Shalat Sebagai Kebutuhan Seorang Mukmin

Khutbah Jum’at, Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA, Rektor UIN Ar-Raniry
Shalat menurut bahasa adalah do’a, sedangkan menurut istilah adalah pekerjaan dan ucapan yang diawali oleh takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Shalat juga merupakan garis pemisah antara iman dan kufur, antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah dalam hadist-hadistnya sebagai berikut:
“Batas antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan berarti ia kafir.” (HR- Nasa’i, Tirmidzi dan Ahmad)
Makna hadits ini sangat jelas di kalangan para sahabat r.a. Abdullah bin Syaqiq Al ‘Uqaili berkata, “Para sahabat Nabi SAW. tidak melihat sesuatu dari amal ibadah yang meninggalkannya adalah kufur selain shalat.” (HR. Tirmidzi).
Tidak heran jika AlQur’an telah menjadikan shalat itu sebagai pembukaan sifat-sifat orang yang beriman yang akan memperoleh kebahagiaan dan sekaligus menjadi penutup. Pada awalnya Allah berfirman:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orangorang yang khusu’ (tetap menjaga) dalam shalatnya.” (Al Mu’minun: 9)
Ini menunjukkan pentingnya kedudukan shalat dalam kehidupan seorang muslim dan masyarakat Islam yang mengaku beriman.
Al-Qur’an juga menganggap bahwa menelantarkan (mengabaikan) shalat itu termasuk sifat-sifat masyarakat yang tersesat dan menyimpang. Adapun terus menerus mengabaikan shalat dan menghina keberadaannya, maka itu termasuk ciri-ciri masyarakat kafir. Allah SWT berfirman:
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (generasi) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)
Dalam hadis lain Nabi bersabda: “Shalat adalah Tiang Agama, barangsiapa yang menegakkannya, maka ia telah menegakkan agamanya dan barangsiapa yang merobohkannya, berarti ia telah merobohkan agamanya”.
Sebagai seorang muslim, shalat bukanlah hal asing untuk dilakukan tapi masih banyak di antara kita yang sering mengabaikannya dan tak sedikit pula yang mengerjakannya dengan tidak menghadirkan hati di setiap gerakan serta bacaan shalat, atau bahkan masih ada yang belum mengetahui arti dari shalat itu sendiri. Shalat adalah doa yang disampaikan dengan syarat dan rukun dalam bentuk bacaan serta gerakan tertentu serta sebagai media hubungan manusia dengan Tuhannya. Kalau kita menyadari bahwa kita hanyalah manusia lemah yang memiliki naluri cemas, mengharap, dan yang selalu membutuhkan sandaran di setiap babak kehidupan yang kita jalani, maka kita akan mengerti bahwa dengan menyandarkan kebutuhan kita kepada mahluk walau sebesar dan seluas apapun kekuasaannya, sudah pasti tidak akan memberikan hasil. “…Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Hai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” QS Faathir (35):13-15.
Selain sebagai media penghambaan seorang manusia terhadap Penciptanya, shalat juga berfungsi sebagai sarana kita meminta pertolongan dari Allah SWT “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” QS Al Baqarah (2): 45.
Shalat yang dilakukan dengan menghadirkan hati bisa menjadi pencegah dari perbuatan buruk “….Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar….” QS Al ‘Ankabuut (29):45. Shalat merupakan anugerah Allah SWT untuk manusia sebagai penghalang dan pemisah dari keburukan. Oleh karena itu siapa yang ingin mengetahui sejauh mana manfaat shalatnya, hendaknya kita memperhatikan apakah shalat yang kita lakukan telah mampu menghindarkan kita dari perbuatan buruk atau belum?.
Seperti dalam sabda Rasulullah “tidaklah melakukan shalat orang-orang yang shalatnya tidak menghindarkannya dari perbuatan keji dan mungkar”. Karena shalat yang dilakukan tanpa kehadiran hati, tak akan mengubah apapun dari diri kita. Fungsi shalat selain tersebut di atas juga sebagai obat hati seperti dijelaskan dalam QS Thaahaa (20):14 “…Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu.”
QS Ar Ra’d (13):28 “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram”
Lalu bagaimana dengan kita, apakah masih menjadikan shalat sebatas ritual wajib atau malah menjadikannya sebagai suatu beban karena harus melakukannya ditengah-tengah padatnya aktivitas sehari-hari?, Kalau hati kita masih menjawab sebatas kewajiban bahkan menjadi beban, maka kita perlu merenungkan sabda Rasulullah SAW berikut ini “Yang pertama dihisab pada hari kiamat adalah shalat, apabila baik shalatnya maka baiklah yang selebihnya. Jika buruk shalatnya maka buruklah yang selebihnya.” Baik buruknya kehidupan manusia di akhirat kelak akan ditentukan oleh shalat yang dilakukannya.
Penting kiranya kita merasa malu jika kita yang telah banyak mendapatkan kenikmatanNya dengan sengaja atau tidak, mengabaikan shalat. Apalagi kalau kita telah menyadari bahwa shalat sebagai kebutuhan, lebih malu kiranya jika hanya disaat-saat terdesak dan mengharap sesuatu, kita baru mengingat Allah Sang Maha Baik. Dan jangan pernah menyalahkan Allah SWT apabila Ia tidak menghiraukan hambaNya yang datang tanpa menunjukkan kebutuhan terhadap Sang Pencipta serta tidak memujaNya dengan sepenuh hati. Maha Adil Allah ketika Ia tak ingin mengenal manusia-manusia yang tidak pernah mengenal Sang Pemiliknya yaitu orangorang yang enggan memenuhi panggilan Tuhannya. Nabi Muhammad SAW bersabda “Laksanakanlah shalat seakan-akan itu shalat terakhirmu. Dan saat engkau mulai memasuki shalat, katakanlah kepada dirimu, ini adalah shalat terakhirku untuk dunia. Dan berupayalah untuk merasakan surga ada dihadapanmu, neraka di bawah kakimu, ‘Izrail ada dibelakangmu, para nabi berada di samping kananmu, para malaikat berada di samping kirimu. Dan Allah mengawasimu dari atas kepalamu.” Subhanllah. Sungguh mulia orang-orang yang tidak pernah melalaikan ibadah shalat.
Ketika kita mencoba memahami dan mencerdasi makna ibadah shalat, Ibnu Umar r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bangunan Islam ditegakkan di atas lima tiang: 1) Bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah sesungguhnya shalat merupakan sistem hidup, manhaj tarbiyah dan ta’lim yang sempurna, yang meliputi (kebutuhan) fisik, akal dan hati. Tubuh menjadi bersih dan bersemangat, akal bisa terarah untuk mencerna ilmu, dan hati menjadi bersih dan suci.
Shalat merupakan tathbiq ‘amali (aspek aplikatif) dari prinsip-prinsip Islam baik dalam aspek politik maupun sosial kemasyarakatan yang ideal yang membuka atap masjid menjadi terus terbuka sehingga nilai persaudaraan, persamaan dan kebebasan itu terwujud nyata. Terlihat pula dalam shalat makna keprajuritan orang-orang yang beriman, ketaatan yang paripurna dan keteraturan yang indah.
Imam Asy-syahid Hassan Al Banna berkata, dalam menjelaskan shalat secara sosial, setelah beliau menjelaskan pengaruh shalat secara ruhani: “Pengaruh shalat tidak berhenti pada batas pribadi, tetapi shalat itu sebagaimana disebutkan sifatnya oleh Islam dengan berbagai aktifitasnya yang zhahir dan hakikatnya yang bersifat bathin merupakan minhaj yang kamil (sempurna) untuk mentarbiyah ummat yang sempurna pula. Shalat itu dengan gerakan tubuh dan waktunya yang teratur sangat bermanfaat untuk tubuh, sekaligus ia merupakan ibadah ruhiyah. Dzikir, tilawah dan doa-doanya sangat baik untuk pembersihan jiwa dan melunakkan perasaan. Shalat dengan dipersyaratkannya membaca Al-Fatihah di dalamnya, sementara Al-Qur’an menjadi kurikulum Tsaqafah Islamiyah yang sempurna telah memberikan bekal pada akal dan fikiran dengan berbagai hakekat ilmu pengetahuan, sehingga orang yang shalat dengan baik akan sehat tubuhnya, lembut perasaannya dan akalnya pun mendapat gizi. Maka kesempurnaan manakah dalam pendidikan manusia secara individu setelah ini? Kemudian shalat itu dengan disyaratkannya secara berjamaah, maka akan bisa mengumpulkan ummat lima kali setiap hari dan sekali dalam satu pekan dalam shalat jum’at di atas nilai-nilai sosial yang baik, seperti ketaatan, kedisiplinan, rasa cinta dan persaudaraan serta persamaan derajat di hadapan Allah yang Maha Tingi dan Besar. Maka kesempurnaan yang manakah dalam masyarakat yang lebih sempurna daripada masyarakat yang tegak di atas pondasi tersebut dan dikuatkan di atas nilai-nilai yang mulia?