Hakekat Buraq

Oleh: H. Basri a. Bakar
“Dan sesungguhnya nabi Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratul Muntaha.  Di dekatnya ada surga Jannatul Ma’wa.” (QS. An-Najm : 13 – 15).
BuraQ sangat erat kaitannya dengan sebuah peristiwa besar yang sangat monumental dalam sejarah Islam, yaitu Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke 10 beliau diangkat sebagai Rasul.
Apakah buraq sesungguhnya? Tidak ada penjelasan yang lebih rinci. Cerita israiliyat menggambarkan buraq itu seperti kuda bersayap berwajah wanita, sama sekali tidak ada dasarnya. Namun sayangnya, gambaran seperti itu sampai sekarang masih diyakini oleh sebagian masyarakat, terutama di desa-desa.
Dengan buraq itu Nabi melakukan isra’ dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Setelah melakukan shalat dua rakaat dan meminum susu yang ditawarkan Malaikat Jibril, maka Nabi SAW melanjutkan perjalanan mi’raj ke Sidratul Muntaha.
Ibnu Duraid menjelaskan bahwa “Buraq” berasal dari kata al barqi (kilat) karena kecepatannya.  Ada yang mengatakan, dinamakan Buraq karena terlalu bersih, mengkilat dan sangat cepatnya.  Ada pula yang mengatakan, karena warna putihnya.
Dalam beberapa hadits sahih disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan isra’ dan mi’raj dengan menggunakan “buraq”. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Hudzaifah bin al Yaman mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah diberikan seekor binatang yang punggungnya panjang dan langkahnya adalah sepanjang mata memandang. Mereka berdua (Rasulullah SAW dan Jibril as) tidaklah terpisahkan di atas punggung buraq sehingga mereka menyaksikan surga dan neraka … kemudian mereka berdua kembali pulang ke tempat semula (ketika berangkat)…” (Abu Isa mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih).