Jadikan Donor Darah sebagai Gaya Hidup

okoh perempuan yang satu ini layaklah diacungi jempol. Satu bukti ia menjadi bintang tamu dalam acara Kick Andy di Metro TV  bertema“Perempuan-perempuan Luar Biasa”. Ia bernama lengkap Nurjannah Husien. Dalam acara yang ditayangkan pada 24 April lalu, Bunda Nuu begitu nama dia dipanggil, setidaknya mampu membuka mata agar pemirsa tahu dan peduli pada penderita thalassemia.
Bunda Nuu adalah pendiri sekaligus sebagai Ketua Komunitas Kemanusiaan Darah Untuk Aceh (DUA) yang berupaya dengan cara bagaimana pun untuk menggiring agar pendonor mau bersedekah darah bagi thaler, sebutan bagi penderita thalassemia.
Kilas balik Finalis Kartini Next Generation 2014 Kominfo mendirikan DUA ini disebabkan mengalami masa was-was, kecewa dan kesulitan saat ibundanya, Zainab perlu transfusi darah. Peristiwa medio 2011 itu diceritakannya ibundanya selalu terlambat atau mendapatkan asupan kantung darah yang tidak pernah tercukupi. ”Apabila butuh 3 kantung darah, yang diperoleh hanya dua kantung,” kilahnya. Begitulah kejadian menyesakkan dadanya berulang. Ibunda Nuu pun menghadap Khalik pada tahun yang sama.
Peristiwa ini membuatnya berpikir dan bertindak, ”Mesti ada kegiatan dan lembaga legal agar membantu tersedianya kebutuhan darah,” tambahnya. Sebagai pendahuluan, melalui Yayasan Bumiku Hijau di mana Nurjannah sebagai pimpinan menggelar donor masal memperingati hari jadi lembaga pemerhati lingkungan hidup itu.
Niat mulia finalis Kartini Next Generation 2014 ini mesti tersalurkan. Donor darah masal mestilah menjadi agenda rutin bukan sebagaimana biasa digelar setiap peringatan milad sebuah lembaga. Tekadnya yang mengkristal mendapatkan dukungan dari dr. Ridwan, saat itu menjabat Kepala UDD PMI Banda Aceh.
Namun perempuan kelahiran Lhokruet, 24 April 1969 ini dianjurkan untuk fokus mencari dan menyiapkan pendonor bagi penderita thalassemia. Thalassemia adalah penyakit genetika dimana penderita mendapatkan donasi darah secara periodik dan berkelanjutan. Apabila pengidap kelainan sel darah merah dan rendahnya hemaglobin tidak mendapatkan transfusi darah, berakibatkan anemia, tubuh melemah, pengeroposan tulang dan pembengkakan limpa. Bahkan saat darah tercukupi, tubuh thaler akan menghitam karena kelebihan zat besi.
Untuk mencukupi kebutuhan darah tersebut selain menyebarkan informasi via media sosial, alumni STIEI 1992 ini juga akan bergerilya merayu dan mencari calon pendonor di kedai kopi, sekolah, kampus dan tempat keramaian lainnya. “Kadang saya berpikir lebih penting mengingat golongan darah daripada mengingat nama seseorang,”guraunya.
Penabalan nama DUA yang didirikan tgl 24 April 2012 ini diharapkan mudah diingat masyarakat. Tugas pokoknya adalah mendampingi penderita thalassemia bersama bunda-bunda atau perawat selama penderita masuk dan dirawat di ruang sentra. “Kami sudah menyiapkan darah atau pendonor sebelum thaler tiba di rumah sakit,” katanya.
Selain mengorbankan tenaga, pikiran dan waktu, Nurjannah serta kelima relawan yang tergabung di DUA juga tidak segan-segan mengeluarkan isi kantung sendiri semata agar thaler dan keluarga tidak sendiri dalam nestapa. Yang ia tanamkan jadikan berbuat kebaikan sebagai hobi walau terasa berat namun menyenangkan. Tamsilnya, pendonor hanya ada 2 pilihan; mendonor atau tidak. Tapi bagi thaler pilihan akan mendapatkan asupan darah atau tak tertolong jiwanya.
“Jadikan donor darah sebagai gaya hidup. Tidak ada sisi negatif dalam berdonor, selain menyehatkan juga berbuah amal kebaikan,” kata Nurjannah saat ditemui Gema dalam rangkaian aksi simpati dan acara peringatan Hari Thalassemia Internasional sekaligus Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional yang seharusnya pada Jum’at, 8 Mei namun kegiatan dipercepat pada Kamis, 7 Mei di Simpang Lima dan Markas PMI Banda Aceh.
Perlu diketahui penderita thalassemia penduduk Indonesia menduduki peringkat teratas dunia. Sedangkan Aceh menjadi lumbung terbesar thalassemia di tanah air. (NA RIYA ISON)