Sanksi Sosial Orang Tidak Shalat

Shalat merupakan salah satu kewajiban bagi kaum muslimin yang sudah mukallaf dan harus dikerjakan baik bagi mukimin maupun dalam perjalanan.
Shalat merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat. Islam didirikan atas lima sendi (tiang) salah satunya adalah shalat, sehingga barang siapa mendirikan shalat, maka ia mendirikan agama (Islam), dan barang siapa meninggalkan shalat,maka ia meruntuhkan agama (Islam).
Shalat harus didirikan dalam satu hari satu malam sebanyak lima kali, berjumlah 17 rakaat. Shalat tersebut merupakan wajib yang harus dilaksanakan tanpa kecuali bagi muslim mukallaf baik sedang sehat maupun sakit. Selain shalat wajib ada juga shalat – shalat sunah.
Untuk membatasi bahasan penulisan dalam permasalahan ini, maka penulis hanya membahas tentang shalat wajib kaitannya dengan kehidupan sehari–hari. Nah, bagaimana jika seorang muslim meningglakn shalat dengan sengaja? Bagaiamana hukum dan menghukumnya?
Dai muda Banda Aceh, Tgk. Aria Sandra, S.HI mengatakan hukum bagi mereka yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah dengan perbanyak dengarkan kepada mereka tentang cerita azab dan siksa Allah yang sangat berat begi mereka yang meninggalkan shalat.
“Ceritakan kepada mereka tentang azab dan siksa Allah yang sangat berat bagi mereka yang meninggalkan Shalat,” tuturnya.
“Hukum meninggalkan shalat adalah dosa besar, bahkan sangat besar ancaman bagi mereka, di antaranya adalah mereka tidak boleh menjadi wali nikah karena fasiq, kemudian kalau dia meninggalkan shalat karena malas dan tidak mengingkari kewajibannya beserta sudah di peringatkan berkali-kali maka dalam hukum islam mereka harus dipotong leher. Tapi kalau sempat mengingkari itu sudah masuk dalam hukum murtad,” ujarnya
Aria kembali menambahkan, hukum sosial dari masyarakat bisa menjadi salah satu efek jera bagi mereka yang meninggalkan shalat.“Misalnya, untuk mereka yang meninggalkan shalat, ketika ada kenduri di rumahnya, masyarakat kampung jangan hadir ke rumahnya, baik itu Tgk. Imam mesjid, Pak Keuchik dan juga warga lainnya. Ini menjadi salah satu cara, sebagai efek jera bagi sipelaku.
Menurut dewan guru Dayah Mahyal Ulum AlAziziyah-Sibreh ini, jika berbicara cukup memang tidak cukup, tapi itu salah satu upaya untuk mendorong dia melaksanakan shalat. Ini merupakan salah satu solusi juga bagi mereka yang meninggalkan shalat, dengan mengambil sangsi sosial baginya.
Keteladan pemimpin
Sementara itu, Tokoh muda Aceh Besar Amrizal, S.HI ketika diminta tanggapannya tentang orang yang meninggalkan shalat ia menjelaskan bahwa salah satu entri poin sukses dalam penegakan shalat dalam keluarga dan masyarakat adalah dengan berpendom pada sifat Nabi Muhammad Saw.
Menurutnya, momentum Isra’ Mi’raj. Nabi Muhammad Saw dapat meyakinkan para sahabat pada kejadian luar biasa Isra’ dan Mi’raj  salah  satunya  adalah, karena perilaku beliau yang shiddiq (jujur), tabligh (penyampai risalah), amanah (dapat dipercaya), dan fathanah (cerdas).
Untuk itu, Amrizal berharap perilaku Rasulullah tersebut dapat diteladani semua oleh umat Islam dalam melaksanakan tugasnya.  Isra’  dan  Mi’raj merupakan momentum perubahan bagi kita untuk berperilaku lebih baik. Kita harus berlaku shidiq, bekerja secara lurus dan benar sesuai dengan ketentuanketentuan yang ada.
“Misalnya seorang anak kecil yang di didik dari kecil untuk tidak meninggalkan shalat 5 waktu sehari semalam, insya Allah sudah besar pun dia tidak akan meninggalkan shalat. Mulai dari keluarga untuk mendidik anak kita dalam melaksanakan shalat dan berperilaku jujur pun akan di laksanakan secara otomotis,” ujarnya.
Selain itu, anak dan keluarga juga harus amanah. Ayah sebagai kepala keluarga harus memberi contoh kepada anak baik dalam memimpin keluarga maupun bermasyarakat, tidak boleh berlaku berat sebelah kepada anak, baik anak yang sulung maupun yang paling tua dengan dalih apapun.
“Ayah juga harus tabligh dalam bekerja, dalam hidup rumah tangga, harus bisa jadi Imam di semua sisi dan memberi contoh bagi istri, anak dan juga memberi pelajaran yang baik. Anak yang baik akan lahir dari keluarga yang baik, ada pepatah orang kampung mengatakan, ketika ayah kancing berdiri, sudah pasti anak kencing berlari,” imbuhnya.
Sebagai seorang ayah, dia adalah guru yang mesti memiliki sifat fathanah, bekerja secara profesional, memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang agama maupun ilmu pengetahuan lainnya. Ayah itu sepatutnya pula menguasai dan memilih metodologi cara mendidik anak dalam melaksanakan shalat.
“Misalnya, mengajak mereka shalat subuh untuk berjamaah, karena waktu subuh adalah waktu yang berat di laksanakan oleh manusia, apalagi anak itu masih berumur 5 tahun. Ajak mereka ke mesjid dalam melaksanakan shalat, sebaiknya berjamaah, agar nilai cinta ke mesjid itu tinggi dan disiplinkan mereka dalam waktu melaksanakan shalat,” imbuhnya.
Selanjutnya, Amrizal, S.HI menambahkan perilaku siddiq, tabligh, amanah dan fathanah juga dapat diteladani oleh anak-anak dalam setiap aktivitas sosial dalam kehidupan sehari-hari, karena dimanapun anak kita berada akan menjadi contoh bagi kawan-kawannya. (Indra Kariadi)