Hikmah Israk dan Mi’raj

khutbah jum’at, Dr. H. Aslam Nur, M.A, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, Banda Aceh
Firman Allah: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke AlMasjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami, Sesunggunya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ( AlIsra’: 1)
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan sebuah momen penting dalam sejarah Islam. Pada tahun terjadinya Ira’ dan Mi’raj, dua orang yang amat dicintai oleh Rasulullah, yaitu Abu Thalib (paman Rasulullah) dan Khadijah (istri Rasulullah) dipanggil oleh Allah untuk selamalama. Wafatnya dua sosok tersebut memberikan kesedihan yang mendalam bagi Rasulullah sehingga tahun tersebut dalam sejarah Islam dikenal dengan istilah ‘amul huzni (Tahun Kesedihan). Kesedihan ini selain karena kecintaan Rasulullah yang amat mendalam kepada kedua sosok tersebut, juga karena peran-peran yang dimainkan keduanya dalam menyokong gerakan dakwah yang dilakukan Muhammad SAW. Dengan kata lain, Rasulullah merasa bahwa kelompok kafir akan mudah mematahkan dakwah Islam karena tidak ada lagi tokoh yang disegani serta mampu membela Rasulullah sebagaimana yang didedikasikan oleh Abu Thalib dan Khadijah selama ini.
Dalam situasi itu, Allah SWT memberikan “semangat baru” kepada Rasul Nya dalam bentuk memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran Allah. Inti Isra’ dan Mi’raj sebagaiman Allah jelaskan adalah “linuriyahu min Ayatina” (Agar Kami perlihatkan tanda-tanda kebesaran Kami) kepada Muhammad SAW. Dengan memperhatikan kebesaran Allah yang ada di alam jagat raya ini, kegundahan Rasul tentang siapa lagi yang akan membantunya dalam menyebarkan dakwah Islam pascawafatnya kedua orang tersebut akan sirna. Intinya adalah Rasulullah jangan takut, gundah dan gelisah karena ada Allah SWT yang akan membantu Rasulullah SAW dalam menjalankan dakwah Islam, mengajak manusia beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan thaghut.
Kaum kafir Qurais yang hidup di Mekkah merespon dakwah Rasul dengan berbagai tuduhan negative yang ditujukan kepada pribadi Rasul ataupun kepada wahyu Allah. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad sebagai orang gila dan ada juga yang menuduh bahwa Rasulullah sebagai tukang sihir yang berkawan dengan jin sehingga ia mampu menciptakan Al-qur’an. Walaupun demikian, Rasulullah secara terus menerus tetap melaksanakan dakwah Islam kepada seluruh orang yang menentangnya dan selalu berpedoman kepada Al-qur’an dalam setiap dakwahnya.
Pascaperistiwa isra’ dan mi’raj, aktivitas dakwah Rasulullah dan sahabatsahabatnya semakin berani dan dakwah Islam semakin terlihat nyata. Melalui persitiwa Isra’ dan Mi’raj tersaring di antara umat siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang imannya masih goyah. Ternyata bahwa pasca peristiwa ini, dakwah Islam justru semakin cerah ditandai dengan semakin banyaknya orang-orang memeluk Islam dan agama ini sudah tersebar ke luar kota Mekkah.
Dalam konteks kekinian, Isra’ Mi’raj adalah sebuah pesan kepada seluruh umat Nabi Muhammad SAW bahwa segala macam cobaan yang seberat apa pun haruslah dilihat sebagai sebuah permulaan dari akan dianugerahkannya sebuah kemuliaan. Dakwah Islam tidak boleh berhenti dan para pendakwah tidak boleh patah semangat dalam menghadapi tantangan yang diajukan oleh para pembenci Islam. Umat Islam harus yakin bahwa Allah SWT selalu akan membantu hambaNya selama hamba tersebut membantu tegaknya agama Allah.
Salah satu cara yang sering digunakan oleh Allah dalam menghadapi tuduhan negatif terhadap Islam adalah dengan mengajak manusia untuk berpikir. Inti dari ajakan berpikir adalah agar manusia dengan kemampuan akalnya melakukan nalar ilmiah terhadap alam semesta beserta seluruh isinya. Melalui proses nalar yang jujur dan dan dilandasi semangat untuk mencari serta membuktikan kebenaran, manusia akan sampai kepada satu kesimpulan bahwa Islam adalah agama yang benar berasal dari Allah SWT yang maha kuasa.
Kesesuaian dan keterpaduan isi Al-qur’an dengan penemuan dalam ilmu pengetahuan serta teknologi merupakan salah satu mukjizat Al-qur’an. Semakin kita mengkaji dan memahami Al-qur’an, maka semakin terungkap kebenaran Islam dan kebesaran Allah SWT. Allah berfirman: ”Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap jagat raya dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-qur’an itu adalah benar (datang dari Allah)…”. (Al-Fushilat:53). Peristiwa isra’ dan mi’raj mengajarkan umat Islam agar selalu mentadabburi tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam jagat raya ini.