Harmony Day dan Pakaian Adat Aceh

 
Minggu lalu, beberapa sekolah dan lembaga masyarakat mengadakan perayaan ‘Harmony Day’  yang dirayakan sebagai salah satu cara untuk lebih mengerti dan mendalami adat dan budaya yang berbeda di negara Australia  dimana seperempat populasi penduduknya adalah pendatang, berasal dari beberapa negeri Eropa, Asia, Timur Tengah dan juga Indonesia.  Karena itu,  Australia telah menjadi “melting  pot of cultures”,  dimana warga dapat  sharing  bagian dari budayanya. Maka, Harmony Day diadakan khusus untuk alas an tersebut dan untuk menggambarkan bahwa walaupun mempunyai budaya yang beda, tetap bias bersatu. Ide ini hampir sama dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya Indonesia.
Di salah satu Sekolah Dasar di Sydney yang bernama Croydon Park Public, mereka mempromosikan acara Harmony Day di halaman depan sekolah. Tersedia multi cultural lunch yang disiapkan oleh setiap
pelajar. Mereka membawa sepiring makanan khas negeri mereka masingmasing untuk berbagi dengan temannya. Makanan yang sering dilihat adalah spring roll dari Malaysia, kebab dari Turki, pizza dari Italia, rice paper roll dari Vietnam, sushi dari Jepang, sayur tabouli dari Libanon dan kue croissant dari Perancis. Yang menjadi pengalaman kepada siswa yang beragama Islam pada perayaan Harmony Day adalah untuk menjaga hormat terhadap temannya yang mempunyai budaya  yang berbeda dan
biasanya agama yang berbeda juga. Oleh karenaitu, siswa muslim  harus pintar untuk membedakan mana makanan halal yang boleh dianikmati di antara makanan lain yang begitu banyak. Tema acara di sekolah Croydon Park Public ini hamper sama dengan di sekolah-sekolah lain, yakni makanan yang menjadi bahan terutama pada Harmony Day. Menurut pengalaman saya, makanan telah menjadi cara yang paling hebat untuk mempromosikan salah satu bagian dari negara masing-masing.
Seterusnya, ada juga sekolah yang mengadakan parade atau pawai anakanak yang memakai baju khas daerah. Tahun yang lalu, sekolah tempat saya  mengajar, Ashabul Kahfi Language School, diundang untuk hadir dan berpartisipasi pada acara Harmony Day Children’s Festival yang diadakan di Belmore Park.
Pada hari itu, kami membawa siswa dan siswi Ashabul Kahfi yang menggunakan baju khasnya, seperti baju pengantin Aceh, bajukoko,  hingga kupiah meukeutop. Kopiah tersebut yang menyita perhatian penonton atau pengikut  yang lain karena bentuk, warna dan patternnya yang unik. Dengan acara Harmony Day di Australia, dan mengikuti beberapa acaranya, saya mendoakan agar kita semua menjadi “orang yang mengetahui” dan mengenal suku-suku lain dan acara tersebut tidak hanya untuk mencicipi makanan yang berbeda, atau memakai baju adat, tapi juga untuk mengagumi ciptaan Allah sehingga kita semua semakin dekat denganNya. Mahasiswi lulusan Bachelors of Science/ Arts University of New South Wales dengan major Development Studies dan Pathology.