebutuhan SDM yang mampu bersaing pada skala internasional, oleh sebab itu Zaenal melihat pentingnya persiapan bagi tenaga kerja Aceh untuk belajar ketrampilan dan beberapa bahasa asing. Karena selain tenaga kerja asing yang akan masuk ke Indonesia, tenaga kerja Indonesia juga akan diberikan kemudahan untuk mencari kerja di negaranegara peserta MEA.
“Pemerintah melalui dinas terkait harus mempersiapkan kemampuan berbahasa asing bagi tenaga kerja Aceh, khususnya bahasa Inggris, bahasa Cina bahkan bahasa Arab, karena kita dengar diluar sana seperti Thailand juga melakukan hal yang sama, mereka sudah mulai belajar bahasa Indonesia,”Ujarnya.
Zaenal mengatakan jika tidak dilakukan persia pan yang matang, dikhawatirkan pelaksanaan MEA justru akan menjadi beban baru bagi pemerintah Aceh dalam hal mengurangi angka pengangguran dan peningkatan ekonomi masyarakat.
“Saat ini angka penganguran Aceh masih diatas rata-rata Nasional, bayangkan saat pelaksanaan MEA, kalau tenaga kerja kita tidak mampu bersaing dengan pekerja dari luar, tentu ini akan berdampak pada bertambahnya jumlah pengangguran,”lanjutnya lagi.
Sementara itu Kepala Dinas Mobilitas Penduduk Provinsi Aceh Helpijar Ibrahim menyatakan provinsi Aceh belum siap untuk menghadapai program Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan dimulai pada Desember 2015 mendatang.
Namun demikian suka tidak suka, mau tidak mau, program MEA tersebut tetap akan berlaku karena telah direncanakan jauh jauh hari.
Helpijar mengatakan kesiapan menghadapai MEA pada akhir tahun ini menjadi persoalan serius bagi pemerintah Aceh, mengingat masih sangat tingginya angka pengangguran di provinsi Aceh.
Bedasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh angka pengangguran   saat ini mencapai angka 9,02 persen, angka tersebut masih diatas rata-rata nasional. Sementara pada pelaksanaan MEA tenaga kerja dari Aceh dituntut untuk mampu bersaing dengan pekerja-pekerja dari 10 negara di ASEAN.
”Negara-negara lain seperti Thailand sudah begitu siap, bahkan saya dengar mereka telah mewajibkan belajar bahasa Indonesia dan didaerah tertentu belajar bahasa Aceh, artinya apa?mereka akan menyasar daerah kita, kalau kita tidak siap bersaing apa yang terjadi nantinya,”lanjutnya.
Helpijar mengakui, hal lain yang lebih mengkhawatirkan hingga menjelang pelaksanaan MEA, sosialisasi di Aceh khususnya dan Indonesia pada umumnya belum dilakukan, bahkan di ibukota provinsi sekalipun jarang ditemukan adanya sosialisasi persiapan menghadapi MEA 2015.
”MEA ini sudah ada dihadapan kita tapi hampir pasti saya nyatakan kita belum siap, tidak terlihat adanya persiapan apapun,”katanya.
Ditempat terpisah, Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan kehadiran MEA akan mendukung masuknya investor asing ke Aceh dan membantu pertumbuhan ekonomi, dan dari sisi tenaga kerja juga akan membuka lapangan kerja baru, namun kualitas tenaga kerja harus terus ditingkatkan agar dapat bersaing dengan pekerja dari berbagai negara ASEAN. Abi Qanita.