Tolong Menolong Karakteristik Orang Aceh

Pengungsi Rohingya di Aceh telahakan masyarakat Aceh ini mendapat pujian dan sorotan dari nasional maupun media asing. Orang A mendapatkan berbagai macam bantuan dari banyak pihak. Terutama dari masyarakat Aceh. Kekompceh merasa sangat tersentuh untuk menolong sesama muslim. Apalagi menolong mereka yang kesusahan.
Wakil Ketua Majilis Adat Aceh (MAA) Drs Tgk H Abdurrahman Kaoy menjelaskan, sikap masyarakat Aceh itu merupakan adat-istiadat yang sudah ada semenjak dulu. Katanya, orang Aceh tidak memandang bulu jika ingin menolong orang lain. Sekalipun orang yang ditolong berasal dari kalangan non muslim. Asalkan non muslim itu tidak memiliki niat jahat.
“Orang Aceh sangat  sangat teguh berpegang pada dinul Islam. Islam di Aceh sudah sangat berakar,”ucapnya saat dijumpai Gema Baiturrahman beberapa waktu lalu.
Dijelaskan, kesatuan dan persatuan orang Aceh merupakan sepenggal cerminan kehidupan saat masa kegemilangan Aceh dulu. Dulu persatuan masyarakatnya lebih kuat dibandingkan sekarang. Karena pemimpin-pemimpin terdahulu bijaksana dan ahli strategi.
Budaya Aceh yang paling kental lainnya adalah mengajak orang lain saat waktu makan tiba. Serta sangat menjaga harkat dan martabatnya. Masyarakat Aceh dipenuhi dengan rasa kasih sayang. Tetapi, jika harkat dan martabatnya diganggu, makamereka akan sangat membenci si penganggu. Kebencian itu berlanjut hingga kepada anak cucunya.
Meski demikian, masyarakat Aceh masih kurang saling mempercayai. Hal ini disebabkan ulah Belanda saat memerangi Aceh. Saat itu, Van Sweaten, Panglima Besar Angkatan Perang Belanda di Aceh, berhasil menebarkan fitnah antara pemimpin-pemimpin di Aceh. Fitnah juga disebarkan oleh Christian Snock Hugronje. Orinetalis dari Belanda yang sangat jeli mempelajari adat budaya Aceh.
Abdurrahman menambahkan, akibat ulah mereka, hingga kini orang Aceh masih sering menyalahi. Cara mempersatukannya yakni menentukan tujuan pembangunan Aceh. “Mewujudkan masyarakat yang taqwa, adil, makmur sejahtera. Aman, damai, bahagia. Bermartabat, terhormat, mulia,”tegasnya.
Presiden Mahasiswa Malaysia di Aceh Amir Ibnu Ahmad menjelaskan, karakteristik budaya Aceh memiliki beberapa kemiripan dengan budaya Malaysia. Misalnya sama-sama ramah. “Tapi lebih ramah lagi rakyat Aceh,”ujar mahasiswa di Fakultas Ushuluddin Ar-Raniry ini.
Menurutnya, masyarakat Aceh lebih mudah bergaul. Tidak segan-segan untuk menegur orang lain. Walaupun belum terlalu dikenal. Sayangnya, masyarakat Aceh lebih mudah terbawa arus budaya luar. Tergantung budayabudaya yang paling berkembang.
Selain itu ia menilai bahwa orang Aceh mudah menolong. Apalagi sesama muslim. Misalnya dalam membantu pengungsi Rohingya. ia mengatakan, ketika pergi ke tempat pengungsi, ia melihat masyarakat Aceh di sana menangis menyaksikan kondisi Rohingya. “Mereka terkenang tsunami. Mungkin saat mereka kena tsunami, mereka juga kelaparan,”ujarnya.
Dari segi kelimuan tentang Islam, tambah Amir, dari anak kecil hingga dewasa sedikit banyaknya mengetahui ajaran Islam. Berbeda dengan Malaysia. Kendatipun Negara Islam, tetapi pahamnya lebih kepada sekuler. “Itu yang ada pada Aceh, tidak ada pada Malaysia,”pungkasnya.
Tujuan Amir menempuh pendidikan adalah untuk mempelajari agama Islam. Dikatakan, untuk menemukan pengajian agama di Aceh sangat mudah. Sama sekali tidak susah untuk ikut pengajian itu. Sedangkan di Malaysia sulit menemukannya. Jika ada, jarak tempuh ke pengajiannya jauh. (Zulfurqan)