Sikap Seorang Mukmin Terhadap Kemungkaran

Khutbah Jum’at, Tgk. Hasbi Al Bayuni, Pimpinan Huda
Kemungkaran ialah  sesuatu yang di syari’atkan untuk mengingkarinya karena bertentangan dengan fitrah dan maslahah. Maka, kemungkaran itu sangat membahayakan terhadap siapapun yang melakukannya  dan jauh lebih membahayakan lagi terhadap orangorang yang membiarkannya sekalipun mereka tidak melakukannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
“Al-khathiy-atu izaa khafiyat laa tadhurru illaa shaahibahaa wa izaa zhaharat falam tughayyir, dharrati ‘ammatu”.
Artinya: Kesalahan (kemungkaran) jika masih samar (tersembunyi) maka bahayanya dirasakan oleh pelakunya, tetapi jika sudah menyebar / diketahui orang lalu tidak di berantas maka sangat membahayakan orang umum (  yang melihatnya tetapi tidak melarangnya ). HR. Thabarani.
Oleh karena itu Allah dan Rasul Nya  mewajibkan agar setiap mukmin secara tegas bersikap untuk mencegah dan mengubah  kemungkaran supaya tidak membahayakan dirinya dan mukmin lainnya. Didalam kitab An-Nasha-ih disebutkan:
Wa awwalu waajibin ‘inda musyahadatil munkari atta’riyfu wannahyu bil luthfi warrifqi wasy-syafaaqati.
Artinya Kewajiban pertama kali bagi orang yang melihat kemungkaran adalah mengenalkan kalau itu adalah kemungkaran dan mencegah / melarang dengan cara yang halus, lembut dan penuh kasih sayang.
Allah SWT berfirman: Artinya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orangorang yang beruntung. (Q.S.Ali Imran, 104).
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: Barang siapa di antara kalian yang melihat (ru’yah bashariyah) atau mengetahui (ru’yah ‘ilmiyah) akan suatu kemungkaran, maka hendaklah mengubahnya dengan tangannya (kekuasaannya), maka jika tidak mampu, maka hendaklah mengubahnya dengan lidahnya dengan santun, yaitu melarang orang yang hendak berbuat kemungkaran tersebut atau dengan mencela perbuatan mungkar tersebut dihadapan orang yang melakukannya, atau dengan menasehatinya, baik secara langsung dengan ucapan ataupun dengan tulisantulisan, maka jika tidak mampu, maka hendaklah mengubahnya dengan hatinya yaitu merasa tidak senang dan tidak setuju dan berharap supaya kemungkaran itu tidak terjadi, dan demikian (mengubah dengan hati) itu merupakan selemah-lemah iman (lemah iman dalam hal inkarul munkar). H.R. Muslim.
Dengan demikian, hubungan antara pengubah kemungkaran dan pelaku kemungkaran ada empat:
Pengubah kemungkaran memiliki kekuasaan khusus atas pelaku kemungkaran. Contoh, kekuasaan orangtua atas anak. Dalam kondisi ini pengubah kemungkaran wajib melakukan inkarul munkar dengan tangan, syaratnya: Tidak sampai ke tingkat pelanggaran jinayat (cacat fisik) dan atau mengalirkan darah. Tidak sampai menghilangkan nyawa.
Pengubah kemungkaran memiliki kekuasaan umum atas pelaku kemungkaran, seperti pemerintah pada rakyatnya. Dalam pola ini pemilik kekuasaan umum wajib melakukan inkarul munkar dengan tangannya. Jika ia mendapatkan perlawanan dari pelaku kemungkaran, maka pemilik kekuasaan umum dibenarkan menggunakan senjata untuk menghentikan kemungkaran. Yang perlu ditegaskan, itu dilakukan ikhlas karena Allah SWT dan demi tegaknya agama.
Maka bagi pengubah kemungkaran yang memiliki kekuasaan, hendaknya bertindak:
1. Tidak menyediakan fasil itas/alat/sebab bagi pelaku kemungkaran.
2. Tidak memberi izin ter
hadap kemungkaran
3. Menghalangi pelaku kemungkaran agar tidak dapat melakukannya.
4. Memukul pelaku kemungkaran agar ia terhenti dan membatalkan kemungkarannya.
5. Merusak alat kemungkaran agar tidak dapat dipakai lagi.
6. Menghambat atau mempersempit gerak pelaku kemungkaran agar tidak leluasa melakukan kemungkaran.
Pengubah kemungkaran tidak memiliki kekuasaan apa pun terhadap pelaku kemungkaran. Misal, antara sesama rakyat. Jika ini terjadi, maka hendaknya melaporkannya ke pihakpihak yang memiliki kemampuan inkarul munkar dengan tangan.
Pelaku kemungkaran memiliki wilayah umum terhadap pengubah kemungkaran. Contoh, orang per orang dari rakyat terhadap penguasa. Dalam hal ini, rakyat secara individu atau kolektif haruslah mengukur dan melihat kemampuan dirinya. Tidak dibenarkan melakukan inkarul munkar dengan tangan, karena berakibat menimbulkan kemungkaran yang lebih besar. Dalam hal ini rakyat hendaknya bersabar dan memperkuat ikatan sesama mereka untuk mengubah dengan lisan, tulisan, dakwah dan taushiyah, sehingga memiliki dukungan opini publik yang besar dan kuat. Dan melakukan tarbiyah dengan membentuk generasi yang mampu memikul beban inkarul munkar yang berat.
Ketahuilah, membiarkan kemungkaran (tanpa mencegahnya), akan menimbulkan berbagai kerusakan yang dapat menghilangkan ketentraman dan kedamaian dalam kehidupan. Di antara kerusakan tersebut adalah:
1. Para pelaku maksiat dan dosa akan semakin bernyali untuk terus melakukan perbuatan nistanya, sehingga sedikit demi sedikit akan sirnalah cahaya kebenaran dari tengah-tengah umat manusia. Sebagai gantinya, maksiat akan merajalela, keburukan dan kekejian akan terus bertambah dan pada akhirnya tidak mungkin lagi untuk dihilangkan.
2. Akan membuat perbuatan tersebut menjadi baik dan indah di mata khalayak ramai, kemudian mereka pun akan menjadi pengikut para pelaku maksiat, dan hal ini adalah termasuk musibah dan bencana yang paling besar.
3. Menjadi salah satu sebab hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan. Karena tersebarluasnya kemungkaran tanpa adanya seorang pun dari ahli agama yang mengingkarinya akan membentuk anggapan bahwa hal tersebut bukanlah sebuah kemungkaran (kebatilan).
Sepantasnyalah kita sebagai mukmin untuk berusaha sesuai kemampuan yang kita miliki untuk mencegah kemungkaran yang semakin merajalela di negeri kita ini, kalau tidak, maka hukuman Allah SWT akan menimpa kita semua, na’uuzubillah tsumma na’uuzubillah, Nabi SAW bersabda :
Artinya: Tidaklah suatu kaum yang dikerjakan ditengah-tengah mer eka berbagai kemaksiatan yang mampu mereka mencegahnya namun tidak mereka cegah, melainkan Allâh pasti akan menurunkan hukuman kepada mereka semua.
Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah SWT sehingga dapat mencegah terjadinya kemungkaran dan selamat dari ancaman azab Allah SWT terhadap orang-orang yang membiarkan terjadinya kemungkaran, amin ya rabbal ‘alamin.