Mencintai Rasulullah SAW

Oleh Prof. Dr. H. Zainal Abidin Alawy, MA
Dari Anas bin Malik ra dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Belum beriman seseorang diantara kalian, sehingga dia lebih mencintai kepada Nabi SAW dari pada orang tuanya dan anaknya serta manusia sekalian.” (HR Al-Bukhary)
Rasulullah SAW diberi tugas untuk mengubah kemusyrikan yang melanda bangsa Arab pada khususnya dan umat manusia pada umumnya, dimana mereka telah menyembah patung, berhala dan menyembah api, dengan berkepercayaan polytheisme, animisme, dynamisme dan bahkan komunisme. Itu semua harus diubah ke monotheisme, menyembah Allah Yang Maha Esa, Rabb pencipta alam semesta dengan qudrah dan iradahNya.
Muhammad SAW menjalankan dakwah dan risalahnya, dengan ajaran yang dibawanya menjadi rahmat untuk seluruh alam. Kegiatan dakwah dan kerasulannya selama lebih kurang dua puluh tiga tahun, telah melakukan revolusi besar agama yang luar biasa, yang mengubah manusia dari alam kejahiliyan ke dunia yang berperadaban. Sebelumnya, mereka berada dalam kesesatan, permusuhan, kesewenangan, peperangan diantara kelompok dan kabilah diubah menjadi manusia yang berilmu pengetahuan, penuh dengan kedamaian, persaudaraan, penuh ketertiban dan keamanan.
Muhammad SAW, rasul Allah yang sukses sebagai pemimpin ummat, panglima yang ulung, yang mampu menata kehidupan pemerintahan, mampu mensinergikan kehidupan dunia dan akhirat, menjadi qudwatun hasanah yang diakui oleh siapapun; oleh mereka yang mampu berpikir jernih dan menilainya dengan jujur.
Oleh karena itu, sepantasnyalah ummat Islam pada khususnya dan manusia yang beradab pada umumnya, mencintai Nabi Muhammad SAW, memuliakannya dan menghargai sepak terjangnya, melebihi dari mencintai orang tuanya sendiri, anakanaknya sendiri dan bahkan manusia seluruhnya.
Cara mencintainya
Pertama, untuk menunjukkan kecintaan kepadanya, maka haruslah mempelajari semua sunnahnya, baik sunnah fi’liyahnya, sunnah quliyahnya dan sunnah taqririyahnya. Dalam hal ini, haruslah memahami ilmuilmu yang berkaitan dengan sunnah beliau, berupa ilmu mushtlalul hadits, ilmu asbabi wurudil hadits, ilmu aljarhi wa at-ta’dil, ilmu gharibil hadits, ilmu mukhtaliful hadits, ilmu thabaqaratur rawi, ilmu rijalil hadits, ilmu mutunul hadits, ilmu syrhil hadits, sejarah muhadditsin, pengumpulan hadits, kitabkitab hadits, hubungan antara hadits dengan Al-Quran, serta kitab-kitab hadits yang perna ditulis dan dibukukan serta pandangan para orientalisten terhadap hadits itu.
Kedua, mematuhi dan mentaati perintah dan suruhan yang telah ditetapkannya, serta menjauhi segalah bentuk larangannya, dengan mempercayai kebenaran ucapan, perbuatan serta taqrirnya.
 
Ketiga, memperbanyak shalawat dan salam kepadanya, serta sahabat dan al-nya. Ini dapat dilakukan disetiap saat dan waktu, terutama setiap selesai shalat dan saat berdoa, lebih-lebih lagi di malam dan siang hari Jum’at.
Keempat, memuliakannya dan menghormatinya serta membela kebenaran kenabiannya dan berusaha untuk tidak merendahkannya, serta mencegah pihak yang berkeinginan merendahkan kedudukan sebagai Rasul Allah.
Kelima, mendahulukan mengikuti semua bentuk sunnahnya dari pada berpegang pada pendapat pihak lain, karena segalah yang datang dari sunnahnya itu adalah menafsirkan ayat-ayat  Al-Quran yang mubham, mentafshilkan ayat yang mujmal, mentakhshikan ayat yang am’, mentaqyidkan ayat-ayat yang muyhlaq dan mentasyri’kan hal-hal yang tidak dijelaskan oleh Al-Quran, seperti kewajiban zakat.