Shalat Membentuk Karakter Positi

Khutbah Jum’at, Dr. H. Badrul Munir, LC, MA (D.E.S.A.), Staf Pengajar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry
Shalat adalah sarana koneksi kita dengan Allah swt. Sarana kita untuk membangun hubungan transedental dengan Tuhan kita. Dapat kita bayangkan jika komunikasi dan pertemuan dengan Allah swt ini rutin kita lakukan dengan baik, maka akan terwujud hubungan yang harmonis antara kita sebagai makhluk dengan Allah swt sebagai khalik. Allah akan mencintai dan menyukai kita sebagai hamba-Nya. Jika Allah swt telah menyukai hamba-Nya, maka Dia akan menjadi penolong, pelindung dan pemberi kekuatan kepada hamba-Nya tersebut. Dengan merasakan kedekatan dengan Allah, maka kita akan semakin waspada dalam beraktifitas dan termotivasi untuk beribadah dengan penuh semangat. Hal positif semacam inilah yang dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar.
Shalat yang memenuhi kriteria pencegah perbuatan Fahsya dan Mungkar, akan membentuk karakter positif yang terefleksikan dalam setiap tindakan kita, antara lain:
1. Shalat mengajarkan  kita untuk membersihkan hati, pikiran, tubuh dan panca indra kita dari hal-hal yang dapat mengotorinya. Sebelum shalat kita diwajibkan berwudhu, membersihkan tangan kita, mulut, hidung, muka, telinga, kepala dan kaki kita. Semua itu bermakna kita harus membersihkan semua panca indra kita dari kotoran noda dan dosa yang dapat merusaknya, karena semua anggota tubuh kita itu akan menjadi saksi di hari kiamat. Ketika dilupakan oleh kesibukan dunia, maka datanglah shalat untuk mengingatkannya. Ketika diliputi oleh dosa-dosa atau hatinya penuh kelalaian, maka datanglah shalat untuk membersihkannya. Shalat ibarat kolam renang rohani yang dapat membersihkan ruh dan menyucikan hati 5 kali dalam setiap hari, sehingga tidak tersisa kotoran sedikit pun.
Ulama besar Maqashid Syariah, Tahir Ibnu ‘Asyur menegaskan bahwa Shalat berfungsi membersihkan jiwa Mushalli dari dosa dan kotoran (karakter negatif). (Maqashid Syariah: 2/148).
2. Shalat mendidik kita untuk berkarakter disiplin dan menghargai waktu dan memanfaatkan waktu dengan baik. Shalat memiliki waktu-waktu tertentu 5 kali dalam sehari semalam. Waktu-waktu shalat adalah waktu-waktu yang strategis dan penting bagi kita dalam kehidupan.
3. Takbiratul Ihram mem¬ben¬tuk karakter seseorang agar tidak sombong (angkuh, takabur). Bahkan dalam sehari semalam, shalat lima waktu, terdiri dari 17 rakaat, tidak kurang dari 89 kali mengucapkan takbir, Allah Akbar, Allah Maha Besar. Hal ini menunjukkan bah¬wa manusia memang ber¬potensi untuk menyombongkan dirinya. Dengan banyaknya takbir yang diucapkan diharap¬kan mampu meredam rasa sombong tersebut. Sifat sombong ini pula yang menjadi dosa pertama yang dialami oleh Iblis. Maka de¬ngan takbir dalam shalat sesungguhnya akan terbentuk karakter yang rendah hati.
4. Thuma’ninah, mengajarkan agar setiap muslim tenang, tidak tergesagesa dalam setiap aktivitas kehidupan. Thu¬ma’ninah juga mengajarkan agar manusia perlu bersantai, tidak tegang dalam melakukan kegia¬tan yang dapat menimbulkan berbagai penyakit.
5. Ruku’ merupakan simbol ketaatan dan kepatuhan kepada Allah. Orang yang melak¬sanakan shalat, mesti tunduk dan patuh terhadap segala perintah Allah.
6. Salam mendoakan keselamatan pada orang lain, terutama sesama muslim. Sungguh tidak patut jika se¬orang muslim membaca salam, tetapi ia masih berkarakter negatif menyimpan rasa iri, benci, dendam atau sakit hati pada sesama saudaranya, apalagi dengan sengaja menzalimi atau menyakiti orang lain.
7. Shalat mendidik kita untuk menjadi pribadi yang khusyuk dan kekhusyukan itu yang akan mengantarkan kita meraih kesuksesan. Shalat yang dilaksanakan dengan khusyuk dan sungguh-sungguh dapat mencegah kita dari kemunafikan. Shalat adalah pembeda antara orang beriman dan munafiq. Kemunafiqan adalah penyakit yang dapat menggagalkan manusia dunia dan akhirat. Orangorang munafiq memiliki sifat suka ingkar janji, berdusta dan berkhianat.
8. Shalat mendidik kita menjadi pribadi yang sabar. Allah swt menggandengkan sabar dan shalat sebagai penolong manusia. Firman Allah: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (QS. Al Baqarah: 45).
9. Salah satu karakter penting yang dibentuk oleh Shalat, yaitu menumbuhkan sifat kejujuran dalam diri seseorang dengan senantiasa menghadiri perasaan bahwa setiap tindakannya selalu diawasi oleh Allah (muraqabatullah). Karena ketika dia akan melakukan sesuatu yang menyeleweng, dia sadar bahwa Allah selalu melihat apa yang dikerjakannya kapanpun dan dimanapun dia berada, walau tidak ada orang lain yang melihatnya. Inilah grade paling tinggi bentuk ketaqwaan yang disebut Ihsan, engkau menyembah Allah, seolah-olah engkau melihat Allah, dan jika engkau tidak melihat Allah, Allah pasti melihat segala gerak-gerik engkau.
Beruntung dan Celaka dengan Shalat
Ketika seorang muslim mampu mendirikan shalat dengan memenuhi kriteria shalat yang mencegah fahsya dan mungkar yang diwujudkan melalui karakter positif baik secara vertikal dan horizontal, maka Allah menjamin golongan ini sebagai golongan yang benar-benar beruntung. Firman Allah Ta’ala: “Sungguh benar-benar beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya” (QS. al Mu’minuun: 1-2).
Allah juga memuji orang-orang yang mampu mempertahankan karakter positif dalam berbagai kondisi: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orangorang yang mendirikan shalat, yang mereka itu tetap mendirikan shalatnya”.  (QS. Al-Ma’arij: 19-23).
Sebaliknya, terdapat muslim mengerjakan shalat namun tidak memenuhi kriteria shalat yang mencegah dari perbuatan fahsya dan mungkar dan belum mampu mengubah karakter negatif menjadi karakter positif, maka kelompok ini termasuk kelompok yang celaka dan yang dicela oleh Allah dan Rasulullah.
Firman Allah: “Maka kecelakaanlah bagi orangorang yang shalat, orangorang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan melarang melakukan sesuatu yang berguna”.  (QS. Al-Ma’un: 4-7).
Allah mencela orang yang lalai dari shalatnya. Mereka melaksanakan shalat melakukan gerakan demi gerakan, tetapi tidak berpengaruh dan berbekas dalam perilakunya. Hatinya kosong, tidak meng¬hayati apa yang diucapkan dan apa makna yang terkandung dari gerakannya itu. Ia memang ruku’, tetapi masih lebih taat kepada perintah manusia dan ata¬sannya yang melanggar aturan dari pada perintah Allah; ia bertakbir dan sujud tetapi hatinya masih menyimpan rasa sombong/takabur; ia sama kedudukannya dengan makmum lain ketika shalat, tetapi di luar shalat masih menilai manusia dengan hanya melihat pangkat, jabatan dan harta, padahal harta, pangkat dan jabatan itu hanyalah amanah Allah yang sangat singkat dan kapan saja akan diambil kembali; ia mengu¬capkan salam tetapi sifat dendam dan permusuhan tetap dipeliharanya. Tegasnya, ia melaksanakan shalat, tetapi perilakunya menampilkan sikap seperti orang yang tidak pernah shalat, masih gemar bermaksiat, ko¬rupsi, manipulasi, menggunjing, hingga menindas antar sesama justru menjadi bagian dari gaya hidup. Padahal inti tujuan shalat mengajarkan dan membentuk perilaku positif dalam setiap aktivitasnya.
Dalam hadist shahih, Abu Hurairah berkata: seorang mengatakan kepada Rasulullah, wahai Rasulullah, sesungguhnya seorang perempuan disebutkan banyak mengerjakan ibadah shalat, puasa dan shadaqah, akan tetapi ia sering menyakiti tetangganya dengan perkataannya. Rasulullah bersabda: “ia tempatnya di neraka”. Lalu orang tersebut melanjutkan, wahai Rasulullah, sesungguhnya seorang perempuan disebutkan sedikit mengerjakan ibadah shalat, puasa (mengerjakan yang wajib dan sedikit yang sunnah), dan bershadaqah hanya dengan sesuatu yang sangat murah, hanya sepotong keju yang dikeringkan, tetapi ia tidak menyakiti tetangganya dengan perkataannya. Rasulullah bersabda: “ia tempatnya di syurga”. (HR. Ahmad, Hasan).
Bila seorang muslim mengerjakan Shalat, lalu dia juga melakukan keji dan mungkar, maka dia telah mencampurkan amal shalih dengan keburukan,  jika dosanya lebih banyak daripada pahalanya, maka dia akan mendapatkan penyesalan pada hari kiamat, apabila dia tidak mendapatkan rahmat dan ampunan Allah.
Perlu digarisbawahi, bahwa maksiat yang dilakukan oleh seseorang tidak boleh dijadikan sebagai alasan untuk meninggalkan shalat 5 waktu, apapun maksiat yang dilakukan. Dia harus tetap shalat dan tidak boleh meninggalkannya hanya karena dia melakukan maksiat, semoga shalatnya mencegahnya dari melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Al Baidhawi berkata: “Shalatnya akan menjadi sebab untuk menghentikan maksiat-maksiat, ketika dia sibuk dengan shalatnya atau sibuk dengan selainnya dari amalan yang mengingatkan kepada Allah dan mewariskan kepada dirinya perasaan takut kepada-Nya. (Tafsir Al Baidhawi: 4/196).
Keberhasilan muslim melakukan shalat yang mencegah perbuatan keji dan mungkar serta membentuk karakter positif erat kaitannya dengan nilai ketaqwaan dan terorbitnya muslim yang melaksanakan agama secara kaffah, firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya (kaffah), dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al Baqarah: 208).