Jangan Jadi Fir’aun

Oleh H. Basri A. Bakar
“Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu,  lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.”
(QS. Al-Baqarah : 50)
Fir’aun adalah gelar bagi raja-raja Mesir purbakala. Menurut sejarah, Fir’aun dimasa Nabi Musa tercantum dalam Surat Al- Qashash ayat 38 yang artinya:“Ketika Fir’aun tidak kuasa lagi mendebat Musa, ia tetap bersikap sewenang-wenang dan berkata: “Wahai masyarakat sekalian, aku tidak mengakui adanya Tuhan bagi kalian selain diriku”.
Dalam sejarah disebutkan,  waktu Nabi Musa a.s bersama kaumnya keluar dari negeri Mesir menuju Palestina dikejar oleh Fir’aun dan balatentaranya, mereka harus melalui laut merah sebelah utara, maka Allah memerintahkan kepada Musa memukul laut itu dengan tongkatnya. Dengan izin Allah, laut pun terbelah dan terbentanglah jalan raya di tengah-tengahnya, sehingga Musa dan pengikutnya selamatlah sampai ke seberang. Sedang Fir’aun dan pengikutpengikutnya yang mengejar Musa berada di tengah-tengah laut, kembali laut itu tertutup sebagaimana semula, lalu tenggelamlah Fir’aun dan balatentaranya di laut merah itu.
Allah menenggelamkan Fir’aun dan balatentaranya di laut merah utara itu karena ia angkuh sampai mengaku dirinya Tuhan. Allah tetap menyelamatkan jasadnya yang terdampar dan dipinggir laut kemudian dibalsem.  Jasadnya masih utuh sampai sekarang, tersimpan  di musium Tahrir yang berada di tengah kota Kairo.
Kisah Fir’aun kiranya menjadi pembelajaran bagi manusia. Jangan ada di antara kita yang berlagak sombong dengan harta,  pangkat dan jabatan. Toh semua itu hanya titipan Allah sementara waktu yang kemudian harus dipertanggungjawabkan. Demikian pula orang-orang yang hatinya keras tidak mau sujud dan bersyukur kepada Allah merupakan tabiat Fir’aun yang kelak akan mendapat azab yang keras.