“Pak Gubernur, Beri Saya Motor Roda Tiga”

Husni Mubarak, Pemuda Cacat Petugas Lahan Parkir Pinjaman
Beberapa waktu lalu ada yang menarik Gema untuk diekspose kepada pembaca karena beberapa kali ba’da shalat dzuhur atau ashar sempat mengamati gerak gerik seorang pemuda dengan uniform petugas parkir. Jalannya terseok dan tersentak-sentak, tangan kiri tertekuk kaku sedangkan tangan kanannya melurus, kepala miring dan tak henti bergerak. Sungguh menyentuh bagi yang melihatnya.
Pemuda penyandang disabilitas ganda belakangan diketahui bernama Husni Mubarak. Kekaguman itu kian bertambah tatkala tangan kanannya yang sulit diluruskan. Husni merogoh kantung rompi. Lalu beberapa lembar uang dua ribuan disedekahkan kepada peminta yang ada di dekatnya. Gema membatin, pemuda yang seharusnya mendapatkan belas kasihan serupa, ternyata masih juga berbagi kepada tuna netra.
Beberapa hari lalu, Gema menemuinya saat pria kelahiran Lueng Putu berusia 26 tahun ini bertugas di Jl.Chik Pante Kulu dekat pintu gerbang Pasar Aceh bersebelahan dengan Masjid Raya Baiturrahman. Dengan agak susah bicara dan sulit dimengerti, ia memperkenalkan namanya Husni Mubarak dan tinggal di Gampong Bitai Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh.
Agar mudah mengerti apa yang dibicarakannya, mestilah menemui keluarga dekatnya. Tidak sulit mela
cak alamatnya. Seluruh warga Bitai dan gampong sekitarnya hampir semua mengenalnya. Dari ibunya Khatijah dan kakaknya Ti Sara, semakin kita mengagumi Nyak Ni, panggilan akrabnya.
Ternyata lahan parkir dengan  panjang sekitar 25 meter yang telah 2 tahun dijalaninya merupakan milik petugas resmi lainnya. Husni hanya dipinjamkan lahan atau bekerja pada hari Jum’at dan Ahad saja. “Saya mesti setor Rp. 30 ribu per hari kepada badan parkir dan Rp. 20 ribu ke petugas lahan resmi,” katanya yang diurai kembali oleh ibunya. Sebelumnya, beberapa tahun ia bertugas yang sama di Pasar Seutui.
Walau perolehan jasa parkir mencapai Rp. 50 ribu mesti disetorkan ke pihak lain, Husni masih tetap membawa uang lebih. “Banyak pelanggan yang memberi uang lebih. Sering juga uang kembalian tidak diambil pelanggan,” katanya. Untuk mengambil uang kembalian ia kesulitan karenanya, “Saya mempersilakan pelanggan mengambil sendiri uang kembalian di kantung rompi.
Begitu sayangnya ia kepada ibunya. Menurut ibunya, sering saat pulang membawa nasi goreng, mie aceh atau oleh-oleh lain untuk dinikmati bersama di rumah. Selain itu, Husni yang  juga biasa dipanggil Abang kerap membeli dan membagi kue bila tengah berkumpul dengan anak-anak kecil. Nyak Ni, sangat sayang dengan anak-anak, kata ibunya.
Bahkan dari hasil menyemprit, Husni membelikan telepon seluler untuk ibunya. Apabila menjelang hari raya, baju pun sering dihadiahkan bagi ibunya. Sebenarnya Bu Khatijah sudah mengatakan padanya agar uang yang ada dipergunakan untuk kebutuhan sendiri. Apalagi anaknya mendapatkan kesempatan hanya 2 hari sepekan. Menurut ibunya, anak kesayangannya ini sering juga kehabisan uang di penghujung giliran bekerja. Sedangkan ayahnya, Nurdin meninggal dunia setahun lalu.
Saat Gema pamit, Husni berpesan kepada Dr. Zaini Abdullah, Gubernur Aceh. “Pak Gubernur saya tidak meminta apa-apa. Saya hanya meminta diberikan motor roda tiga,” harapnya yang diulang sampai 2 kali. Kendaraan khusus bagi penyandang disabilitas sepertinya amat diidamkannya. Sebenarnya ia sudah memiliki becak barang bermotor dibeli dengan uang sendiri. Dengan becak tua itu, ia pergunakan mengitari desa.
Di balik multi cacat sejak lahir, pemuda tangguh ini pantang mengemis, namun apabila ada yang memberi dengan ikhlas ia menerimanya. Menurut pengakuannya, selama ini belum ada pihak resmi yang memberi bingkisan atau bantuan lainnya. “Hanya sekali, tahun lalu saya mendapatkan Paket Ramadhan dari Baitul Mal Aceh.” ungkapnya. Walau tidak ia sampaikan, semestinya pemerintah
kota mengangkatnya sebagai petugas parkir resmi. Lebih bijak apabila ada pihak lain yang peduli dalam
mengangkat harkat hidupnya. nNA RIYA ISON