“Shalatkan” Warga Gampong

Oleh : Sayed Muhammad Husen
Shalat ibadalah inti ajaran Islam. Shalat, ibadah utama yang mencerminkan seseorang muslim atau bukan. Ibadah yang sangat disukai Allah SWT. Shalat membedakan muslim dan kafir. Tiang agama. Shalat yang dikerjakan sempurna menghilangkan keburukan diri seseorang dan mencegah dirinya melakukan kemungkaran.
Shalat yang dikerjakan berjamaah mendapat pahala berlipat, memupuk persaudaraan dan sarana pembelajaran kepemimpinan Islam. Shalat berjamaah berdampak multi dimensi: sosial, politik dan ekonomi. Tak ada jamaah shalat yang boleh terlantar, jamaah dapat digerakkan untuk advokasi politik Islam dan jamaah adalah pasar potensial.
Masalahnya, bagaimana dengan muslimin yang sama sekali belum mengerjakan shalat. Mereka tak mengerjakan shalat lima waktu secara pribadi, apalagi berjamaah. Mungkin ada yang hanya shalat Jumat atau shalat ‘idul fitri/’idul adha. Yang pasti, kelompok ini memerlukan dakwah khusus supaya mereka menjadi bagian dari kita: bisa slalat lima waktu. Tak dicap kufur, akibat meninggalkan shalat secara sengaja, bertahun-tahun.
Selama ini, kita mendapati dakwah intensif yang mengajak masyarakat muslim melakukan shalat berjamaah. Beberapa inisiatif gerakan shubuh berjamaah seperti BBC, DKMA dan HIMNAS telah membuahkan hasil: meningkatnya jumlah jamaah shubuh. Dakwah ini dilakukan dengan cara-cara modern dan menggunakan teknologi informasi.
Hanya saja, kita masih memerlukan mitra Jamaah Tabligh yang gigih mengajak orang muslim untuk shalat, terutama shalat berjamaah. Dakwah Jamaah Tabligh tentu belum berimbangan dibandingkan dengan jumlah orang yang harus diajak untuk shalat. Tabligh belum menjangkau semua muslim yang sama sekali tak pernah mengerjakan shalat sepanjang hidupnya. Maka perlu komponen dakwah lain yang menjadi mitra Tabligh.
Dalam perspektif fikih politik, salah satu “mitra dakwah” yang seharusnya cukup bertanggungjawab memotivasi orang-orang yang belum pernah shalat dalam satu gampong (desa) adalah pemerintah gampong. Pemerintah Gampong dapat membuat Program Penegakan Shalat (PPS) untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap warganya yang muslim.
Aparatur gampong, tuha peut, imum meunasah/masjid dan pemuda gampong bersama-sama melakukan pendataan terhadap warga muslim yang belum pernah mengerjakan shalat, dan merumuskan langkah-langkah konkret bagaimana “menshalatkan” mereka, sehingga akhirnya tak ada lagi warga satu gampong yang tak shalat lima waktu.